• Latest
Si Miskin Tidak Boleh Sakit

Si Miskin Tidak Boleh Sakit

Mei 8, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Si Miskin Tidak Boleh Sakit

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Mei 8, 2025
Reading Time: 2 mins read
Si Miskin Tidak Boleh Sakit
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Pak Sudar, lelaki 50 tahun, tinggal bersama istrinya di ruangan sempit berukuran 4×6 meter. Ruang itu bukan rumah, lebih mirip kotak kardus raksasa yang kebetulan berdinding tembok. Tiga anak mereka, yang seharusnya duduk manis di bangku SD, lebih dulu lulus dari akademi kehidupan: menjajakan gorengan dan memungut botol plastik demi sesuap nasi.

Suatu hari, Pak Sudar demam. Bukan demam biasa, ini demam kelas pekerja: menggigil, tapi tetap mencoba berdiri. Sebab di dunia Pak Sudar, sakit itu bukan sinyal tubuh untuk beristirahat, melainkan sinyal alarm bahwa dapur akan berhenti mengepul. Tapi tubuh punya batas, dan Pak Sudar tumbang.

Dengan bantuan supir angkot—karena ambulans sepertinya hanya bersahabat dengan alamat rumah pejabat—Pak Sudar dilarikan ke UGD rumah sakit terdekat. Tapi rupanya, pintu UGD punya sensor otomatis: jika masih bisa bernapas, walau sisa nyawa setengah, Anda belum memenuhi syarat gawat darurat. Dan menurut kebijakan yang berlaku, UGD hanya melayani pasien BPJS secara gratis bila sudah masuk kategori gawat darurat medis. Bila tidak, silakan antre di faskes pertama, lengkap dengan surat rujukan, dan wajib ikuti prosedur yang berlaku.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

“Ibu harus ke faskes satu dulu,” ujar petugas. Kalimat yang terdengar lebih mirip mantra penolak bala bagi mereka yang dompetnya hanya berisi recehan.

Sambil menahan air mata, sang istri menggandeng suaminya yang setengah hidup, kembali ke faskes satu. Di sana, sistem antrian tak pandang bulu: entah anak menteri atau tukang rongsokan, semua mendapat nomor. Tapi bedanya, yang satu punya uang untuk bypass antrean lewat fasilitas premium, satunya hanya punya doa berharap masih diberi nyawa.

Hari itu, Pak Sudar mendapat nomor urut 35. Pasien baru sampai nomor belasan. Istrinya menangis, memohon, merintih. Tapi tangis tak tercatat dalam regulasi. Suara istri pemulung tidak cukup nyaring untuk menembus tembok administrasi.

Sampai di nomor urut 32, tubuh Pak Sudar sudah tak lagi bergerak. Napas terakhirnya perlahan hilang, tanpa ada yang sempat mencatat kapan detiknya. Diam. Sunyi. Dunia seolah berbisik lirih: “Bagi si miskin, hidup memang selalu sulit. Bahkan saat sakit pun, mereka masih harus belajar menelan pahit—tanpa sempat ditolong.”

Kisah ini hanya sebuah fiksi yang diangkat dari berbagai realita nyata. Sebuah cermin pahit tentang bagaimana kemiskinan kerap melucuti hak-hak paling mendasar manusia. Di negeri ini, bahkan untuk sakit pun si miskin harus menempuh birokrasi dan antrean panjang, seolah nyawa mereka tidak pernah cukup darurat. Inilah hidup—di mana hal paling realistis seperti meminta pertolongan medis, justru menjadi kemewahan yang sulit dijangkau oleh mereka yang hidup di bawah garis Kemiskinan.

“Karena hidup jarang berpihak pada mereka yang tak pernah dianggap ada—mereka yang bukan siapa-siapa.”

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna

Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com