POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hari Buruh dan Keadilan Sosial: Suara yang Tak Boleh Dibungkam

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
May 1, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

Hari Buruh Internasional, yang diperingati setiap 1 Mei, bukan sekadar tanggal merah dalam kalender. Ia adalah simbol perjuangan panjang kelas pekerja dalam menuntut hak, keadilan, dan martabat yang selama ini terpinggirkan.

Sejarah mencatat bahwa peringatan ini lahir dari darah dan air mata buruh di Haymarket, Chicago, tahun 1886. Mereka menuntut jam kerja delapan jam, sebuah tuntutan sederhana yang kemudian menggema ke seluruh dunia.

Di Indonesia, Hari Buruh menjadi ruang kolektif bagi para pekerja menyuarakan aspirasi: upah layak, jaminan sosial, hingga perlindungan kerja yang manusiawi. Namun, apakah semangat ini benar-benar telah berakar dalam sistem sosial kita?

Keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam sila kelima Pancasila seharusnya menjadi arah kebijakan negara. Sayangnya, banyak buruh masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian dan eksploitasi.

Ketimpangan sosial menjadi wajah muram dari pembangunan ekonomi. Di satu sisi, laba perusahaan terus meningkat, sementara buruh masih berkutat dengan upah minimum yang tak sebanding dengan kebutuhan hidup.

Keadilan sosial tidak cukup dengan slogan atau pidato seremonial tiap 1 Mei. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan yang melindungi buruh sebagai elemen vital pembangunan nasional.

Pekerja bukan roda produksi semata. Mereka adalah manusia dengan harga diri, keluarga, dan harapan. Menjamin hak-hak buruh bukanlah beban, tapi investasi moral sebuah bangsa.

Di banyak sektor informal, buruh kerap bekerja tanpa kontrak, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa kepastian hari esok. Ironisnya, merekalah yang menopang sebagian besar aktivitas ekonomi nasional.

📚 Artikel Terkait

Modus Operandi Penjajahan Baru

Aksi Siaga Bencana SDIT Muhammadiyah Manggeng

Sepeda

Gambung, Hujan, dan Kenangan

Pendidikan dan pelatihan keterampilan masih belum merata untuk pekerja. Padahal, pemberdayaan SDM buruh adalah jalan utama menuju keadilan ekonomi dan peningkatan produktivitas nasional.

Negara harus hadir bukan sekadar sebagai penengah antara pengusaha dan buruh, melainkan sebagai penjamin kesejahteraan semua warga. Tanpa keberpihakan nyata, buruh hanya akan jadi pelengkap statistik.

Momentum Hari Buruh harus dijadikan evaluasi nasional, apakah sistem ekonomi kita telah memberikan ruang yang adil bagi pekerja? Ataukah kita masih memelihara ketimpangan atas nama efisiensi?

Keadilan sosial menuntut distribusi sumber daya yang merata, akses yang setara terhadap layanan publik, dan perlindungan terhadap kelompok yang rentan, termasuk buruh perempuan dan pekerja migran.

Peran serikat buruh harus diperkuat sebagai garda terdepan advokasi pekerja. Namun, negara juga wajib memastikan tidak ada kriminalisasi terhadap suara-suara kritis dari akar rumput.

Buruh bukan anti-pembangunan. Mereka justru pejuang produktivitas yang menginginkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, bukan hanya akumulasi modal yang timpang.

Kita butuh etika ekonomi yang berkeadilan, bukan hanya logika pasar bebas. Keseimbangan antara keuntungan dan kesejahteraan adalah pilar kemanusiaan dalam dunia kerja.

Pendidikan publik juga perlu diarahkan untuk membangun empati sosial terhadap nasib buruh. Kesadaran kolektif ini penting agar isu ketenagakerjaan tidak hanya diperjuangkan oleh buruh itu sendiri.

Inspirasi bisa datang dari negara-negara yang berhasil membangun keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan tenaga kerja, seperti Skandinavia dan beberapa negara Eropa.

Namun, lebih dari sekadar meniru, Indonesia harus membangun sistem yang sesuai dengan konteks sosiokulturalnya. Keadilan sosial bukanlah impian, melainkan tuntutan sejarah yang harus dijawab.

Hari Buruh seharusnya tidak lagi dipandang dengan curiga sebagai momen politis. Justru di sinilah demokrasi diuji, apakah negara mendengar suara yang selama ini terpinggirkan?

Mari jadikan Hari Buruh sebagai momen refleksi dan tekad bersama. Sebab keadilan sosial bukan hanya hak buruh, melainkan fondasi keutuhan bangsa. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Mewujudkan Pendidikan Bermutu lewat Literasi Sosial dan Ekologis

Mewujudkan Pendidikan Bermutu lewat Literasi Sosial dan Ekologis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00