POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dimana Letak Suara Kita dalam Pembangunan Bangsa?

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
April 23, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel


(Refleksi Sosial, Budaya, dan Religi dari Aceh untuk Indonesia)

Oleh Dayan Abdurrahman

Di tengah dinamika pembangunan nasional dan keragaman tantangan sosial di Aceh, muncul satu pertanyaan penting yang layak direnungkan bersama: di mana posisi alumni Bahasa Inggris dalam percakapan besar tentang masa depan bangsa? Tidak hanya dalam konteks profesi, tetapi lebih luas—dalam wacana kebudayaan, agama, ekonomi, dan tanggung jawab sosial. Alumni Bahasa Inggris bukan sekadar lulusan yang fasih menyusun kalimat atau menerjemahkan teks asing, tapi juga warga intelektual yang memiliki potensi membentuk arah bangsa, terutama di wilayah strategis seperti Aceh.

Aceh, daerah yang sarat makna religius sekaligus menjadi simpul penting dalam sejarah nasional, telah melalui banyak hal. Salah satunya adalah bencana besar tsunami tahun 2004 yang tidak hanya mengguncang fisik wilayah ini, tetapi juga menggugah kesadaran sosial, spiritual, dan kultural kita semua. Dalam masa-masa pemulihan (tsunami recovery), banyak alumni Bahasa Inggris dari Aceh mengambil peran penting, walau sering tidak disebut dalam narasi arus utama.

Sebagian menjadi relawan yang menjembatani komunikasi antara lembaga internasional dan masyarakat lokal. Mereka menerjemahkan bukan hanya bahasa, tapi juga emosi, trauma, dan harapan. Ada yang terlibat dalam proyek pembangunan rumah, sekolah, dan fasilitas publik—bukan sebagai tukang atau pejabat, tapi sebagai penghubung nilai, sebagai “translator budaya” yang mampu menjelaskan adat Aceh kepada ekspatriat, sekaligus menyampaikan maksud lembaga donor kepada masyarakat lokal. Ini peran yang sangat unik, dan nyaris tidak tergantikan.

Pengalaman masa lalu itu menunjukkan bahwa alumni Bahasa Inggris bisa dan telah menjadi bagian dari proses transformasi sosial yang sangat krusial. Namun sayangnya, pembelajaran dari pengalaman itu belum sepenuhnya dikapitalisasi oleh lembaga pendidikan tinggi. Banyak kampus di Aceh masih terjebak dalam pola pikir sempit: menjadikan lulusan Bahasa Inggris hanya sebagai pengajar atau penyusun laporan. Padahal, realitas dunia kerja dan krisis kemanusiaan tidak mengenal batasan jurusan.

Dan hal yang tak disangka pun pernah terjadi—bencana, konflik, bahkan perubahan sosial mendadak yang memaksa kita keluar dari zona nyaman. Dari tsunami 2004, konflik bersenjata, hingga perubahan arah pembangunan dan digitalisasi yang drastis pasca pandemi. Semua ini memberi pelajaran penting: alumni Bahasa Inggris harus benar-benar qualified, tidak hanya dari segi bahasa, tapi juga dalam kepekaan sosial, wawasan budaya, dan spiritualitas yang membumi.

📚 Artikel Terkait

Ramadhan Edu Fest

Miss Klarifikasi dan Ani-Ani Kapitalisme: Ketika Moral Bangsa Dihalukan

Penerapan Disiplin Positif Melalui Segitiga Restitusi di Sekolah

DARI GURUN PASIR KE PUSAT DUNIA

Aceh adalah rumah bagi narasi-narasi besar tentang perdamaian, keteguhan iman, dan ketahanan budaya. Namun siapa yang akan menyuarakan kisah ini kepada dunia? Alumni Bahasa Inggris lah yang paling siap, jika dipersiapkan dengan baik. Bukan hanya untuk menjadi pekerja, tapi pemikir. Bukan sekadar penyampai pesan, tapi pencipta narasi.

Sebagai budayawan dan pencari nafkah, banyak alumni Bahasa Inggris yang kini menjalani hidup di luar jalur akademik formal. Mereka menjadi penulis konten, pembuat film pendek, pegiat komunitas literasi, atau bahkan pebisnis lokal yang menggunakan pendekatan multibahasa dalam promosinya. Di balik semua itu, terdapat keresahan—mengapa potensi besar ini belum mendapat pengakuan yang setara?

Sudah saatnya kampus, pemerintah, dan masyarakat membuka mata. Alumni Bahasa Inggris Aceh harus dilibatkan dalam ruang-ruang kebijakan, budaya, dan dialog sosial. Mereka bisa menjadi penghubung antara wacana internasional dan kebijaksanaan lokal. Mereka bisa menerjemahkan nilai-nilai Islam Aceh dalam narasi damai kepada dunia, atau menjadi suara alternatif dalam menghadapi arus homogenisasi budaya.

Kita tidak tahu krisis apa lagi yang akan datang: perubahan iklim, konflik identitas, perang informasi, atau tantangan moral di era digital. Tapi satu hal pasti: kita harus mempersiapkan alumni Bahasa Inggris dengan kompetensi yang utuh. Bukan hanya soal nilai TOEFL atau kemampuan speaking, tapi juga integritas, empati, dan kesadaran budaya. Mereka harus siap menjadi agen transformasi sosial yang tidak hanya tahu teori, tapi mampu membaca tanda zaman dan bertindak dengan bijak.

Kini saatnya alumni Bahasa Inggris bicara. Bukan untuk membanggakan gelar, tapi untuk menyuarakan kebenaran, keadilan, dan harapan. Karena jika suara kita terus diam, narasi tentang Aceh dan bangsa ini akan terus ditulis oleh mereka yang tidak sepenuhnya memahami akar dan nilai kita. Maka mari kita bersuara—dengan kata, karya, dan aksi.

Karena suara itu pernah menyelamatkan, dan bisa kembali menyelamatkan—asal kita bersiap dengan sungguh-sungguh.


*Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan dan sosial budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Dalam Perjalanan Panjang

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00