Dengarkan Artikel
Oleh: Muhammad Syawal Djamil*
*Praktisi Pendidikan
Bayangkan sebuah ruang kelas tempat semua anak, apa pun latar belakangnya, merasa dihargai dan mampu berkembang. Sayangnya, gambaran ini masih jauh dari kenyataan di banyak tempat di Indonesia. Ketimpangan dalam akses dan kualitas pendidikan terus menjadi tantangan besar.
Anak-anak di kota besar menikmati ruang belajar yang nyaman, akses internet cepat, dan guru yang terlatih. Sementara itu, di pelosok negeri, ada siswa yang harus berjalan jauh ke sekolah tanpa listrik, tanpa perpustakaan, dan kadang hanya punya satu guru untuk beberapa kelas sekaligus.
Tapi masalahnya tak berhenti di fasilitas. Yang lebih genting adalah bagaimana siswa belajar. Banyak sekolah masih mengandalkan hafalan dan soal latihan, seolah kemampuan berpikir cukup diukur dari kecepatan menjawab pilihan ganda. Padahal, dunia hari ini menuntut lebih dari sekadar hafalan.
Deep Learning
Pembelajaran mendalam atau deep learning adalah pendekatan yang mendorong siswa untuk memahami, bukan sekadar mengingat. Mereka diajak berpikir kritis, menghubungkan pengetahuan, mengeksplorasi ide, dan memecahkan masalah nyata. Inilah keterampilan abad 21 yang dibutuhkan siapa pun, di mana pun mereka belajar.
Negara-negara dengan sistem pendidikan unggul sudah lama menerapkan pendekatan ini. Sementara Indonesia, berdasarkan data PISA 2022, masih tertinggal dalam membaca, matematika, dan sains—indikasi bahwa sistem pembelajaran kita belum membekali siswa dengan cara berpikir yang dibutuhkan di dunia nyata.
Satu kesalahpahaman besar adalah mengira kualitas pembelajaran bergantung pada teknologi. Tentu, internet dan perangkat digital bisa membantu, tapi yang paling menentukan adalah bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar.
John Hattie dalam penelitiannya menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran jauh lebih berpengaruh dibanding kecanggihan alat. Artinya, kelas sederhana pun bisa melahirkan pemikir besar—asal pendekatannya tepat.
📚 Artikel Terkait
Masalahnya, banyak guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk menerapkan deep learning. Pelatihan sering kali hanya administratif. Kurikulum juga terlalu padat, membuat guru lebih fokus mengejar target ketimbang membangun pemahaman siswa.
Agar pembelajaran bermakna bisa terjadi, guru perlu ruang untuk bereksperimen, didampingi dalam pengembangan praktik mengajar, dan diberi kepercayaan untuk membangun pembelajaran yang relevan dengan kehidupan muridnya.
Pendidikan berkualitas bukan hak eksklusif anak-anak kota. Ia harus hadir di setiap pelosok, dari pesisir hingga pegunungan, dari anak-anak dengan keistimewaan hingga mereka yang berkebutuhan khusus. Ini bukan soal idealisme semata, tapi komitmen pada keadilan.
Kita butuh kebijakan yang mendukung: perbaikan infrastruktur di daerah tertinggal, peningkatan kesejahteraan guru, serta pemanfaatan teknologi secara bijak melalui blended learning atau remote learning untuk wilayah yang sulit dijangkau.
Lebih jauh, pendidikan juga harus adaptif terhadap perubahan. Kurikulum perlu memberi ruang bagi proyek nyata, pendekatan STEAM, dan program magang. Siswa harus dikenalkan pada tantangan dunia nyata, bukan hanya diajari menjawab soal.
Mengubah Paradigma
Jika kita ingin pendidikan menjadi alat pembebasan, bukan alat pelanggeng ketimpangan, maka paradigma harus diubah. Dari hafalan ke pemahaman. Dari kejar nilai ke bangun nalar. Dari sekolah sebagai pabrik, menjadi ruang tumbuh yang memanusiakan.
Deep learning bukan sekadar metode. Ia adalah wujud harapan: bahwa setiap anak punya potensi, bahwa setiap guru bisa jadi agen perubahan, dan bahwa setiap ruang kelas, betapa pun sederhananya, bisa menjadi pusat transformasi.
Pendidikan yang adil dan berkualitas tak bisa ditunda. Ia bukan hanya soal statistik, tapi masa depan jutaan anak bangsa. Jika kita serius ingin perubahan, maka pembelajaran mendalam harus menjadi arus utama dalam praktik pendidikan kita.
Karena di balik setiap anak yang berpikir, bertanya, dan bermimpi, ada masa depan bangsa yang sedang dibentuk. Nyanban
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






