POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Papua Yang Luka dan Melahirkan Puisi

RedaksiOleh Redaksi
May 20, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Untuk Ester Haluk

Oleh Denny JA

“Robek nuraninya dengan penamu,
bagi dukamu dengan untaian kata,
karena kata adalah senjata terakhirmu.”

— Ester Haluk

Di Papua, peluru kadang meluncur lebih cepat daripada keadilan. Tapi kata-kata, seperti yang ditulis Ester Haluk, melaju lebih jauh daripada peluru itu sendiri.

Esther Haluk bukan hanya meratap, tapi melawan. Melalui puisi, ia mengajak rakyatnya untuk mengambil kembali ruang yang dirampas. Bukan dengan amarah membabi buta, tapi dengan pena yang tajam dan hati yang jernih.

Puisi Ester bukan dari renungan di menara gading. Ia anak kandung jiwa yang sedang terkepung oleh pengalaman derita.

Kalimat “robek nuraninya dengan penamu” adalah seruan untuk mengoyak diam yang selama ini menjadi warisan paksa.

“Bagi dukamu dengan untaian kata” menjadi ajakan membuka luka bersama, agar menjadi kekuatan kolektif.

Dan “kata adalah senjata terakhirmu” itu peringatan bahwa ketika seluruh ruang sudah dibungkam, hanya puisi yang masih bisa berteriak.

-000-

Papua itu tanah yang diberkahi alam, tapi dikutuk oleh sistem. Dalam istilah Richard Auty: Resources Curse. Sebuah tanah kaya yang justru memiskinkan anak-anaknya.

Data tak bisa dibantah: 1.900 ton emas dan tembaga, senilai 2.200 triliun rupiah, sudah digali dari bumi Papua. Namun, provinsi Papua termiskin dari seluruh provinsi Indonesia.

Diukur dari versi BPS, garis kemiskinan Indonesia hanya Rp 630.000 per bulan. Itu sekitar 34% dari standar Bank Dunia, kemiskinan di daerah pegunungan Papua di atas 25 persen. (1)

Rakyat Papua pun hidup dalam kesenjangan: harapan hidup lebih rendah, angka pendidikan lebih buruk, dan pelayanan publik jauh dari layak. Ini bukan hanya kegagalan ekonomi, tapi juga kegagalan moral.

Namun, justru dari tanah derita inilah, lahir suara-suara yang menggetarkan. Ester Haluk tak sendiri. Sejarah telah mencatat: di tengah luka, seni seringkali menjadi pelita.

Di Amerika Serikat, di era ketika diskriminasi rasial atas kulit hitam menyala di tahun 196”-an, Langston Hughes menulis:

“Akulah si Negro yang memanggul bekas luka perbudakan.”

Puisinya menjadi nyala bagi Martin Luther King.

📚 Artikel Terkait

Festival Panen Kopi Bener Meriah 2018

Menguak Fakta Keren Hidup Sehat Rasulullah

Senerai Puisi Savitri Jumiati

Bertanya POTRET Pada Mesin Pencari, Bing

Di Palestina, yang penduduknya terjajah, Mahmoud Darwish menulis:

“Kalau aku lapar,
daging penindasku akan jadi makananku…
Hati-hatilah dengan lapar dan marahku.”

Puisinya menjadi mimbar bagi bangsa yang terjajah.

Di Chili, di era represi militer, Pablo Neruda menyerukan:

“Bangkitlah, lahir bersamaku, saudaraku…”

Puisinya menjadi pengikat rakyat dalam perjuangan.

Dan kini, di Papua, Ester Haluk berdiri dalam barisan itu.

-000-

Mengapa di wilayah yang penuh luka dan derita, lahir puisi protes yang mendalam?

Ada tiga alasan abadi:

1.  Karena luka membuat kata lebih jujur.

Derita menanggalkan kepura-puraan. Dari dasar luka, lahir kejujuran yang tak bisa dibeli.

2.  Karena duka mengasah batin.

Penderitaan memperdalam empati dan intuisi. Kata yang lahir dari batin yang terasah mampu menembus dinding-dinding apatis.

3.  Karena keputusasaan butuh harapan.

Ketika tidak ada lagi yang bisa dipegang, puisi menjadi sandaran terakhir. Ia adalah lentera yang menyala dalam gelap.

Itulah mengapa Denny JA Foundation, melalui program dana abadi 50 tahun ke depan, memilih Ester Haluk sebagai penerima kategori Fiksi. Ester Haluk mendapatkan Dermakata Award 2024.

Ia tak sekadar menulis. Ia menulis untuk mengguncang.
Ia tak sekadar bersuara. Ia membuat gema.

Ester Haluk bukan hanya perempuan Papua,
tapi wajah dari sebuah tanah yang menolak dikubur dalam diam.

-000-

Ester Haluk mengingatkan kita bahwa kata bukanlah pelarian. Ia adalah perlawanan. Ketika sejarah ditulis oleh penguasa, puisi seperti milik Ester menjadi kontra-narasi yang hidup.

Di tanah yang diberkati emas,
namun anak-anaknya kelaparan,
di tanah yang penuh tambang,
tapi rakyatnya ditambang air matanya,
puisi menjadi senjata terakhir.

Dan Ester Haluk,
adalah pejuang yang memilih pena,
bukan karena ia lemah,
tapi karena ia tahu:
“kata adalah senjata terakhirmu.”***

Jakarta 20 Mei 2025

CATATAN

(1) Kemiskinan di pengunungan Papua di atas 25 persen

https://papua.bps.go.id/id/pressrelease/2024/07/01/1016/profil-kemiskinan-provinsi-papua-pegunungan–maret-2024.html?utm_source=chatgpt.com

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1E8xVY4SeL/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

AI: Inovasi yang Menantang Hakikat Pemikiran Kritis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00