Dengarkan Artikel
Oleh: Afridal Darmi
Hidup itu sendiri adalah perjalanan, ya kan? Langkah pertama diayunkan seiring tangis pertama di muka bumi ini, langkah penutup ditapakkan nanti seiring helaan napas akhir di ujung usia. Tibanya musim haji ini adalah waktu yang tepat merefleksi kembali perjalanan kehidupan itu. Karena ibadah ini sungguh membuka pintu perenungan tentang hidup dan perjalanan ruhani.
Kata orang, perjalanan ke tanah suci akan mengungkapkan sisi terdalam dari kepribadian seseorang. Keramat haji akan membongkar sisi terdalam karakter yang mungkin selama ini tersembunyi dari pasangan hidupnya sendiri. Pengungkap rahasia batin yang paling pribadi orang itu sendiri.
Bagi orang yang menikah, seperti saya terbongkarnya rahasia hati oleh karamah haji ini sungguh menggelisahkan. Memang benar sudah hampir setengah jatah usia kami menapaki jalan kehidupan bersama-sama, melewati tak terbilang belokan ke kiri dan ke kanan, mendaki dan menurun, dalam badai atau hari cerah, dengan beberapa hari muram dan mendung di sana sini.
Namun siapa yang tahu isi hati terdalam seorang manusia, kecuali dirinya sendiri dan Allah SWT? Dan apa makna suatu momen, yang walaupun dilewati bersama, bagi masing-masing individu manusia yang ada dalam rombongan seperjalanan itu?
Percaya pada lege nda itu, saya agak cemas melakukanperjalanan haji itu sendiri. Jangan-jangan sengkarut isi hati kami berdua juga akan terbongkar. Katanya ada pasangan suami istri yang di kampung terlihat mesra, tiba di tanah suci berubah menjadi abai, bahkan menjauhi pasangan hidupnya. Katanya ada yang selama hidup di tanah air memang terbiasa mengabaikan pasangan hidupnya, di tanah suci menjadi makin menjauh, bahkan bertengkar terbuka di hadapan semua jamaah.
Sungguh saya cemas, jangan-jangan terbongkarnya isi hati kami masing-masing karena keramat tanah suci itu akan membuat ungkai buhul pernikahan dan longgar ikatan cinta yang telah kami jalani selama dua puluh satu tahun itu.
Tapi Alhamdulillah itu tidak terjadi pada kami berdua. Kami justru menjalani ibadah dengan bergantian saling menguatkan dan memberi semangat. Ada hari yang bagi saya, yang memang tidak bugar ini, merupakan tantangan secara fisik yang berat, istri saya hadir menyelamatkan. Di tengah hawa panas Mekkah yang mengisap energi dan kegiatan Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) yang menguras tenaga, saya pernah nyaris menyerah.
Di tengah terowongan Mina yang beraura sangar itu saya kehabisan napas, dada rasa tertekan, udara seakan enggan masuk ke paru-paru. Tapi istri saya memberi semangat untuk melangkahkan satu langkah lagi dan satu langkah lagi.
Ada dua kejadian pada saat saya sebagai pengidap penyakit jantung coroner hampir jatuh pingsan, setelah menyelesaikan tahapan umrah wajib dan umrah sunat. Dalam kondisi yang nyaris kritis itu lagi-lagi istri saya hadir bagaikan pelampung yang menyelamatkan saya dari tenggelam dalam ketidaksadaran yang bisa saja fatal.
Demikian pula di hari lain saat giliran istri saya “kehabisan battere”, sumber tenaganya drop, beliau mengaku keberadaan saya di sampingnya memberinya tambahan atau tenaga cadangan. Beliau merasa seakan saya menopangnya, sehingga bisa menuntaskan tahapan ibadah haji dan umrah yang memang sangat menuntut tenaga dan konsentrasi ekstra, semuanya harus dijalani dalam kondisi kebugaran fisik yang memang tidak 100 persen.
📚 Artikel Terkait
Dan suami manapun, lelaki manapun akan menyambut momen ini dengan tangan terbuka. Menjadi kesatria sandaran tangguh bagi wanita yang anda cintai, siapa yang tak mau? Walaupun anda tak berjubah emas dan tak pula berkuda putih?
