• Latest

Masa Depan Pendidikan Dipertaruhkan: Perebutan Lahan SMAN 1 Bandung Adalah Luka untuk Anak Bangsa

April 28, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Masa Depan Pendidikan Dipertaruhkan: Perebutan Lahan SMAN 1 Bandung Adalah Luka untuk Anak Bangsa

Redaksiby Redaksi
April 28, 2025
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Di Jalan Ir. H. Juanda, Bandung, berdiri SMAN 1 Bandung, sebuah institusi pendidikan yang tak sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk arah bangsa. Di bawah rindang pepohonan yang menyimpan kenangan puluhan tahun, sekolah ini menjadi saksi lahirnya cendekiawan, budayawan, hingga pemimpin nasional. Kini, sekolah tersebut menghadapi gugatan hukum yang mengancam eksistensinya: perebutan lahan oleh sebuah yayasan yang mengklaim hak kepemilikan.

Dalam keputusan kontroversial di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung, SMAN 1 dinyatakan kalah. Sertifikat Hak Pakai yang selama ini melindungi keberadaan sekolah dibatalkan atas gugatan Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK). Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menyatakan akan mengajukan banding, namun keresahan tetap membayang, terutama di antara siswa, alumni, guru, dan orang tua.

Menurut Deddy, Pengurus Komite SMANSA Bandung sekaligus alumni SMAN 1 Bandung Angkatan 1996, perjuangan ini tidak akan berhenti.

“Kami elemen SMAN Satu Bandung akan terus melawan dan kami yakin menang. Ini bukan sekadar tentang lahan SMANSA, tapi tentang masa depan pendidikan di Indonesia. Kami akan terus bersuara, setiap hari hingga kami menang,” tegas Deddy.

Suara itu menggema di hati ribuan alumni dan masyarakat Bandung. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya sebidang tanah, melainkan simbol komitmen bangsa terhadap pendidikan sebagai hak dasar, bukan komoditas dagang.

Lekat cinta SMANSA tak hanya hidup di ruang kelas atau upacara bendera. Ia mengalir dalam syair yang diciptakan oleh alumninya

Di Jalan Ir. H. Juanda,
di bawah rindang kenangan yang tak lekang zaman,
berdiri SMAN 1 Bandung,
sebuah nama yang bukan sekadar institusi pendidikan,
melainkan simbol perjuangan intelektual bangsa.

Sejarah panjang sekolah ini berakar sebelum republik berdiri. Menjadi bagian dari denyut perlawanan terhadap kolonialisme, SMAN 1 Bandung bukan hanya ruang belajar, tetapi medan perjuangan. Generasi pelajarnya belajar dari semangat Bandung, kota yang terkenal dengan keberanian melawan ketidakadilan.

Kini, semangat itu kembali diuji. Gugatan atas tanah yang strategis, dekat pusat kota dan bernilai ekonomis tinggi, menghadirkan pertanyaan besar: apakah ini murni soal hukum, atau ada motif tersembunyi di balik dokumen yang menggugat?

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Apakah kelak lahan ini akan berganti wajah, menjadi hotel mewah atau pusat perbelanjaan, menghapus jejak sejarah pendidikan bangsa? Sebuah skenario lama dalam balutan skrip baru, di mana tanah pendidikan dialihkan demi keuntungan segelintir orang.

Pertanyaan itu bergema di hati banyak orang:
“Mengapa tanah yang telah mencetak ribuan anak bangsa ingin direbut atas nama dokumen yang mencurigakan? Di mana rasa kemanusiaan kalian? Apa rencana kalian sebenarnya?”

Narasi perjuangan ini bukan sekadar romantisme nostalgia. Ini tentang mempertahankan nilai. Ketika nilai dikalahkan oleh kepentingan, maka yang runtuh bukan hanya bangunan tua, melainkan fondasi bangsa itu sendiri.

Dalam orasi yang disampaikan pada Minggu, 27 April 2025, Nita Lusaid, Alumni SMANSA Angkatan 1987, menegaskan pentingnya memperjuangkan keberadaan SMAN 1 Bandung sebagai bagian dari hak dasar pendidikan rakyat Indonesia. Semangat perlawanan ini seirama dengan lirik lagu Iwan Fals yang kerap menjadi simbol protes terhadap ketidakadilan:

“Penindasan serta kesewenang-wenangan, Banyak lagi teramat, Banyak untuk disebutkan. Hoi! hentikan hentikan jangan diteruskan, kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan”

Lirik ini menjadi gambaran keresahan banyak pihak terhadap praktik-praktik yang mengorbankan nilai pendidikan demi kepentingan segelintir orang.
Orasi Nita, bersama gema lagu perjuangan itu, menegaskan bahwa pertarungan mempertahankan SMAN 1 Bandung adalah perjuangan mempertahankan martabat bangsa.

SMAN 1 Bandung adalah mercusuar pengetahuan, bukan sekadar tumpukan bata. Ia telah menjadi ibu dari ribuan mimpi besar, mimpi yang kini coba direnggut dengan secarik kertas tuntutan hukum.

Namun, para alumni, siswa, dan masyarakat tidak tinggal diam. Mereka menyadari, pertarungan ini lebih besar dari sekadar mempertahankan satu sekolah. Ini tentang mempertahankan keyakinan bahwa negeri ini dibangun dari kekuatan pendidikan, bukan dari permainan kekuasaan atas tanah dan gedung.

ADVERTISEMENT

Mereka paham, yang dipertahankan bukan hanya bangunan, melainkan prinsip: bahwa pendidikan adalah hak, bukan ladang komersialisasi. Ini saatnya Bandung bersatu. Bukan hanya membela sekolah, tapi membela prinsip bahwa negeri ini dibangun oleh mereka yang belajar, bukan mereka yang memperjualbelikan tanah sejarah.

Perjuangan ini tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan. Sebab, sekali lagi, mereka yang berjuang untuk ilmu tidak akan pernah gentar menghadapi ketidakadilan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Mawah Memudar, Kapitalis Muncul

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com