POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Dokter, Dukun dan AI

RedaksiOleh Redaksi
May 12, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Dulu, pergi ke dokter adalah ritual yang jelas: disuntik. Tidak ada suntikan, berarti belum ke dokter.

Suntik itu tanda sah sebuah pengobatan. Kalau tidak disuntik, maka pulang dengan perasaan: belum benar-benar berobat.

Dokter tidak banyak bicara. Lihat, periksa, suntik. Lalu diberi obat—langsung dari tangan dokter.

Obat minum, salep, atau bubuk pahit dalam kertas minyak.

Dan yang dibayar pasien adalah itu semua: obat suntik, obat minum, obat oles. Transaksi yang konkret. Uang ditukar obat.

Itu dulu, tapi kini? Semua berubah. Ke dokter tak lagi identik dengan disuntik. Bahkan menyentuh obat pun tidak. Dokter hanya memeriksa, lalu menulis resep.

Resep dibawa ke apotek, obat dibayar di sana. Jadi, apa yang dibayar pasien saat ke dokter? Jasa. Hanya jasa. Jasa menatap wajah pasien dan menuliskan resep yang hanya bisa dibaca apoteker.

Dan di sanalah letak ganjalan besar itu: banyak pasien merasa belum benar-benar berobat. Karena tak disuntik, tak menerima obat dari tangan dokter.

Mereka hanya pulang dengan selembar kertas dengan resep yang harus dibawanya ke apotek.

Berat membayar jasa yang tak berwujud, apalagi jika penyakit tak kunjung sembuh. Seringkali muncul keluhan klise,namun tajam: “Sudah ke dokter, sudah minum obat, tapi kok nggak sembuh-sembuh?”

Ketika sains tak memuaskan, mistik pun membuka pintu. Pasien beralih ke dukun.

Cukup diberi air putih, dibacakan mantra.
Diminum—lalu pasien merasa sembuh.

📚 Artikel Terkait

Dari Tsunami Aceh Hingga COVID 19

FEB USK Kirim Dua Dosen dan Lima Mahasiswa Ikut ICDC APDMI di UNAND Padang

EGO

Untaian Puisi Julia Ikin

Dan herannya, membayar dukun terasa lebih ringan, dibanding membayar jasa dokter, barangkali karena ada ‘bukti fisik’: air dan doa.

Paradoks pun mencolok di situ. Dokter—yang ilmunya didapat dari bertahun-tahun pendidikan ditambah pengalaman—dikalahkan oleh dukun yang kadang tak tamat sekolah dasar.

Belakangan, tak hanya dukun yang mengancam profesi yang mulia itu. Datanglah AI. Kecerdasan buatan, tak punya gelar, tapi punya jawaban cerdas.

Pasien cukup mengetik: “Saya pusing.” AI menjawab: “Kemungkinan migrain ringan. Coba cari obat ini.” AI menjelaskan dosis, efek samping, bahkan kandungan senyawa.
Lengkap. Logis. Gratis. Tis.

Apotek, karena sistemnya sudah berubah, memberikan obat itu juga—tanpa perlu resep dokter.

Lalu, untuk apa dokter? Untuk apa jasa yang tak lagi tampak?

Saat dunia beralih ke kecerdasan sintetis,
dokter bukan hanya bersaing dengan dukun,
tapi juga dengan algoritma.

Namun ada yang lebih paradoks. Di tengah ancaman AI dan dukun, di tengah profesi dokter tergerus, fakultas kedokteran tetap jadi rebutan.

Biayanya yang selangit tak menyurutkan minat menjadi dokter. Universitas berlomba membuka jurusan kedokteran, yang tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Kenapa? Karena menjadi dokter masih menjanjikan gengsi. Menjadi dokter, menaikkan status sosial. Tak hanya secara personal, keluarganya pun jadi terhormat.

Dokter adalah penyembuh. Profesi yang dianggap mulia, bahkan melebihi guru atau dosen. Guru membuat kita pintar, tapi dokter menyelamatkan hidup.

Di mata masyarakat, yang menyembuhkan lebih agung dari yang mengajarkan.

Akankah kemuliaan itu bertahan? Guru dan dokter—dua profesi luhur—kini sama-sama digerus zaman. Digerus oleh teknologi yang tanpa wajah, tanpa gelar, tanpa bayar, tapi serba tahu.

Masihkah ada yang rela membayar ratusan juta rupiah untuk mengejar gelar menjadi dokter, saat diagnosis pintar bisa diberikan oleh AI, dan kesembuhan dirasa dari air doa dukun?

Zaman terus berjalan. Teknologi tak pernah menunggu. Dan kita, lagi-lagi, terlambat bertanya: apa yang tersisa dari profesi, saat kepercayaan tak lagi dibayar mahal?

Denpasar, 12 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Ultah 美

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00