• Latest

Dokter, Dukun dan AI

Mei 12, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dokter, Dukun dan AI

Redaksiby Redaksi
Mei 12, 2025
Reading Time: 3 mins read
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Dulu, pergi ke dokter adalah ritual yang jelas: disuntik. Tidak ada suntikan, berarti belum ke dokter.

Suntik itu tanda sah sebuah pengobatan. Kalau tidak disuntik, maka pulang dengan perasaan: belum benar-benar berobat.

Dokter tidak banyak bicara. Lihat, periksa, suntik. Lalu diberi obat—langsung dari tangan dokter.

Obat minum, salep, atau bubuk pahit dalam kertas minyak.

Dan yang dibayar pasien adalah itu semua: obat suntik, obat minum, obat oles. Transaksi yang konkret. Uang ditukar obat.

Itu dulu, tapi kini? Semua berubah. Ke dokter tak lagi identik dengan disuntik. Bahkan menyentuh obat pun tidak. Dokter hanya memeriksa, lalu menulis resep.

Resep dibawa ke apotek, obat dibayar di sana. Jadi, apa yang dibayar pasien saat ke dokter? Jasa. Hanya jasa. Jasa menatap wajah pasien dan menuliskan resep yang hanya bisa dibaca apoteker.

Dan di sanalah letak ganjalan besar itu: banyak pasien merasa belum benar-benar berobat. Karena tak disuntik, tak menerima obat dari tangan dokter.

Mereka hanya pulang dengan selembar kertas dengan resep yang harus dibawanya ke apotek.

Berat membayar jasa yang tak berwujud, apalagi jika penyakit tak kunjung sembuh. Seringkali muncul keluhan klise,namun tajam: “Sudah ke dokter, sudah minum obat, tapi kok nggak sembuh-sembuh?”

Ketika sains tak memuaskan, mistik pun membuka pintu. Pasien beralih ke dukun.

Cukup diberi air putih, dibacakan mantra.
Diminum—lalu pasien merasa sembuh.

Dan herannya, membayar dukun terasa lebih ringan, dibanding membayar jasa dokter, barangkali karena ada ‘bukti fisik’: air dan doa.

Paradoks pun mencolok di situ. Dokter—yang ilmunya didapat dari bertahun-tahun pendidikan ditambah pengalaman—dikalahkan oleh dukun yang kadang tak tamat sekolah dasar.

Belakangan, tak hanya dukun yang mengancam profesi yang mulia itu. Datanglah AI. Kecerdasan buatan, tak punya gelar, tapi punya jawaban cerdas.

Pasien cukup mengetik: “Saya pusing.” AI menjawab: “Kemungkinan migrain ringan. Coba cari obat ini.” AI menjelaskan dosis, efek samping, bahkan kandungan senyawa.
Lengkap. Logis. Gratis. Tis.

Apotek, karena sistemnya sudah berubah, memberikan obat itu juga—tanpa perlu resep dokter.

Lalu, untuk apa dokter? Untuk apa jasa yang tak lagi tampak?

Saat dunia beralih ke kecerdasan sintetis,
dokter bukan hanya bersaing dengan dukun,
tapi juga dengan algoritma.

Namun ada yang lebih paradoks. Di tengah ancaman AI dan dukun, di tengah profesi dokter tergerus, fakultas kedokteran tetap jadi rebutan.

Biayanya yang selangit tak menyurutkan minat menjadi dokter. Universitas berlomba membuka jurusan kedokteran, yang tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Kenapa? Karena menjadi dokter masih menjanjikan gengsi. Menjadi dokter, menaikkan status sosial. Tak hanya secara personal, keluarganya pun jadi terhormat.

ADVERTISEMENT

Dokter adalah penyembuh. Profesi yang dianggap mulia, bahkan melebihi guru atau dosen. Guru membuat kita pintar, tapi dokter menyelamatkan hidup.

Di mata masyarakat, yang menyembuhkan lebih agung dari yang mengajarkan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Akankah kemuliaan itu bertahan? Guru dan dokter—dua profesi luhur—kini sama-sama digerus zaman. Digerus oleh teknologi yang tanpa wajah, tanpa gelar, tanpa bayar, tapi serba tahu.

Masihkah ada yang rela membayar ratusan juta rupiah untuk mengejar gelar menjadi dokter, saat diagnosis pintar bisa diberikan oleh AI, dan kesembuhan dirasa dari air doa dukun?

Zaman terus berjalan. Teknologi tak pernah menunggu. Dan kita, lagi-lagi, terlambat bertanya: apa yang tersisa dari profesi, saat kepercayaan tak lagi dibayar mahal?

Denpasar, 12 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ultah 美

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com