• Latest
Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan

Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan

Mei 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Mei 19, 2025
Reading Time: 3 mins read
Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Di sebuah sudut warung gorengan, tangan penjual dengan cekatan membungkus tempe mendoan dan bakwan panas dengan selembar kertas. Tapi itu bukan kertas sembarangan. Ada foto ukuran 3×4 di pojok kiri atas, ada tulisan tebal: “Daftar Riwayat Hidup.” Sebuah CV. Sebuah harapan. Sebuah dokumen yang dahulu diketik dengan cermat dan semangat. Kini, ia telah berubah fungsi menjadi bungkus tahu isi dan risoles. Ironis? Jelas. Tapi juga nyata.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Begitulah nasib banyak surat lamaran kerja dan CV hari ini. Tidak sampai ke tangan HRD, apalagi ke ruang wawancara. Alih-alih dibaca dan dipertimbangkan, mereka justru dijual kiloan ke tukang loak, berakhir sebagai bungkus gorengan. Padahal, setiap lembar itu adalah jeritan tak terdengar dari para sarjana yang sedang berjuang mencari celah di tengah sempitnya dunia kerja.

Kita telah belajar keras. Kita sudah menghafal teori Maslow, menganalisis SWOT, menulis skripsi berjilid-jilid, bahkan mungkin menulis tesis sambil begadang berhari-hari. Di kampus, kita diajarkan untuk berpikir kritis, sistematis, logis, ilmiah. Tapi ternyata, tidak satu pun mata kuliah yang mengajarkan bagaimana caranya menanggung kenyataan: bahwa setelah toga dipakai dan gelar di tangan, justru perang terbesar baru saja dimulai.

Predikat sarjana yang dulu dibanggakan keluarga kini seperti tak bernilai di pasaran. Kita mulai membuat satu demi satu CV dengan harapan sederhana: diterima bekerja, punya penghasilan tetap, dan perlahan bisa balik modal dari biaya kuliah yang telah menguras tabungan keluarga atau bahkan melunasi pinjaman bank. Tapi harapan itu perlahan luntur ketika angka CV yang dikirim berubah dari satuan menjadi puluhan, dari puluhan menjadi ratusan. Dan semua itu nyaris tanpa balasan.

Di Bandung, di Jakarta, di pelosok kota lainnya, pemandangan ini semakin lazim. Bukan karena mereka tidak pintar. Bukan karena mereka kalah bersaing. Tapi karena sistemnya memang tak memberi ruang. Dunia kerja hari ini tidak menunggu lulusan terbaik. Ia hanya membuka pintu bagi mereka yang “beruntung”—yang punya koneksi, atau kebetulan cocok dengan algoritma rekrutmen digital yang tak pernah memberi ruang untuk kata “berproses.”

Dan kalaupun diterima kerja, jangan berharap banyak. Banyak sarjana yang akhirnya menerima pekerjaan dengan gaji dibawah tiga juta. Nilai gaji yang bahkan lebih rendah dari lulusan yang tidak pernah kuliah. Satu-satunya yang membedakan hanyalah gelar di tanda tangan kontrak. Selebihnya, kita semua sama: bekerja keras demi bertahan hidup, bukan demi aktualisasi diri seperti kata teori Maslow.

Satu per satu, sarjana pun menurunkan gengsi. Tidak lagi malu berjualan di TikTok Live, tidak ragu jadi admin online shop, bahkan tidak keberatan menjadi pengemudi ojek. Mereka bukan sedang menyerah. Mereka sedang bertahan. Karena nyatanya ijazah tidak bisa mengisi perut lapar.

Satu hal yang perlu diingat: ini bukan soal gengsi. Ini soal bertahan hidup. Dan mereka yang memilih jalan itu bukan kalah, melainkan realistis. Mereka menyadari bahwa dunia kerja bukanlah panggung apresiasi, melainkan arena kompetisi brutal.

Maka, jika suatu hari Anda membeli gorengan dan mendapati pembungkusnya adalah surat lamaran kerja, mungkin itu milik seseorang yang dulu bermimpi menjadi manajer, analis keuangan, atau bahkan ilmuwan. Sekarang, dia mungkin sedang menjajakan dagangan di pinggir jalan atau membawa penumpang dari aplikasi ponsel. Bukan karena dia tak punya impian, tapi ia harus berdamai dengan kenyataan yang lebih keras, yaitu tentang bertahan hidup.

Bukan, ini bukan cerita tentang kegagalan. Ini adalah kisah para pejuang lamaran, Yang terus bangkit mengorek peluang, meski harapannya sudah digoreng berkali-kali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com