• Latest
Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas

Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas

Mei 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Mei 2, 2025
Reading Time: 3 mins read
Surat Cinta untuk Pendidikan yang Katanya Prioritas
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Hari Pendidikan Nasional kembali datang. Seperti biasa, kita semua mendadak jadi cerdas, nasionalis, dan bijak bestari. Ya, minimal di caption Instagram. Upacara dilaksanakan, pidato disampaikan, dan hashtag #MerdekaBelajar kembali digaungkan. Padahal, di lapangan, yang merdeka itu justru kebingungan. Pendidikan kita hari ini adalah perpaduan ajaib antara niat baik, kebijakan aneh, dan realitas pahit yang dibalut jargon motivasional.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Mari kita rayakan dulu ketimpangan sebagai warisan budaya bangsa. Di Jakarta, anak-anak sudah belajar AI, coding, dan bahasa Inggris dengan guru yang lulusan luar negeri. Di Papua Pegunungan, anak-anak belajar membaca huruf dari papan tulis yang sudah setengah dikerat waktu. Rata-rata lama sekolah di sana hanya 5,1 tahun. Itu pun sudah hebat, karena untuk sampai ke sekolah saja, mereka harus mendaki bukit, menyeberangi sungai, dan bernegosiasi dengan kambing liar. Sementara di kota besar, sekolah lengkap dengan AC, CCTV, dan kantin menjual minuman boba. Semua tampak adil, setidaknya menurut mereka yang duduk di kursi empuk ber-AC sambil memegang pointer dan presentasi PowerPoint berjudul “Pendidikan Inklusif”.

Soal literasi, kita juga unggul. Anak-anak kita bisa bikin caption viral, komen nyinyir, bahkan debat di kolom komentar pakai teori yang entah dari mana. Tapi saat disodorkan satu paragraf bacaan dari buku pelajaran, matanya kosong, pikirannya jalan-jalan. Banyak siswa kesulitan membaca, menulis, apalagi memahami. Tapi tenang, kementerian rajin menyelenggarakan lomba menulis puisi dan pidato tema “Cinta Tanah Air” yang syaratnya adalah hafalan, bukan pemahaman. Literasi? Nanti dulu. Yang penting ada dokumentasi kegiatan.

Sementara itu, dana BOS yang katanya disalurkan demi pendidikan merata lebih sering nyasar ke tempat-tempat yang tidak butuh. Bahkan dalam beberapa kasus, dana BOS disalahgunakan. Mungkin karena terlalu banyak uang, sampai bingung mau dipakai buat apa. Guru honorer masih terima gaji setara uang parkir satu bulan, tapi laporan keuangan sekolah selalu rapi. Dana pembelian proyektor cair, tapi barangnya tidak pernah muncul. Seolah-olah uangnya berubah menjadi ilmu telepati, tidak terlihat tapi dipercaya ada.

Bicara soal biaya pendidikan, hari ini pendidikan tinggi adalah mimpi yang harus ditebus dengan utang. UKT naik terus, dengan alasan inflasi, pengembangan kampus, atau kadang cuma “penyesuaian”. Mahasiswa yang kritis disuruh memahami kondisi, yang protes dianggap tidak bersyukur, dan yang diam dapat bonus semester tambahan karena skripsinya tak kunjung selesai akibat dosen pembimbing yang sibuk pelatihan ke luar negeri, penelitian ini dan itu. Pendidikan tinggi kini bukan lagi hak, tapi privilese.

Sekolah rusak? Banyak. Lebih dari 60% ruang kelas SD mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Tapi jangan khawatir, karena selama atap belum ambruk saat pelajaran, dianggap masih bisa dipakai. Kadang murid belajar sambil memegang ember, menampung air hujan yang bocor dari langit-langit. Tapi itu kan pengalaman hidup, bagian dari kurikulum tersembunyi bernama “adaptasi ekstrem”.

Jangan lupakan kurikulum. Kita sudah ganti kurikulum lebih sering dari ganti kalender dinding. Setiap menteri datang dengan semangat dan nama kurikulum baru. Guru dipaksa belajar ulang, siswa jadi kelinci percobaan, orang tua bingung, dan dunia usaha hanya tertawa sambil berkata, “Lulusan ini kita latih lagi dari nol ya, Bu.” Pendidikan kita ibarat sinetron panjang, plot-nya berputar-putar, aktornya gonta-ganti, tapi ending-nya tak pernah sampai.

Namun di balik semua absurditas ini, masih ada guru-guru hebat, murid-murid gigih, dan orang tua yang percaya bahwa pendidikan bisa menyelamatkan masa depan. Mereka adalah pahlawan tanpa panggung. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita kirim doa, semoga tahun depan kita tidak hanya upacara dan berpuisi, tapi benar-benar belajar. Bukan hanya untuk dapat nilai, tapi untuk hidup yang lebih waras.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Sebuah Refleksi Sosial; Berpendidikan Tinggi, Tapi Tak Bisa Mengantre: Di Mana Budaya Etika Kita?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com