POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Otoritarianisme ke Nomokrasi: Bagaimana Suriah Menciptakan Pemerintahan Baru

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
May 18, 2025
Tags: AllepoInternasionalSuriahTimTeng
Jaddaliyya.com

Photo of Aleppo, by Dmitriymoroz from Getty Images Pro

🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si.

Setelah lebih dari satu dekade mengalami konflik berkepanjangan, Suriah kini berada di titik perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, negara tersebut kini menghadapi transisi politik yang penuh tantangan. Di bawah kepemimpinan Ahmed al-Sharaa, Suriah mulai meninggalkan sistem politik lama yang didominasi oleh Partai Ba’ath dan beralih ke suatu model pemerintahan yang bisa dibilang revolusioner: negara tanpa partai politik.

Sejak lama, Suriah berada di bawah kekuasaan Partai Ba’ath yang berfungsi sebagai satu-satunya entitas politik yang diperbolehkan dalam sistem pemerintahan. Partai ini telah mengendalikan struktur politik sejak kudeta militer tahun 1963, dengan sistem yang menolak oposisi dan memusatkan kekuasaan di tangan keluarga Assad. Setelah bertahun-tahun menjadi simbol politik otoriter, pada 29 Januari 2025, Partai Ba’ath resmi dibubarkan oleh pemerintahan baru. Keputusan ini menandai berakhirnya sistem satu partai yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade.

Ahmed al-Sharaa juga mengambil langkah radikal dengan membubarkan parlemen dan militer yang sebelumnya dikontrol oleh pemerintahan Assad. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, karena tidak hanya menghapus struktur politik yang telah lama ada, tetapi juga menghilangkan institusi yang biasanya menjadi tulang punggung sebuah negara. Tidak adanya partai politik dalam pemerintahan baru berarti bahwa Suriah kini menuju bentuk pemerintahan yang tidak berbasis pada kelompok ideologis tertentu, melainkan sepenuhnya pada hukum dan representasi rakyat.

Salah satu aspek utama dari perubahan ini adalah sistem pemilihan yang diterapkan untuk menggantikan demokrasi berbasis partai. Pemerintahan baru berencana menjalankan sistem multi-stage representative election, di mana pemilihan dilakukan secara bertahap dari tingkat dusun, desa, mukim, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga tingkat nasional. Dengan sistem ini, pemimpin dipilih bukan berdasarkan partai atau ideologi, tetapi berdasarkan kompetensi dan kontribusi mereka terhadap masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu menghilangkan polarisasi politik dan memastikan bahwa individu yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat dapat naik ke tingkat pemerintahan lebih tinggi.

Langkah-langkah yang diambil Ahmed al-Sharaa menarik perhatian dunia internasional. Banyak pihak menyambut baik berakhirnya kekuasaan Assad, tetapi mereka masih berhati-hati dalam menerima pemerintahan baru yang dipimpin oleh mantan pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS). HTS adalah kelompok yang sebelumnya berafiliasi dengan Al-Qaeda dan telah lama dianggap sebagai organisasi teroris oleh berbagai negara Barat. Meski HTS kini bertransformasi menjadi pemerintahan, banyak negara masih menunggu untuk melihat apakah Suriah benar-benar akan menjadi negara yang stabil dan terlepas dari pengaruh ekstremisme.

📚 Artikel Terkait

Kegagalan Yang Tidak Menggagalkan

Warung Kopi Sejuta Persepsi

LGBT itu juga Ada di Aceh

Nomocracy in Practice

Di sisi lain, Ahmed al-Sharaa telah melakukan diplomasi aktif untuk membangun hubungan baru. Ia bertemu dengan Presiden AS Donald Trump pada 14 Mei 2025 di Riyadh, membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Suriah yang telah membatasi ekonomi negara tersebut selama bertahun-tahun. Uni Eropa juga menyambut baik transisi politik ini, meskipun mereka tetap berhati-hati dalam berurusan dengan pemerintahan baru. Arab Saudi dan Turki telah menunjukkan minat dalam berinvestasi di Suriah, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur, sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi pasca-konflik.

Dalam negeri, pemerintahan baru berusaha memperbaiki kondisi ekonomi yang telah rusak akibat perang bertahun-tahun. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah rencana peningkatan gaji sebesar 400% untuk membantu meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah juga berusaha membangun kembali rumah-rumah yang hancur akibat perang dan menciptakan lingkungan yang aman bagi kembalinya para pengungsi Suriah yang tersebar di berbagai negara.

Selain pemulihan ekonomi, Ahmed al-Sharaa juga menekankan reformasi dalam sektor keamanan. Pemerintahannya mengumumkan bahwa semua faksi militer akan dibubarkan, dan tidak akan ada senjata kecuali di tangan negara. Kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan kekuatan-kekuatan bersenjata yang selama ini menjadi penyebab utama ketidakstabilan di Suriah. Pemerintah juga menghapus sistem wajib militer kecuali dalam beberapa spesialisasi tertentu, yang diharapkan dapat mengurangi ketegangan yang selama ini terjadi dalam masyarakat.

Perubahan yang sedang terjadi di Suriah menimbulkan berbagai perdebatan tentang efektivitas pemerintahan tanpa partai politik. Beberapa ahli politik menyatakan bahwa sistem ini dapat meningkatkan akuntabilitas dan profesionalisme dalam pemerintahan, karena individu dipilih berdasarkan kapasitas mereka untuk memimpin, bukan karena afiliasi politik. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa tanpa partai politik, mekanisme oposisi menjadi lemah, sehingga pemerintah bisa beroperasi tanpa pengawasan yang efektif.

Tantangan lain yang dihadapi oleh pemerintahan baru adalah bagaimana mereka memastikan bahwa pemilihan dalam sistem multi-stage representative election tetap transparan dan bebas dari manipulasi. Dalam sistem ini, kandidat yang terpilih di tingkat lokal akan maju ke tingkat yang lebih tinggi berdasarkan seleksi atau pemilihan. Jika tidak ada pengawasan yang memadai, sistem ini bisa saja dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Oleh karena itu, pemerintahan Ahmed al-Sharaa harus memastikan bahwa ada mekanisme pengawasan independen yang menjamin transparansi dan keadilan dalam setiap tahap pemilihan.

Suriah kini berada dalam fase eksperimental politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika pemerintahan tanpa partai ini berhasil diterapkan, itu bisa menjadi model baru bagi negara-negara lain yang ingin menghindari konflik politik yang berasal dari persaingan partai. Namun, jika sistem ini gagal, Suriah bisa menghadapi ketidakstabilan baru yang berpotensi memperpanjang krisis yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Dunia kini menunggu bagaimana Suriah akan berkembang di bawah sistem baru ini. Apakah transisi ini akan menghasilkan pemerintahan yang lebih stabil dan demokratis, ataukah Suriah akan menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks? Jawaban dari pertanyaan ini akan bergantung pada bagaimana pemerintahan Ahmed al-Sharaa mengelola transisi dan membangun fondasi pemerintahan yang benar-benar melayani rakyatnya tanpa ketergantungan pada sistem partai politik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: AllepoInternasionalSuriahTimTeng
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kini Senja Berusaha Menikmati Mentari

Kini Senja Berusaha Menikmati Mentari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00