Alhamdulillah, perjalanan haji yang semula saya khawatirkan akan membuka kenyataan bahwa cinta kami mulai tergerus waktu, ternyata terbukti sebaliknya. Dua puluh satu tahun pernikahan bukanlah waktu yang pendek. Banyak pasangan yang kehilangan passionate pada pasangannya dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Namun pada kami justru sebaliknya. Perjalanan ke tanah suci seakan bulan madu yang tertunda. Lengkap dengan lebay tersipu-sipu dan curi pandang yang biasanya hanya dilakukan oleh pasangan yang jauh lebih muda daripada kami berdua. Rahmat Allah yang dicurahkannya dalam karamah perjalanan haji.
Berdua kami menelusuri lorong-lorong kota Madinah menikmati waktu petang dan senjakala. Bertualang di Kota Mekkah di waktu menjelang matahari terbit atau menjelang matahari terbenam. Menelusuri sudut-sudut Masjidil Haram yang berukuran raksasa itu. Menjelajahi terowongan-terowongan di bawah bukit-bukit Mekkah.
Terheran-heran melihat tanaman yang sedemikian sederhana di kampung yaitu Bak Murong (pohon kelor atau Moriengata Sp.) juga ditanam di dekat Masjidil Haram. Melengkapi tanaman Kumis Kucing dan Bunga Tapak Dara di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi. Atau berjalan kaki bersama di waktu subuh dan dini hari.
Duduk-duduk di pelataran Mesjidil Haram menunggu waktu shalat sambil tercengang memandang langit yang seakan selalu biru tak pernah berawan. Atau sama-sama berjalan gontai, tersiksa di bawah sengatan matahari dalam suhu mencapai 40 derajat celcius, sambil cemburu pada kakek-kakek yang gesit berjalan cepat seakan iklim padang pasir sepanas itu adalah jalan-jalan pagi hari di pesawahan Montasik saja.
Berburu makanan eksotik dan minuman yang tak kami cicipi di tanah air. Mengunyah Falafel sambil duduk-duduk di tangga kedai mengamati saudara-saudara muslim dari seluruh dunia berlalu lalang. Mencari oleh-oleh sambil bercakap ramah dengan pedagang Arab yang ramah dan cerdik-cerdik itu, dalam Bahasa Indonesia. Atau sekadar terbengong-bengong mengamati jamaah lain yang berasal dari seluruh tempat di muka bumi ini.
Semuanya kami lakukan berdua sambil mensyukuri cinta yang dianugerahkan Allah bagi kami. Ahay…Kita bikin romantis…..
Saking akrabnya kami berdua sampai-sampai membuat cemas pembimbing ibadah kami. Bukan sekali beliau mengingatkan, baik langsung ataupun dengan sindiran agar kami tidak membatalkan ibadah kami sendiri karena terlalu mesra.
Teungku Doktor Rahmadon dengan cemas mengulang-ulang peringatan “walaa fusuqa, walaa jidala, walaa …”. Sampai akhirnya beliau sadar bahwa tindakan kami saling memotong kuku, atau makan dari piring yang sama dan minum dari satu gelas yang sama adalah sekaligus juga prank untuk mengerjai beliau karena kecemasannya itu.
Sementara Teungku SyeikhJamaluddin Affan yang kocak justru makin mendorong kami untuk semakin mesra. “Nanti kalau hajinya batal ‘kan tinggal diulang…. Tiga puluh tahun lagi” katanya enteng sambil terkekeh-kekeh.
Jika anda, sidang pembaca yang berbahagia, memiliki pandangan yang sama seperti saya bahwa hidup dan atau pernikahan itu sendiri adalah perjalanan, maka perjalanan haji akan mengajak anda merenungi kembali perjalanan kehidupan dengan pasangan hidup anda sendiri. Anda tidak perlu membandingkannya dengan perjalanan kami. Anda sepenuhnya berhak mengenang dan mengapresiasi perjalanan anda sendiri.
Jadi, Kawan… teguhkanlah cita-cita berhaji itu di hati Anda, ia adalah miniatur perjalanan hidup. Teruslah tapakkan kaki Anda selangkah di depan kaki yang lain. Sampai tiba saatnya Anda menapakkan langkah terakhir itu, dan Anda dengan senyum di bibir bisa berkata “saya telah menjalani hidup yang bermakna, dan dengan sepenuh-penuhnya”.
*** Bionarasi ***
Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Mantan Direktur LBH Banda Aceh dan KetuaKomisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh. Pernahmenjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagaiHuman Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinyamerindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanyaitu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridalberkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






