POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Si Miskin Tidak Boleh Sakit

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
May 8, 2025
Si Miskin Tidak Boleh Sakit
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

Pak Sudar, lelaki 50 tahun, tinggal bersama istrinya di ruangan sempit berukuran 4×6 meter. Ruang itu bukan rumah, lebih mirip kotak kardus raksasa yang kebetulan berdinding tembok. Tiga anak mereka, yang seharusnya duduk manis di bangku SD, lebih dulu lulus dari akademi kehidupan: menjajakan gorengan dan memungut botol plastik demi sesuap nasi.

Suatu hari, Pak Sudar demam. Bukan demam biasa, ini demam kelas pekerja: menggigil, tapi tetap mencoba berdiri. Sebab di dunia Pak Sudar, sakit itu bukan sinyal tubuh untuk beristirahat, melainkan sinyal alarm bahwa dapur akan berhenti mengepul. Tapi tubuh punya batas, dan Pak Sudar tumbang.

Dengan bantuan supir angkot—karena ambulans sepertinya hanya bersahabat dengan alamat rumah pejabat—Pak Sudar dilarikan ke UGD rumah sakit terdekat. Tapi rupanya, pintu UGD punya sensor otomatis: jika masih bisa bernapas, walau sisa nyawa setengah, Anda belum memenuhi syarat gawat darurat. Dan menurut kebijakan yang berlaku, UGD hanya melayani pasien BPJS secara gratis bila sudah masuk kategori gawat darurat medis. Bila tidak, silakan antre di faskes pertama, lengkap dengan surat rujukan, dan wajib ikuti prosedur yang berlaku.

“Ibu harus ke faskes satu dulu,” ujar petugas. Kalimat yang terdengar lebih mirip mantra penolak bala bagi mereka yang dompetnya hanya berisi recehan.

📚 Artikel Terkait

Keberanian KDM Menutup 26 Tambang Ilegal Patut Diacungi Jempol

Kopi Mawar

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Kampung Halamanku

Sambil menahan air mata, sang istri menggandeng suaminya yang setengah hidup, kembali ke faskes satu. Di sana, sistem antrian tak pandang bulu: entah anak menteri atau tukang rongsokan, semua mendapat nomor. Tapi bedanya, yang satu punya uang untuk bypass antrean lewat fasilitas premium, satunya hanya punya doa berharap masih diberi nyawa.

Hari itu, Pak Sudar mendapat nomor urut 35. Pasien baru sampai nomor belasan. Istrinya menangis, memohon, merintih. Tapi tangis tak tercatat dalam regulasi. Suara istri pemulung tidak cukup nyaring untuk menembus tembok administrasi.

Sampai di nomor urut 32, tubuh Pak Sudar sudah tak lagi bergerak. Napas terakhirnya perlahan hilang, tanpa ada yang sempat mencatat kapan detiknya. Diam. Sunyi. Dunia seolah berbisik lirih: “Bagi si miskin, hidup memang selalu sulit. Bahkan saat sakit pun, mereka masih harus belajar menelan pahit—tanpa sempat ditolong.”

Kisah ini hanya sebuah fiksi yang diangkat dari berbagai realita nyata. Sebuah cermin pahit tentang bagaimana kemiskinan kerap melucuti hak-hak paling mendasar manusia. Di negeri ini, bahkan untuk sakit pun si miskin harus menempuh birokrasi dan antrean panjang, seolah nyawa mereka tidak pernah cukup darurat. Inilah hidup—di mana hal paling realistis seperti meminta pertolongan medis, justru menjadi kemewahan yang sulit dijangkau oleh mereka yang hidup di bawah garis Kemiskinan.

“Karena hidup jarang berpihak pada mereka yang tak pernah dianggap ada—mereka yang bukan siapa-siapa.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna

Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00