Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Di saat aku sedang enak-enaknya berbaring di atas kasur dan ditemani oleh alunan musik di sebuah aplikasi musik yang ada di handphoneku, tiba-tiba isi kepalaku dirangsang untuk berfikir apakah kisah asmaraku sama tragisnya kelak dengan salah satu tokoh yang saya kagumi yaitu Bapak Republik ini, datuk Tan Malaka.
Kenapa pemikiran ini bisa tiba-tiba menyerang isi kepalaku, apa mungkin karena aku suka mengkonsumsi buku-buku beliau, terus aku teringat dengan kisah asmara beliau yang begitu pahit, apakah kisah asmaraku juga sama kelak dengan kisah asmara beliau? Siapa yang tahu.
Lagi dan lagi pertanyaan yang menarik itu muncul, kenapa aku bisa berfikir seperti itu, apa dikarenakan kawan-kawanku rata-rata semua pada memiliki sang pujaan hati, sedangkan aku sibuk bercumbu dengan tuhan serta buku-buku dan ditemani nikotin isi 20 batang yang mungkin bisa sampai 3 atau 4 bungkus serta kopi pahit yang selalu kukonsumsi setiap harinya?
Tan Malaka (lahir dengan nama Datuk Ibrahim, gelar Sutan Malaka pada 2 Juni 1897 di Suliki, Sumatera Barat – wafat 21 Februari 1949 di Kediri, Jawa Timur) adalah seorang tokoh revolusioner, pemikir kiri, dan pahlawan nasional Indonesia yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan dan perkembangan ideologi politik di Indonesia.
📚 Artikel Terkait
Tan Malaka berasal dari keluarga Minangkabau dan menerima pendidikan awal di sekolah guru di Bukittinggi. Pada tahun 1913, ia melanjutkan studi ke Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda, hingga 1919. Selama di Eropa, ia mendalami teori sosialisme dan komunisme, serta terinspirasi oleh Revolusi Rusia 1917, yang membentuk pandangannya tentang hubungan antara kapitalisme, imperialisme, dan penindasan sosial.
Jadi setelah membaca buku-buku dengan isi pemikiran-pemikiran beliau seperti MADILOG, FILOSOFI NEGARA, Penjara ke Penjara dan beberapa buku lainnya, aku jadi ingat dengan sebuah buku yang berjudul kisah cinta tragis ala Tan Malaka; Empat kali mencintai lima kali ditolak, aku berfikir masak iya orang segagah tuan malaka masih bisa tolak, orang secerdas Tan Malaka masih bisa ditolak, orang sepemberani Tan Malaka masih tidak bisa diterima dan dibalas rasa cintanya, apalagi denganku yang begitu banyak kekurangannya, begitulah isi fikiranku saat menulis ini.
Sepertinya Tan Malaka memang dilahirkan untuk berjuang bukan untuk merasakan manisnya asmara seperti yang sedang dialami beberapa kawan-kawanku. Tan Malaka dilahirkan hanya untuk menjadi kekasih hati ibu pertiwi ini, sedih bukan? Di saat beliau berjuang untuk bumi pertiwi ini yang sangat rumit serta didukung dengan pemikiran hebat beliau yang seharusnya akan diwariskan untuk generasi asli darah dagingnya sendiri (keturunan), namun takdir berkata lain, beliau harus hidup sendiri dalam perjuangannya untuk bangsa ini.
Pada saat berangkat ke Belanda, untuk menimbal ilmu ia meninggalkan perempuan idamannya yaitu Syarifah di kampung halamannya, ia tak kehabisan akal untuk menyampaikan isi hati kepada sang pujaan hatinya, tapi takdir berkata lain, surat yang ia kirim tak pernah berbalaskan alias bertepuk sebelah tangan.
Sampai suatu ketika ia mendengar kabar, sang pujaan hati dikawinkan Wirantakusumah, lantas diceraikan begitu saja, dan membuat Tan Malaka menjadi begitu dendam kepada kaum feodal dan menjadi komunis, ini cerita yang beredar di kalangan masyarakat Minang. Namun di saat ia lanjut bergerylia ke beberapa penjuru dunia (negara lain), beliau pernah merasakan jatuh cinta kembali, tapi apa, lagi-lagi tak pernah sampai ke pelaminan.
Sampai suatu ketika ia kembali ke Indonesia dan bertemu Achmad Subardjo dan ketika di rumah beliau, Tan Malaka tertarik dan mulai kembali jatuh hati kepada keponakan Achmad Subardjo yang bernama Paramitha. Jalinan asmara beliau cukup serius namun kegiatan politik Tan Malaka pada saat itu pun jauh lebih menyita perhatian ketimbang pacaran.
Paramitha menjadi labuhan hati terakhir tuan Tan Malaka sebelum ia disematkan sebagai “bapak republik” dan ia tewas di ujung senapan bangsa ia sendiri, dan ada beberapa sumber-sumber mengatakan bahwa beliau adalah “Jomblo Revolusioner” dalam sejarah Indonesia. Sambil menatap dinding kamar aku berkata dalam hati kecil “sungguh tragis kisah cinta beliau”, apakah kisah asmaraku kelak sama seperti beliau tidak akan pernah di pelaminan? Semoga saja tidak, dan semoga saja isi pemikiran brilian beliau dan semangat juangnya saja yang turun kepadaku, sambil berkata di dalam hatiku , tiba-tiba handphone yang tadi sedang hidup musik dapat panggilan masuk dari kawan untuk ngajak ngopi dan membuatku berhenti sejenak untuk memikirkan apakah kisah asmara Tan Malaka yang menjomblo sampai akhir usia akan juga sama denganku.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






