POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Sebelum Dimakamkan

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
April 21, 2025
Sebelum Dimakamkan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ilhamdi Sulaiman


Udara pagi membawa sisa hujan yang menggantung seperti doa-doa yang tertunda. Jam dua lewat lima belas, kabut turun tipis menutupi halaman rumah keluarga Mulyadi. Di ujung gang, suara langkah kaki tergesa menyatu dengan deru ambulan yang perlahan
merapat.


Kabar duka itu menyebar seperti aliran listrik sangat cepat dan tak bisa dicegah. Komisaris utama PT Bara Anugerah, sebuah perusahaan mebel. Tuan Mulyadi, meninggal dunia di usia
senjanya. Serangan jantung saat tidur. Kata dokter.

Di rumah duka tangis tertahan dan bisik-bisik basa-basi memenuhi ruangan. Sebagian besar karyawan perusahaan datang di malam
yang basah itu. Mereka berdasi rapi meski belum subuh, membawa bunga dan wajah duka yang terlihat dilatih. Beberapa sibuk dengan ponsel, memastikan unggahan belasungkawa mereka disukai
sebanyak mungkin.


Ragil berdiri di pojok ruangan. Matanya merah, namun kaku. Ia tak menangis. Ia menatap tubuh ayahnya yang terbujur dalam peti. Masih mengenakan batik, seolah baru saja selesai memimpin rapat
direksi.
“Dia pasti akan menggantikan posisi ayahnya,
” bisik seorang manajer HRD kepada koleganya.
“Makanya kita datang cepat. Tunjukkan loyalitas,
” sahut yang lain.
Malam itu, duka dan kepentingan berdansa dalam ruang yang sama. Sebelum dimakamkan, jenazah Mulyadi menjadi pusat gravitasi dari kekuasaan yang perlahan berpindah tangan.
Seseorang dari balik kerumunan mendekat. Lelaki setengah baya, jasnya gelap dan tubuhnya seperti bayangan yang sudah lama tak muncul di rumah itu.
“Ragil,
” katanya lirih tapi penuh tekanan.
“Prartai mengirim salam.
Kami diminta bicara setelah pemakaman.
”
Ragil menoleh, mengenali wajah itu: Pak Prabu orang lama dari partai penguasa. Pernah satu meja dengan bapaknya, pernah juga saling ancam di belakang layar 5 tahun yang lalu.
“Ayahmu berjanji menyokong dana kampanye untuk periode berikut. Kami perlu tahu posisi kamu.
”
Ragil menatap jenazah ayahnya. Tenang. Seolah menyembunyikan rahasia besar yang tak pernah dibisikkan kepadanya.
“Aku belum tahu akan jadi apa setelah ini,
” jawab Ragil.
“Yang jelas, malam ini aku bukan komisaris. Aku cuma anak yang berdagang kuliner saja.
”
Pak Prabu tersenyum kecil.
“Dalam dunia kami, duka itu sangat sakral Dan waktu pemakaman adalah awal perjanjian baru.
”
Setelah pak Prabu pergi, Ragil naik ke kamar kerja ayahnya. Aroma prabot lama dan kertas tua menyambutnya. Meja itu, yang dulu
menjadi altar kekuasaan bapaknya kini seperti reruntuhan kekaisaran yang ditinggalkan tanpa pesan.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Ramai- Ramai Menyambut Kirab Api PON XXI di Bireun

Tgk. Khaidir Ali El-Sawanji Tulis Buku Miftahul Khairat

PEMUDA ACEH DAN STIGMA NEGERI GANJA


Di laci terdalam, ia menemukan sebuah map berisi dokumen—semacam laporan rahasia, disertai cap merah dan tanda tangan pejabat tinggi. Beberapa halaman memuat rincian: rekening gelap, nama-nama pejabat, hingga bukti transfer ke partai tertentu.
Ragil tertegun. Ini bukan sekadar warisan. Ini bahan politik. Dan di atas tumpukan dokumen itu, ada secarik kertas dengan tulisan tangan ayahnya:


Dunia ini bukan untuk orang baik. Aku harap kau cukup pintar untuk tidak melawan arus. Tapi kalau kau mau membersihkan
nama kita, lakukan dengan kepala dingin. Jangan percaya siapa pun. Bahkan Nenek Ratu.
Tangan Ragil gemetar. Ia tahu, apa yang dimilikinya bisa menghancurkan banyak orang—termasuk dirinya sendiri. Ia berdiri
di depan jendela, melihat para pelayat yang terus berdatangan.
“Semua datang bukan karena ayah mati,
” gumamnya.
“Mereka datang untuk memastikan kekuasaan tetap di tempatnya.
”
Udara masih dingin. Hujan mulai turun lagi, seperti penghapus yang tak pernah bisa menghapus sepenuhnya.


Hari Kartini 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Tragedi Biologis Nasional Antara Ridwan Kamil, Lisa Mariana, dan Revelino

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00