• Latest

Banyak Masalah Bisa Dicermati, Tapi Masalah Yang Lebih Besar Jangan Sampai Luput dan Terlupakan

Mei 6, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Banyak Masalah Bisa Dicermati, Tapi Masalah Yang Lebih Besar Jangan Sampai Luput dan Terlupakan

Jacob Eresteby Jacob Ereste
Mei 6, 2025
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Jacob Ereste Upaya untuk membereskan berbagai masalah yang mendera bangsa dan negara Indonesia, merupakan bagian yang penting dari ekspresi kebangsaan dan sikap keberatan yang patut dan perlu dipelihara. Ini penting guna tetap waspada melakukan kesiagaan menjaga keutuhan bangsa dan negara yang harus tetap kuat dan maju. Tujuannya demi dan untuk kelanjutan hidup generasi mendatang […]

Oleh Jacob Ereste

Upaya untuk membereskan berbagai masalah yang mendera bangsa dan negara Indonesia, merupakan bagian yang penting dari ekspresi kebangsaan dan sikap keberatan yang patut dan perlu dipelihara. Ini penting guna tetap waspada melakukan kesiagaan menjaga keutuhan bangsa dan negara yang harus tetap kuat dan maju. Tujuannya demi dan untuk kelanjutan hidup generasi mendatang yang akan menjadi ahli waris negeri ini.

Karena itu, sikap kritis terhadap berbagai masalah yang merundung bangsa dan negara Indonesia. Ini perlu terus dilakukan, agar tak lengah dan tidak lalai untuk terus menjaga agar bangsa dan negara Indonesia dapat terus dibenahi menyongsong masa depan yang lebih indah, lebih baik dan lebih sejahtera dan harmoni.

Karena itu, kegaduhan yang terjadi wajar-wajar saja dalam upaya menjaga keutuhan bangsa dan negara. Sehingga kegaduhan itu sendiri tidak sampai membuat Lena terhadap masalah yang sesungguhnya lebih besar dan lebih menjadi ancaman pada persatuan dan kesatuan bangsa, untuk tetap mencintai negara Indonesia dengan sepenuh hati. Sehingga tetap langgeng dan terus maju tidak tersisih oleh bangsa dan negara lain yang sangat mungkin tidak menghendaki bangsa dan negara Indonesia mencapai kejayaannya seperti yang dicita-citakan dari proklamasi bangsa Indonesia sebagai bangsa dan negara yang berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi serta berkepribadian kuat dan tegar dalam tata kebudayaan yang berbudi luhur.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Jadi apapun persoalan yang dianggap penting dan pokok bagi bangsa dan negara Indonesia, patut mendapat perhatian untuk diselesaikan secara bersama. Tak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata — karena peran serta seluruh warga bangsa dan warga negara berkewajiban untuk melakukannya, guna menemukan cara penyelesaiannya yang terbaik guna dan untuk kepentingan bersama.

Oleh karena itu, masalah pokok bagi bangsa dan negara Indonesia hari ini adalah upaya melakukan usaha membersihkan praktik korupsi di semua bidang dan sektor pekerjaan di tingkat. Baik di tingkat – pemerintah pusat dan pemerintah daerah — yang menjadi pemenggal pemerataan kesejahteraan yang berkeadilan, mulai dari praktik korupsi Pertamina, tata kelola timah, perkebunan kelapa sawit yang merambah hutan dan pengkaplingan lahan di laut. Tidak hanya di pantai Utara bagian Barat, Tangerang, Banten, tetapi juga dalam pelaksanaan bantuan sosial untuk rakyat miskin yang tidak tepat sasaran sampai praktik dari penegakan hukum dan peradilan yang pengap lantaran aroma suap atau mafia hukum hingga kamuflase dalam pelaksanaannya saat para pelaku tindak pidana kejahatan itu menjalani ganjaran hukuman yang dikenakan kepadanya.

Tindak kejahatan yang terbilang ekstra ordinary ini pun tidak dilakukan dengan baik dalam praktiknya di rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan. Toh, narkoba dan organisasi kejahatan tetap bisa dikelola dengan bebas dari dalam penjara.

Jadi, kegaduhan yang dibangun secara terstruktur dan sistematis dan massif pun bisa dipahami sebagai upaya pengalihan isu. Tujuannya adalah masalah yang lebih besar dan serius luput dari perhatian masyarakat, termasuk bagi kalangan aktivis dan kaum pergerakan yang banyak terpengaruh hingga berbalik arah, seperti perhatian terhadap tindak kejahatan dari proses pemberian status PSN — proyek strategis nasional — yang ikut merambah hutan serta mengeluarkan GHB (hak guna bangunan) serta HGU (hal guna usaha) di atas laut yang mulai dilupakan itu. Padahal, dapat dipastikan sejumlah pejabat penting ketika itu jelas berada dibalik kejahatan yang terstruktur, sistematis dan massif itu, sehingga ratusan jumlah HGB dan HGU bisa diterbitkan begitu mudah.

Oleh karena itu, upaya mengkritisi berbagai kasus yang lain, hendaknya tidak sampai melenakan kasus besar seperti yang terus berlanjut di tata kelola pertambangan di Indonesia yang konon katanya — jika dikelola dengan baik dan bersih tanpa penyimpangan — mampu memberi subsidi sebesar Rp 20 juta setiap bulan kepada setiap penduduk Indonesia yang kini tak kurang dari 284 juta orang.

Paparan ini merupakan salah satu resume dari tiga topik yang mengemuka dalam diskusi rutin Senin-Kamis di Sekretariat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat, 5 Mei 2025

ADVERTISEMENT

Pecenongan, 6 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Sekolah Adiwiyata di Blora: Menyemai Kesadaran, Menumbuhkan Harapan

Sekolah Adiwiyata di Blora: Menyemai Kesadaran, Menumbuhkan Harapan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com