• Latest
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 2025 05 11 07 14 13 | India | Potret Online

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Mei 11, 2025
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 1001348646_11zon | India | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 1001353319_11zon | India | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Redaksi by Redaksi
Mei 11, 2025
in India, Konflik
Reading Time: 3 mins read
0
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 2025 05 11 07 14 13 | India | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Setelah menikmati sinetron dalam negeri, mulai ijazah Jokowi, Mega vs Netizen, nikahan Luna Maya, sekarang kita ke luar negeri lagi. Perang India vs Pakistan. Apa update terakhir perang negara serumpun itu? Siapkan kopinya, wak.

Sampai hari ini, setidaknya 48 jiwa melayang. Warga sipil di Jammu, India, dan Kashmir, Pakistan, menjadi korban dari ‘drama langit’ yang tak mereka pesan. Ratusan lainnya terluka, bukan oleh kata-kata tajam dari pidato politik, tapi oleh serpihan baja dan debu reruntuhan. Mereka menjadi statistik tragis dari konflik yang selalu dijual dengan jargon mulia, kedaulatan, keamanan nasional, dan tentu saja, tanda kutip besar “perdamaian yang terpaksa dibela dengan senjata.”

Baca Juga
  • Empat Pulau yang Dikhianati
  • Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Di sisi India, pangkalan udara Pathankot dan Udhampur dilumat oleh rudal Pakistan. Tidak seperti iklan properti yang menjanjikan ‘udara segar dan tenang’, kedua tempat itu kini lebih mirip neraka dengan wifi. Sebagai balasannya, India mengirim ucapan ‘terima kasih’ berupa ledakan ke Pangkalan Udara Nur Khan, Mureed, dan Shorkot milik Pakistan. Belum cukup sampai di sana, malam-malam perbatasan kini dihiasi pemadaman listrik, sirene panjang-panjang, dan tentu saja, kecemasan massal yang tidak dijual di minimarket.

Sementara itu, Dewan Komando Nasional Pakistan (NCA) telah diaktifkan. Tidak, ini bukan sinyal bahwa mereka mau main film superhero, tapi bahwa mereka sedang memegang remote control paling mengerikan di planet ini, peluncur nuklir. Sebuah tombol kecil yang bisa membuat dunia kembali ke zaman batu, tanpa perlu asteroid atau Thanos. Amerika Serikat, G7, dan seluruh penjaga moralitas dunia pun langsung gigit jari. Mereka menyerukan ‘pengendalian maksimal’, sebuah frasa yang terdengar seperti nasihat orang tua kepada anak remaja yang pegang korek api di gudang bensin.

Baca Juga
  • Aceh Pernah Berjaya Dengan Rempah 1450-1680 M
  • Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Donald Trump, entah kenapa masih presiden, menyatakan “keprihatinan mendalam.” Sebuah kalimat yang memiliki arti seluas samudra dan seakurat ramalan bintang. PBB lewat Antonio Guterres menawarkan diri sebagai mediator, walau semua tahu bahwa tawaran damai dari PBB kadang seperti sinyal internet di hutan Kalimantan, ada tapi tidak bisa diakses. China, sambil mengelus dagu dan menimbang kepentingannya, meminta agar kedua negara ‘menahan diri’ sambil tetap menolak segala bentuk terorisme. Rusia, seperti biasa, berdiri di tengah sambil bilang “ya udahlah,” tapi dalam bahasa yang lebih diplomatik.

Indonesia juga tidak tinggal diam. Ketua DPR Puan Maharani tampil di layar kaca, menyerukan agar PBB segera bertindak dan menawarkan diplomasi parlemen, karena kalau dunia mau damai, tentu solusinya bukan senjata, tapi rapat. Sangat Indonesia. Para tukang ngopi di Pontianak juga menyerukan damai. “Bagus diajak ngopi di Asiang, bisa damai tu India vs Pakistan tu.”

Baca Juga
  • Standar Ganda dalam Empati Global: Membaca Konflik Gaza–Israel Secara Kritis dan Konsisten
  • Setelah 26 Nyawa Melayang, India Memilih Perang dengan Pakistan

Di balik segala letupan dan diplomasi murahan, ini bukan cuma perang dua negara. Ini adalah epos kontemporer tentang ego, identitas, dan libido kekuasaan yang tak kunjung kenyang. Perang ini adalah puisi paling keras dari dunia yang sedang letih, letih dengan janji damai, letih dengan perjanjian yang dilanggar, letih dengan kata-kata yang akhirnya dikalahkan oleh tombol rudal dan algoritma target.

Di satu sisi, ini semua terdengar begitu epik, seperti kisah Mahabharata digital, dengan pemain utama bersenjata nuklir. Tapi jangan tertipu. Di balik semua kehebohan ini, ada tubuh-tubuh anak kecil yang tak sempat lari, ada ibu-ibu yang tak sempat menyelamatkan kompor, ada doa-doa yang tertelan ledakan. Tapi tentu saja, itu semua hanya latar belakang. Sebab di panggung utama, dunia sedang menunggu, siapa yang lebih dulu menekan tombol, dan siapa yang lebih dulu diliput CNN sambil terbakar.

Selamat datang di dunia 2025. Perangnya nyata, tapi kedamaiannya fiksi ilmiah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | India | Potret Online

Pendidikan Aceh: Antara Syariat, Modernitas, dan Tantangan Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com