POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bunga Yang Baru Mekar

RedaksiOleh Redaksi
April 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh * IPOUW 

Jayapura

Suasana kelas gaduh, Ribut.

mantra-mantra kecantikan menggema di ujung deretan kursi. Kelompok Siswi – siswi ribut beradu argumen skincare siapa yang paling bagus. IBu Nhovita  guru IPA, tak kunjung terlihat batang hidungnya. 

Seperti bunga yang baru mekar, remaja berseragam putih-biru  itu terus mencari cahaya agar bersinar. Di depan mereka berserakan kantong rupa-rupa kantong make up. Pada benda-benda itu, mereka menggantung asa, berharap menjadi putri di negeri dongeng. 

“Guys, liat deh skincare baru aku. 

Terbaru nih. Udah terbukti glowing dipake artis-artis,”  ucap Jeni, anak Kepada Dinas Perhubungan, sembari menunjukan make upnya yang baru dia beli. 

Bagai perlombaan yang tak  ada garis finish-nya, Giliran tasya, anak kepala sekolah yang berceloteh.

“Kalau aku beli make up ini, kemarin rame di TikTok.  Tidak mau ketinggalan , aku beli satu set make up sama skincare-nya.” tuturnya sembari mengangkat sekantong make up dan skincare lengkap. 

Sedangkan Elis, hanya duduk di bangku pojok belakang, menyaksikan, kawan kawannya memamerkan make up, sesekali ai mencoret buku tulisnya, entah apa yang ia tulis. Mungkin juga iya benci pada kenyataan. Elis, juga ingin, tapi apalah daya ia hanya seorang anak petani.

Matanya menerka terus mengamati mencari celah, agar Elis tahu skincare seperti apa yang dibahas anak anak pejabat itu. 

Ia juga bunga yang sedang mekar-mekarnya. Meski tanpa make up dan skincare sejujurnya ia cantik. Tapi, hatinya terbuai dalam rayuan skincare. Elis juga ingin merasakan sentuhan acaip make up yang katanya bisa menjadi putri di negeri dongeng adalah. Tapi tak mungkin, Elis hanya bisa membayangkan. Elis hanya bisa menatap dari jauh. 

Ayah Elis hanya seorang petani Ibunya, sesekali berkebun atau bertani.

📚 Artikel Terkait

Bimbingan Konseling Kini Dan Esok

Indonesia Raya dan Mercusuar Perdamaian Dunia

Berinovasi di Usaha Kuliner

Generasi Emas 2045 dan Pondasi Pendidikan Kita Masih Retak

***

Malam itu, Elis berselancar di layar kaca handphone miliknya.Di sana, lautan tutorial kecantikan mengalir deras.

Elis  tak bisa membendungnya rasa ingin memilikinya telah meluap – luap. Setiap tutorial kecantikan yang dilihatnya adalah tiket ajaib yang akan mengantarkannya pada obrolan teman-temannya. Demi menjadi setara dengan kawan kawan anak pejabatnya, Elis harus memiliki semua make up dan skincare. 

Bagaimana pun, elis adalah bunga yang ingin mekar di tengah bunga-bunga indah lainnya. Ia terhempas dalam arus lautan standar kecantikan.

Dalam benaknya Elis, cantik adalah bagi mereka yang memakai skincare, lipstik juga make up. 

Remaja perempuan itu seperti layang-layang di angin pujian, Ia terbang tinggi,  tapi tetap tergantung pada benang penilaian orang lain. Tombol like, comment, dan respost, adalah simbol kesempurnan.

***

Tekadnya sudah bulat. Pada aplikasi orange, jemari kecilnya menekan tombol “pesan sekarang.” COD adalah pilihannya, Pada orangtuanya, ia akan meminta bayarannya. Barang – itu ia harus miliki bagaimanapun ceritanya. 

Siang itu, matahari begitu terik,membakar semangat Elis. Skincare pesanannya menari-nari di kepalanya. Tak sabar. Sepanjang malam hingga siang ini hatinya gembira sebentar lagi sentuhan ajaib lipstik, make up dan skincare ia akan rasakan. Ia benar benar tak sabar. 

Mentari yang tadinya di timur cepat sudah ke barat. Handponenya bergetar notif pengiran barang sudah diantar. kakinya tak menyentuh tanah, ia melesat cepat menuju rumah gubuknya. Pengirim paket sudah menunggunya di depan kebun halaman rumahnya, paket skincare tiba.

Elis melompat girang,

“Ibu, minta dua puluh ribu. Mau bayar paket,” teriaknya dari luar.

Tergopoh-gopoh ibunya keluar. 

“Ibu tidak ada uang. Tunggu bapakmu pulang, anak,”

Ibu paruh baya itu membujuk.

“Ya tidak bisa ibu . Ini COD, kalo paketnya datang, harus langsung bayar,” Elis  melempar tas sekolahnya ke tanah.

Remaja perempuan itu kebakaran jenggot.

Berlari ia ke dapur, secepat kilat ia kembali ke teras, Pisau dapur ditodongkannya ke perempuan pemilik Rahim tempatnya berasal.

Ia seperti serigala muda yang menggigit induknya sendiri, Elis  lupa pada kasih sayang yang telah menghidupinya. Surga kecantikan t’lah menutup mata hatinya.

Terpaksa ibunya menyerahkan uang 100 ribu. Hari ini mereka rela tidak makan demi memuaskan nafsu si Elis anaknya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Potensi Laut dan Perekonomian Masyarakat Tanpa Melindas Nilai BudayaBlok Masela dan Oceanomics Indonesia Timur

Potensi Laut dan Perekonomian Masyarakat Tanpa Melindas Nilai BudayaBlok Masela dan Oceanomics Indonesia Timur

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00