POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Olimpiade Ijazah

Dahlan IskanOleh Dahlan Iskan
May 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Dahlan Iskan

Kamis 15-05-2025

Sambil menyesali diri kenapa ikut-ikutan membahas Ijazah Jokowi, saya menulis bagaimana rasanya mencoba menjadi orang Beijing. Ikut kehidupan sehari-hari sini: di hari Minggu lalu.

“Kuat?”

“Kuat”.

“Ikut yang 10 km atau 5 km?”

“Yang 5 km”.

“Yang lari atau jalan cepat?”

Saya berpikir sejenak. Memang, tahun lalu saya masih berani ikut lari Green Force Run 5 km. Lari konstan. Tidak pernah berhenti. Lulus. Dapat medali. Artinya: masuk golongan yang finis dalam waktu kurang satu jam.

“Ikut jalan cepat saja,” jawab saya. Udara di Beijing mulai panas: 28 derajat. Kering. Bibir ikut kering.

Acara itu dilaksanakan oleh alumnus universitas terkemuka bidang kelistrikan. Lokasi acaranya di hutan kota Beijing. Yakni di sebelah arena Olimpiade Beijing 2008.

Saya boleh ikut meski saya tidak punya ijazah universitas. Diberi seragam lari secara gratis. Saya serasa lulus jurusan listrik dari universitas ternama itu.

Saya pun menuju kawasan bekas arena Olimpiade Beijing. Di sebagian kawasan itu kini sudah dibangun gedung-gedung baru: kantor pusat Bank Pembangunan Infrastruktur Asia. Yakni bank baru yang dibangun setelah diluncurkannya One Belt and Road (OBOR) oleh Tiongkok.

📚 Artikel Terkait

Di Balik Jubah Hukum

Smart boys

Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan

“Puisi Pagi Ini” Karya D. Zawawi Imron: Refleksi Sosial dan Kemanusiaan

Di sebelahnya lagi sudah selesai dibangun gedung National Convention Center yang besarnya bisa untuk KTT negara-negara anggota OBOR.

Saya punya teman alumnus universitas tersebut. Saya pernah ke kampusnya di kota Baoding, dekat rencana kota baru bawah tanah di luar kota Beijing.

Kami parkir di belakang convention center. Perlu jalan kaki agak jauh. Harus melewati jalan di antara gedung baru ”bank OBOR” dan National Convention Center.

Begitu mendongak yang terlihat bukan hanya puncak dua gedung itu, tapi juga cantiknya menara obor Olimpiade. Tinggi sekali. Dari atasnya bisa melihat kota Beijing.

Di sekitar menara obor itu dibangun taman pepohonan yang luas. Seluas seluruh taman Monas Jakarta. Pohonnya lebih banyak. Kami menelusuri jalan-jalan yang banyak bersilangan di dalam pepohonan.

Kami tadi memang masuk dari samping. Bukan dari depan. Dari samping menuju gerbang depan. Banyak sekali pengunjung kawasan bekas Olimpiade ini. Gratis. Rekreasi, jalan pagi, jogging, berbagai lomba dan adu lari.

Acara yang saya ikuti itu di depan gerbang kompleks Olimpiade. Di depan gerbang Olimpiade juga taman. Danau. Jalur jogging. Taman Olimpiade bersanding dengan taman kota. Bukan sekadar taman kota, tapi sudah bisa disebut hutan kota.

Rute 10 dan 5 km itu tak lain berada di dalam hutan kota itu. Hebat. Di kota besar Beijing ada hutan besar seluas ini.

Disebut hutan kota karena letaknya memang di kota. Juga karena siapa pun boleh memasukinya: gratis. Yang mau lari 1 km ada jalurnya. Yang 2 km ada jalannya. Sampai yang 10 km. Tinggal atur mau ikut rute yang mana. Asyik sekali olahraga jalan kaki di bawah pohon-pohon di dalam hutan.

Saya menyesal tidak ikut yang 10 km. Udara kering ternyata tidak menghambat. Saya termasuk finis di gelombang pertama. Lalu bisa ngobrol dengan peserta lain. Saya diperkenalkan dengan beberapa alumnus yang sudah jadi pejabat tinggi. Ada yang baru saja pensiun sebagai menteri energi.

Sudah 20 tahun Olimpiade Beijing berlalu. Tidak ada fasilitas yang telantar. Kawasan ini menjadi fasilitas kota yang berharga. Menjadi taman keluarga penduduk Beijing.

Di tengah hutan itu begitu banyak keluarga yang menggelar “tikar”. Makan-makan. Membiarkan anak mereka bermain dengan anak keluarga lainnya. Tidak terlihat ada yang memproduksi sampah.

Saya juga tidak perlu lagi cek kesehatan di kota Tianjin. Saya sudah punya jalur untuk melakukan itu di Beijing. Beberapa dokter yang dulu merawat saya sudah pindah ke rumah sakit di Beijing ini.

Karena itu meski saya “ngamar” di Beijing serasa di Tianjin. Rumah sakit ini juga punya gedung khusus untuk transplant hati. Suasananya mirip di RS Tianjin yang melakukan transplant hati saya 18 tahun lalu.

Beijing-Tianjin, naik kereta cepat, hanya 29 menit. Mirip Jakarta-Bandung. Tapi dengan bisa check-up di Beijing rasanya lebih dekat.

Tanpa ikut mikir ijazah rasanya hasil check-up akan lebih baik.(Dahlan Iskan)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bridging Civilizations: My Academic Journey from Aceh to IIUM

Bridging Civilizations: My Academic Journey from Aceh to IIUM

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00