• Latest
Jaddaliyya.com

Dari Otoritarianisme ke Nomokrasi: Bagaimana Suriah Menciptakan Pemerintahan Baru

Mei 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dari Otoritarianisme ke Nomokrasi: Bagaimana Suriah Menciptakan Pemerintahan Baru

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Siby Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Mei 18, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: AllepoInternasionalSuriahTimTeng
Jaddaliyya.com

Photo of Aleppo, by Dmitriymoroz from Getty Images Pro

590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si.

Setelah lebih dari satu dekade mengalami konflik berkepanjangan, Suriah kini berada di titik perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, negara tersebut kini menghadapi transisi politik yang penuh tantangan. Di bawah kepemimpinan Ahmed al-Sharaa, Suriah mulai meninggalkan sistem politik lama yang didominasi oleh Partai Ba’ath dan beralih ke suatu model pemerintahan yang bisa dibilang revolusioner: negara tanpa partai politik.

Sejak lama, Suriah berada di bawah kekuasaan Partai Ba’ath yang berfungsi sebagai satu-satunya entitas politik yang diperbolehkan dalam sistem pemerintahan. Partai ini telah mengendalikan struktur politik sejak kudeta militer tahun 1963, dengan sistem yang menolak oposisi dan memusatkan kekuasaan di tangan keluarga Assad. Setelah bertahun-tahun menjadi simbol politik otoriter, pada 29 Januari 2025, Partai Ba’ath resmi dibubarkan oleh pemerintahan baru. Keputusan ini menandai berakhirnya sistem satu partai yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade.

Ahmed al-Sharaa juga mengambil langkah radikal dengan membubarkan parlemen dan militer yang sebelumnya dikontrol oleh pemerintahan Assad. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, karena tidak hanya menghapus struktur politik yang telah lama ada, tetapi juga menghilangkan institusi yang biasanya menjadi tulang punggung sebuah negara. Tidak adanya partai politik dalam pemerintahan baru berarti bahwa Suriah kini menuju bentuk pemerintahan yang tidak berbasis pada kelompok ideologis tertentu, melainkan sepenuhnya pada hukum dan representasi rakyat.

Salah satu aspek utama dari perubahan ini adalah sistem pemilihan yang diterapkan untuk menggantikan demokrasi berbasis partai. Pemerintahan baru berencana menjalankan sistem multi-stage representative election, di mana pemilihan dilakukan secara bertahap dari tingkat dusun, desa, mukim, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga tingkat nasional. Dengan sistem ini, pemimpin dipilih bukan berdasarkan partai atau ideologi, tetapi berdasarkan kompetensi dan kontribusi mereka terhadap masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu menghilangkan polarisasi politik dan memastikan bahwa individu yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat dapat naik ke tingkat pemerintahan lebih tinggi.

Langkah-langkah yang diambil Ahmed al-Sharaa menarik perhatian dunia internasional. Banyak pihak menyambut baik berakhirnya kekuasaan Assad, tetapi mereka masih berhati-hati dalam menerima pemerintahan baru yang dipimpin oleh mantan pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS). HTS adalah kelompok yang sebelumnya berafiliasi dengan Al-Qaeda dan telah lama dianggap sebagai organisasi teroris oleh berbagai negara Barat. Meski HTS kini bertransformasi menjadi pemerintahan, banyak negara masih menunggu untuk melihat apakah Suriah benar-benar akan menjadi negara yang stabil dan terlepas dari pengaruh ekstremisme.

Di sisi lain, Ahmed al-Sharaa telah melakukan diplomasi aktif untuk membangun hubungan baru. Ia bertemu dengan Presiden AS Donald Trump pada 14 Mei 2025 di Riyadh, membahas kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Suriah yang telah membatasi ekonomi negara tersebut selama bertahun-tahun. Uni Eropa juga menyambut baik transisi politik ini, meskipun mereka tetap berhati-hati dalam berurusan dengan pemerintahan baru. Arab Saudi dan Turki telah menunjukkan minat dalam berinvestasi di Suriah, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur, sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi pasca-konflik.

Dalam negeri, pemerintahan baru berusaha memperbaiki kondisi ekonomi yang telah rusak akibat perang bertahun-tahun. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah rencana peningkatan gaji sebesar 400% untuk membantu meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah juga berusaha membangun kembali rumah-rumah yang hancur akibat perang dan menciptakan lingkungan yang aman bagi kembalinya para pengungsi Suriah yang tersebar di berbagai negara.

Selain pemulihan ekonomi, Ahmed al-Sharaa juga menekankan reformasi dalam sektor keamanan. Pemerintahannya mengumumkan bahwa semua faksi militer akan dibubarkan, dan tidak akan ada senjata kecuali di tangan negara. Kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan kekuatan-kekuatan bersenjata yang selama ini menjadi penyebab utama ketidakstabilan di Suriah. Pemerintah juga menghapus sistem wajib militer kecuali dalam beberapa spesialisasi tertentu, yang diharapkan dapat mengurangi ketegangan yang selama ini terjadi dalam masyarakat.

Perubahan yang sedang terjadi di Suriah menimbulkan berbagai perdebatan tentang efektivitas pemerintahan tanpa partai politik. Beberapa ahli politik menyatakan bahwa sistem ini dapat meningkatkan akuntabilitas dan profesionalisme dalam pemerintahan, karena individu dipilih berdasarkan kapasitas mereka untuk memimpin, bukan karena afiliasi politik. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa tanpa partai politik, mekanisme oposisi menjadi lemah, sehingga pemerintah bisa beroperasi tanpa pengawasan yang efektif.

Baca Juga

Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

Tantangan lain yang dihadapi oleh pemerintahan baru adalah bagaimana mereka memastikan bahwa pemilihan dalam sistem multi-stage representative election tetap transparan dan bebas dari manipulasi. Dalam sistem ini, kandidat yang terpilih di tingkat lokal akan maju ke tingkat yang lebih tinggi berdasarkan seleksi atau pemilihan. Jika tidak ada pengawasan yang memadai, sistem ini bisa saja dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Oleh karena itu, pemerintahan Ahmed al-Sharaa harus memastikan bahwa ada mekanisme pengawasan independen yang menjamin transparansi dan keadilan dalam setiap tahap pemilihan.

Suriah kini berada dalam fase eksperimental politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika pemerintahan tanpa partai ini berhasil diterapkan, itu bisa menjadi model baru bagi negara-negara lain yang ingin menghindari konflik politik yang berasal dari persaingan partai. Namun, jika sistem ini gagal, Suriah bisa menghadapi ketidakstabilan baru yang berpotensi memperpanjang krisis yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

ADVERTISEMENT

Dunia kini menunggu bagaimana Suriah akan berkembang di bawah sistem baru ini. Apakah transisi ini akan menghasilkan pemerintahan yang lebih stabil dan demokratis, ataukah Suriah akan menghadapi tantangan baru yang lebih kompleks? Jawaban dari pertanyaan ini akan bergantung pada bagaimana pemerintahan Ahmed al-Sharaa mengelola transisi dan membangun fondasi pemerintahan yang benar-benar melayani rakyatnya tanpa ketergantungan pada sistem partai politik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kini Senja Berusaha Menikmati Mentari

Kini Senja Berusaha Menikmati Mentari

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com