POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Hanya Mimpi

Sindi HazirahOleh Sindi Hazirah
April 15, 2025
Tags: CerpenLiterasi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sindi Hazirah

Beberapa hari lagi, kami sekelas akan berpisah dan akan melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri. Kelas 12 adalah kelas terakhir dari masa-masa remaja yang indah. Kisah cinta pertama, persahabatan yang erat dan juga manis, pahitnya drama yang menghiasi kami.

Hari ini kami berencana untuk piknik. Membagikan momen bahagia yang tidak akan terkalahkan dan akan terkenang sampai kapanpun. Aku tersenyum bahagia, menatap teman-teman yang berlarian menuju halaman museum yang menyimpan banyak peninggalan sejarah.

“Aku terlalu bahagia sampai rasa-rasanya ini seperti mimpi,” ujar Mella yang berdiri di sampingku. Wajahnya gelisah tak menentu, membuat aku tertawa.

“Apa salahnya sih sesekali bahagia? Nikmati saja.”

Dia hanya mengangguk kecil merespon ucapanku. Lalu, dengan langkah tenang ia kemudian menyusul teman-teman yang lain di depan sana.

Beberapa diantara mereka berfoto-foto untuk sekedar kenangan, beberapanya lagi asik melihat prasasti-prasasti unik sampai lupa mengabadikannya lewat ponsel. Sementara aku hanya menatap mereka dari kejauhan, melihat senyum indah yang terukir di wajah teman-teman yang mungkin jarang ku lihat dari dahulu.

Namun, ujian telah selesai sekarang. Kami sudah bisa bebas dan melanjutkan kehidupan seperti biasanya. Ya, walaupun yang namanya hidup pasti ada masalah, tetapi setidaknya beban yang kami pikul sudah sedikit berkurang.

Tanpa ku sadari, hujan turun di luar sana. Kami semua berlari menuju jendela kaca besar di dinding sisi kiri museum. Melihat air hujan yang membasahi jendela dengan alunan lagu dari ponsel Abimanyu. Pemuda tampan itu hanya tertawa tanpa beban, menyetel lagu sedih untuk membuat momen jadi seperti di melodrama.

“Abimanyu, volumenya jangan terlalu kencang. Mengganggu wisatawan yang lain.”

Dia hanya cengengesan mendengar teguran sang guru. Bahkan tak menggubrisnya. Masih tetap menaikkan volume agar semua bisa mendengar.

“Kau ini,” kesal ku yang hanya membuatnya tertawa.

“Tapi aku suka lagunya. Ini cocok dengan suasana sekarang,” lanjut Mahesa kemudian.

“Teman-teman, bagaimana kalau kita mandi hujan saja?” saran Yuda tiba-tiba, membuat semuanya tampak berpikir.

Tak lama setelah itu, semuanya malah tersenyum lebar. ” Boleh juga idenya!” kata kami serentak.

Kami semua keluar dari museum. Ibu guru hanya bisa geleng-geleng kepala, tetapi tidak melarang, karena pikirnya kami mungkin akan bahagia dengan hal sederhana itu.

Saat hujan mengenai badan, saat tawa kami muncul diiringi nyanyian sang hujan, saat mata saling memandang dengan binarnya masing-masing, dan saat awan mendung semakin menjatuhkan bulir-bulir air itu, kami menikmati masa remaja ini dengan keindahan yang tidak akan terlupakan. Menciptakan momen yang mungkin akan kami kenang sampai kami tua.

Atau mungkin .. kami tidak akan pernah tua.

“Aaakh!” Aku terbangun. Di sebuah ruangan bernuansa putih dan bau obat-obatan yang memenuhi panca indra. Infus yang terpasang di tangan kananku sudah menjadi pertanda bahwa aku sekarang berada di rumah sakit. Ingatan beberapa waktu lalu mulai memenuhi pikiran.

2 Hari Yang Lalu

Bus pariwisata yang diisi oleh 25 remaja dari kelas 12 itu melaju sedang memecah keheningan jalan menuju tempat wisata. Di dalamnya, mereka tertidur pulas karena sudah menghabiskan beberapa jam untuk bernyanyi dan saling melemparkan lelucon.

Hujan deras di luar dan malam yang gelap membuat pak supir kesusahan membawa busnya. Ia berusaha mencari tempat istirahat, tetapi tidak ada apapun di sekitar sini, karena hanya jalanan di pinggir pegunungan yang tidak ada penduduknya.

Saat suara hujan semakin keras dan bertalu-talu, beberapa di antara para siswa terbangun dari tidur. Melihat sekeliling yang sepi, bahkan jendela bus hanya menampilkan air hujan yang mengalir terus-menerus.

“Wah, hujannya sangat deras.”

📚 Artikel Terkait

Antara Ternak Mulyono dan Anak Abah

Guru Penggerak Abdya Berhasil Menulis Buku.

Kedewasaan Organisatoris

PIK-2 Melibas Hutan Lindung Yang Dipaksakan Masuk Menjadi Bagian Dari Proyek Strategis Nasional

“Entah kenapa aku jadi khawatir.”

“Aku juga.”

Beberapa dari mereka tampak gelisah. Memeluk ransel masing-masing dengan erat. Mungkin berusaha menghilangkan sensasi dingin yang menusuk-nusuk kulit, ataupun menghilangkan rasa gelisah yang melanda.

Aku dari tadi tidak tidur. Terjaga sejak berangkat sampai sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja, hatiku dari tadi tidak enakan. Merasa seperti akan ada sesuatu yang menimpa kami. Namun, aku berusaha menepis pemikiran konyol tersebut dengan mendengarkan musik kesukaan.

Disaat seperti ini, aku jadi merindukan keluarga ku di rumah. Akh, semoga aku bisa pulang.

Guntur mulai bersuara, kilat pun tak mau kalah. Aku menatap sekeliling, tampaknya semua dari kami sudah terbangun juga. Melihat mereka yang saling menggenggam tangan untuk sekedar menguatkan satu sama lain. Sementara ibu guru hanya bisa menggigit kukunya dan mengetik sesuatu pada ponsel itu. Mungkin ingin menelepon seseorang.

Guntur mulai bersuara, kilat pun tak mau kalah. Aku menatap sekeliling, tampaknya semua dari kami sudah terbangun juga. Melihat mereka yang saling menggenggam tangan untuk sekedar menguatkan satu sama lain. Sementara ibu guru hanya bisa menggigit kukunya dan mengetik sesuatu pada ponsel itu. Mungkin ingin menelepon seseorang.

“Ayunda, kamu tidak khawatir? Aku rasa .. kita akan menghadapi sesuatu,” ujar Mella yang terlihat sudah menangis.

“Aku takut,” lanjutnya lagi. “Aku juga takut, tapi.”

Tin!!!!!!!

Dhoom!!!

“AAAAAAA!!!”

Suara-suara itu memenuhi telinga saat semuanya mulai menggelap. Aku tidak lagi tahu apa yang terjadi, seperti kekhawatiran tadi, mungkin saja, kami semua .. tidak akan bisa melanjutkan hidup.

Air mata jatuh membasahi pipi. Aku ingat yang terjadi dua hari yang lalu. Bus yang kami naiki jatuh ke jurang yang curam.

“Di mana teman-temanku yang lain?” tanyaku kepada ibu yang sedang memotong apel untukku di samping ranjang.

Ibu tidak langsung menjawab. Dia hanya menampilkan wajah datar dan berusaha menutupi emosi di baliknya.

“Ibu!”

Beliau terisak. “Mereka semua sudah tiada, Ayu.”

Aku menutup mulutku tak percaya. