Dengarkan Artikel
Oleh: Muhammad Syawal Djamil*
Setiap kali memasuki bulan April, ingatan kita selalu terpaut dan mengarah pada satu orang
perempuan yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, yakni Raden Ajeng
Kartini.
Dan, setiap kali kita mengenang sosok R.A. Kartini, ingatan kita langsung tertuju pada satu kalimat legendaris: “Dari Gelap Terbitlah Terang.
” Kalimat ini bukan hanya simbol
perjuangan emansipasi perempuan, tetapi juga mencerminkan pencarian spiritual Kartini yang begitu mendalam.
Namun demikian, di balik semua simbol tersebut, ada warisan pemikiran yang jauh lebih substansial dan patut direnungkan kembali, terutama oleh generasi muda Indonesia hari ini: bagaimana Kartini memaknai perjuangan melalui pencarian cahaya pengetahuan dan spiritualitas.
Kalimat “Dari Gelap Terbitlah Terang” yang begitu lekat dengan nama Kartini bukanlah
sekadar ungkapan puitis atau slogan perjuangan. Di balik kalimat itu tersimpan refleksi Kartini terhadap ayat suci Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 257, yang berbunyi:
“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
menuju cahaya.
”
Kartini membaca dan merenungi ayat ini setelah ia mulai mempelajari terjemahan Al-Qur’an yang ditulis oleh KH. Saleh Darat, seorang ulama terkemuka dari Semarang. KH. Saleh Darat menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon, sebuah langkah besar pada masa itu mengingat kitab suci masih dianggap hanya layak dibaca dalam bahasa Arab oleh kalangan terbatas. Kartini, yang haus akan ilmu dan pemahaman yang lebih luas, sangat tersentuh oleh upaya ini.
Sayangnya, KH. Saleh Darat wafat sebelum karyanya selesai. Terjemahannya baru
mencakup Surah Al-Fatihah hingga Surah Ibrahim. Namun dari pengantar dan bagian yang sempat ia pelajari, Kartini merasakan pencerahan. Ia melihat bagaimana agama tidak membatasi peran perempuan, tetapi justru membimbing mereka untuk keluar dari
keterkungkungan menuju ruang-ruang kemuliaan dan kesetaraan (Gema.uhamka.ac.id)
Teladan dalam Keagamaan dan Kemajuan
Kartini adalah contoh nyata bagaimana pemikiran progresif tidak berarti meninggalkan akar spiritualitas. Ia membuktikan bahwa semangat keagamaan bisa berjalan berdampingan dengan cita-cita kemajuan dan modernitas. Baginya, pendidikan adalah hak bagi semua,
termasuk perempuan, bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi agar bisa menjalani hidup dengan bermartabat, beriman, dan berdaya.
Kita mengenal Kartini sebagai penulis surat yang penuh gagasan besar. Ia mengkritik
ketimpangan sosial, mempertanyakan adat yang membatasi perempuan, dan memimpikan masa depan di mana perempuan bisa berpendidikan tinggi. Namun, di tengah
keberaniannya sebagai intelektual muda, Kartini tetap rendah hati dan patuh kepada orangtua. Ia tidak lelah belajar, dan tidak ragu mendekatkan diri kepada ajaran agama yang
diyakininya sebagai jalan terang.
📚 Artikel Terkait
Sikap-sikap teladan seperti inilah yang semestinya menjadi esensi peringatan Hari Kartini. Ia adalah figur yang berwawasan luas, pantang menyerah, berani bersuara, dan berjiwa sosial tinggi. Ia tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya, terutama perempuan-perempuan di pelosok yang saat itu bahkan belum mengenal dunia baca-tulis.
Sayangnya, semangat ini seringkali terpinggirkan oleh seremoni yang lebih bersifat simbolik. Perempuan memakai kebaya satu hari, anak-anak diminta menulis esai tentang Kartini, lalu esoknya kembali pada rutinitas. Narasi Kartini tetap hidup, tetapi sering kali tidak mengakar pada nilai-nilai yang sejatinya ia perjuangkan.
Di tengah gempuran modernitas, kemajuan teknologi, dan krisis nilai, keteladanan Kartini
menjadi semakin relevan. Kita memerlukan figur yang menggabungkan keberanian
intelektual dengan kedalaman spiritual. Kita memerlukan semangat belajar yang tidak hanya mendorong kita menjadi pintar, tetapi juga bijaksana. Kita memerlukan
perempuan-perempuan muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga punya kepedulian sosial dan kepekaan terhadap nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.
Kartini mengajarkan bahwa gelap bukan hanya ketidaktahuan, tapi juga ketidakadilan,
keterbelakangan, dan kekeliruan dalam memaknai peran manusia. Sementara terang
adalah simbol harapan, kemajuan, dan cahaya iman. Dan untuk mencapai terang itu,
diperlukan keberanian untuk belajar, untuk bertanya, untuk mempertanyakan yang mapan, dan untuk terus bergerak maju—dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur.
Dari Kartini, kita belajar bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dipisahkan dari kualitas
perempuan di dalamnya. Dan kualitas perempuan tidak bisa dilepaskan dari akses terhadap pendidikan, kebebasan berpikir, dan juga pemahaman spiritual yang mendalam.
Di tengah tantangan zaman, semoga kita tidak hanya mengenang Kartini dalam bentuk
simbol dan seremoni. Lebih dari itu, semoga kita bisa menghidupkan kembali api
semangatnya dalam tindakan nyata—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan dalam
kehidupan kebangsaan kita.
*Praktisi Pendidikan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






