• Latest

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

April 25, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
April 25, 2025
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Toleransi sebagai Pilar Peradaban

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

“Sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap,” begitu suara peringatan Buya Syafii yang tegas namun penuh kasih.

Kata-kata ini lahir dari kepekaan sejarah, pengalaman panjang, dan kecintaannya pada keutuhan Indonesia yang majemuk.

Buya menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa tak melulu datang dari ekonomi yang rapuh atau konflik kekuasaan, melainkan dari runtuhnya nilai-nilai toleransi.

Dalam toleransi, terkandung penghormatan pada perbedaan, pengakuan atas keberagaman, dan keinginan hidup berdampingan secara damai.

Indonesia adalah negara plural dengan ratusan etnis, bahasa, dan keyakinan; maka toleransi bukan sekadar pilihan, melainkan syarat utama keberlangsungan.

Ketika toleransi goyah, celah-celah konflik akan terbuka lebar, dan api perpecahan bisa membakar sendi-sendi bangsa.

Buya paham benar bahwa sejarah dunia mencatat keruntuhan peradaban besar dimulai dari kegagalan hidup rukun di tengah perbedaan.

Maka, bagi Buya, toleransi bukan slogan, tapi fondasi moral yang harus dihidupi, dibela, dan dijaga dengan kebijaksanaan.

Ia selalu menolak segala bentuk ekstremisme yang memaksakan kebenaran tunggal dalam soal iman, budaya, atau pilihan hidup.

Sebaliknya, ia menyerukan agar ruang-ruang publik dipenuhi oleh percakapan, bukan permusuhan; oleh pengertian, bukan penghakiman.

Pesan Buya ini terasa begitu relevan di era media sosial yang sering kali memupuk polarisasi dan memperuncing perbedaan.

Ketika orang lebih mudah tersulut emosi daripada membuka ruang dialog, toleransi menjadi korban pertama yang terluka.

Padahal, seperti yang selalu Buya tekankan, keberagaman adalah anugerah, bukan ancaman; dan keragaman adalah kekayaan, bukan sumber permusuhan.

Dalam banyak forum, Buya mengajak umat beragama untuk membangun jembatan, bukan tembok pemisah; memperkuat empati, bukan membakar prasangka.

Ia melihat bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan secara dewasa dan beradab.

Toleransi dalam pandangan Buya bukan berarti menyamakan semua hal, tetapi menghargai perbedaan dengan sikap saling memahami dan tidak memaksakan.

ADVERTISEMENT

Kematangan suatu masyarakat tercermin dari sejauh mana mereka mampu bersikap adil kepada yang berbeda.

Buya mengingatkan bahwa tanpa toleransi, demokrasi akan kehilangan jiwanya dan hukum akan kehilangan ruh keadilannya.

Kita menyaksikan bagaimana konflik sektarian, diskriminasi minoritas, dan intoleransi verbal dapat dengan mudah merusak ikatan sosial.

Oleh karena itu, Buya mengajak semua elemen bangsa—dari pemuka agama, tokoh adat, hingga kaum muda—untuk menjadi penjaga nilai-nilai toleransi.

Ia percaya bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keseragaman, melainkan oleh kebesaran hati menerima keragaman.

Toleransi harus diajarkan sejak dini, dipraktikkan di ruang-ruang keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan media.

Buya ingin bangsa ini menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua, bukan milik segelintir kelompok yang mengklaim kebenaran sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merayakan perbedaan sebagai kekuatan bersama dalam satu simpul persaudaraan.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Maret 24, 2026

Maka, menjaga toleransi adalah menjaga masa depan; melindungi toleransi adalah merawat kehidupan; menumbuhkan toleransi adalah membesarkan cinta.

Pesan Buya Syafii Maarif tentang toleransi adalah pelita di tengah zaman yang rawan disulut api kebencian dan politik identitas.

Ia tidak hanya berbicara, tapi menunjukkan dengan teladan, bahwa menjadi beragama secara benar adalah menjadi manusia yang memuliakan sesama.

Dari kata-kata beliau, kita belajar bahwa toleransi bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral bangsa yang sejati.


Rumah Kayu Cepu, 25 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Guru Sandal Jepit

Guru Sandal Jepit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com