• Latest
Sepetak Sawah

Sepetak Sawah

April 27, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sepetak Sawah

Ilhamdi Sulaiman by Ilhamdi Sulaiman
April 27, 2025
in #Sepetak sawah, Cerpen, Hari Kartini
Reading Time: 3 mins read
0
Sepetak Sawah
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ilhamdi Sulaiman


Setiap tanggal dua puluh satu April, orang-orang merayakan Hari Kartini. Ada yang merayakannya dalam bentuk lomba kebaya.lomba musik,tari dan lomba menulis surat Yang dimeriahkan juga dengan musik, tari dan baca puisi di panggung panggung yang aku tonton di televisi. Kartini perempuan yang membangkitkan nyala kesadaran akan hak, akan martabat, manusia bernama perempuan di bumi nusantara ini. Tapi Raahma di kamarnya hanya memandangi kotak kayu usang yang dia ambil dari lemari peninggalan almarhum ibunya.

Di hatinya yang basah oleh tangis jatuh diam-diam ke atas sebuah kotak kayu hanyalah ibunya. Karena baginya, pahlawan sejati telah dikubur bersama sepetak sawah miliknya, dirampas atas nama pembangunan, atas nama Proyek masa depan negaranya.

Sepetak sawah yang dulu penuh subur hanya kenangan, kini rata oleh beton, dan suara alat berat telah menggantikan nyanyian alam yang pernah meninabobokannya.
Dalam kotak itu, tersimpan abu kertas—sisa surat jual beli, fotokopi KTP ibunya, dan dokumen-dokumen lain yang dulu begitu dijaga. Ibunya sendiri yang membakarnya, setelah pulang dari kantor kelurahan.

Seorang pegawai berseragam batik berkata dengan datar, “Tanah ini bukan atas nama Ibu lagi. Sudah menjadi milik perusahaan.” Sertifikat prona yang katanya gratis, ternyata hanya gratis bagi mereka yang punya kuasa. Ibu pulang dengan tangan hampa, membawa kabar buruk kepada anak-anaknya. Malam itu, ia membakar seluruh dokumen itu, satu per satu, karena baginya, kertas-kertas itu sudah tak punya guna lagi. “Bukan bukti kepemilikan, tapi luka… luka yang akan hidup bersamamu sepanjang masa,” ucapnya lirih kepada Rahma dan adik-adiknya.


Keesokan harinya, Rahma berjalan sendirian menuju lahan yang dulu mereka miliki enam ratus meter sawah di Daerah Dadap Kosambi Tangerang yang kini bukan lagi milik ibunya. Ia datang bukan untuk menuntut, hanya untuk menyambut kenangan yang masih tertinggal di sana. Ia ingat masa kecilnya, saat ibunya menanam bibit padi sambil berjalan mundur, pelan dan sabar.

Ingat pondok kecil tempat ayah dan ibu beristirahat, menikmati bakul nasi yang ibu bawa dari rumah. Suara gemericik sungai di belakang pondok itu dulu seperti nyanyian alam yang merdu, tulus, tak tergantikan.
Di sela-sela rerumputan yang kini mulai tumbuh liar, Rahma melihat bayangan masa lalu: dirinya dan adik-adiknya berjalan tanpa alas kaki, mengejar capung dan belalang.

Mereka tertawa tanpa beban, membasuh kaki di aliran sungai yang jernih, membuat perahu dari daun pisang, dan bersaing siapa yang bisa melompat paling jauh di pematang sawah. Terkadang, ibu ikut tertawa bersama mereka, meski tubuhnya lelah. Ayah hanya tersenyum dari kejauhan, tangan masih menggenggam cangkul, peluh menetes tapi mata tetap hangat.


Kini, semua itu tak lebih dari serpih kenangan yang berserakan di bawah kaki Rahma. Tanahnya telah diambil, tapi ingatan itu tetap utuh di hatinya,tak bisa digusur, tak bisa dibeli.


Sebelum peringatan Kartini kemarin, Rahma anak gadis tertua dari pemilik kotak kayu itu sempat merasa lega. Empat orang yang pernah ditemui ibunya di kantor kelurahan, telah ditangkap dan ditahan oleh kepolisian, diduga sebagai pemalsu surat sertifikat warga, yang hendak mereka jual diam-diam kepada sebuah pengembang properti di utara Jakarta.

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aku Merindu

Maret 17, 2026


Namun, kelegaan itu cepat sirna. Dari layar televisi yang redup dan berdebu, Rahma mendengar kabar keempat tersangka itu telah dibebaskan. Polisi melepaskan mereka dengan alasan sederhana. masa penahanan dua puluh satu hari telah lewat, tanpa satu pun dakwaan yang mengikat.


Seperti layang-layang putus tali, harapan Rahma melayang entah ke mana. Dalam hatinya, ia tahu: keadilan, di negeri ini, bukanlah sesuatu yang bisa ditunggu dengan setia. Ia harus dijemput, diperebutkan atau kadang, cukup diterima sebagai kehilangan yang lain.


Hari itu, tanpa kata, Rahma memilih percaya pada kekuatan kecil dalam dirinya: untuk bertahan, untuk terus hidup, dan untuk suatu saat, menuliskan kisah yang lebih adil daripada yang diwariskan kepadanya.


Jakarta,27 April 2025

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237Tweet148
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com