POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 19, 2025
Ketika CV Sarjana Berakhir Menjadi Bungkusan Gorengan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Di sebuah sudut warung gorengan, tangan penjual dengan cekatan membungkus tempe mendoan dan bakwan panas dengan selembar kertas. Tapi itu bukan kertas sembarangan. Ada foto ukuran 3×4 di pojok kiri atas, ada tulisan tebal: “Daftar Riwayat Hidup.” Sebuah CV. Sebuah harapan. Sebuah dokumen yang dahulu diketik dengan cermat dan semangat. Kini, ia telah berubah fungsi menjadi bungkus tahu isi dan risoles. Ironis? Jelas. Tapi juga nyata.

Begitulah nasib banyak surat lamaran kerja dan CV hari ini. Tidak sampai ke tangan HRD, apalagi ke ruang wawancara. Alih-alih dibaca dan dipertimbangkan, mereka justru dijual kiloan ke tukang loak, berakhir sebagai bungkus gorengan. Padahal, setiap lembar itu adalah jeritan tak terdengar dari para sarjana yang sedang berjuang mencari celah di tengah sempitnya dunia kerja.

Kita telah belajar keras. Kita sudah menghafal teori Maslow, menganalisis SWOT, menulis skripsi berjilid-jilid, bahkan mungkin menulis tesis sambil begadang berhari-hari. Di kampus, kita diajarkan untuk berpikir kritis, sistematis, logis, ilmiah. Tapi ternyata, tidak satu pun mata kuliah yang mengajarkan bagaimana caranya menanggung kenyataan: bahwa setelah toga dipakai dan gelar di tangan, justru perang terbesar baru saja dimulai.

Predikat sarjana yang dulu dibanggakan keluarga kini seperti tak bernilai di pasaran. Kita mulai membuat satu demi satu CV dengan harapan sederhana: diterima bekerja, punya penghasilan tetap, dan perlahan bisa balik modal dari biaya kuliah yang telah menguras tabungan keluarga atau bahkan melunasi pinjaman bank. Tapi harapan itu perlahan luntur ketika angka CV yang dikirim berubah dari satuan menjadi puluhan, dari puluhan menjadi ratusan. Dan semua itu nyaris tanpa balasan.

📚 Artikel Terkait

Transformasi Ketenagakerjaan: Otomatisasi sebagai Katalis Perubahan

“Aceh dan Lompatan Peradaban: Merumuskan Ketahanan Bencana Berbasis Adat, Ekologi, dan Teknologi Abad 21”

Korupsi Layak Masuk Olimpiade

Tiga “Wahyu” dari Menkes untuk Umat Negeri Ini

Di Bandung, di Jakarta, di pelosok kota lainnya, pemandangan ini semakin lazim. Bukan karena mereka tidak pintar. Bukan karena mereka kalah bersaing. Tapi karena sistemnya memang tak memberi ruang. Dunia kerja hari ini tidak menunggu lulusan terbaik. Ia hanya membuka pintu bagi mereka yang “beruntung”—yang punya koneksi, atau kebetulan cocok dengan algoritma rekrutmen digital yang tak pernah memberi ruang untuk kata “berproses.”

Dan kalaupun diterima kerja, jangan berharap banyak. Banyak sarjana yang akhirnya menerima pekerjaan dengan gaji dibawah tiga juta. Nilai gaji yang bahkan lebih rendah dari lulusan yang tidak pernah kuliah. Satu-satunya yang membedakan hanyalah gelar di tanda tangan kontrak. Selebihnya, kita semua sama: bekerja keras demi bertahan hidup, bukan demi aktualisasi diri seperti kata teori Maslow.

Satu per satu, sarjana pun menurunkan gengsi. Tidak lagi malu berjualan di TikTok Live, tidak ragu jadi admin online shop, bahkan tidak keberatan menjadi pengemudi ojek. Mereka bukan sedang menyerah. Mereka sedang bertahan. Karena nyatanya ijazah tidak bisa mengisi perut lapar.

Satu hal yang perlu diingat: ini bukan soal gengsi. Ini soal bertahan hidup. Dan mereka yang memilih jalan itu bukan kalah, melainkan realistis. Mereka menyadari bahwa dunia kerja bukanlah panggung apresiasi, melainkan arena kompetisi brutal.

Maka, jika suatu hari Anda membeli gorengan dan mendapati pembungkusnya adalah surat lamaran kerja, mungkin itu milik seseorang yang dulu bermimpi menjadi manajer, analis keuangan, atau bahkan ilmuwan. Sekarang, dia mungkin sedang menjajakan dagangan di pinggir jalan atau membawa penumpang dari aplikasi ponsel. Bukan karena dia tak punya impian, tapi ia harus berdamai dengan kenyataan yang lebih keras, yaitu tentang bertahan hidup.

Bukan, ini bukan cerita tentang kegagalan. Ini adalah kisah para pejuang lamaran, Yang terus bangkit mengorek peluang, meski harapannya sudah digoreng berkali-kali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00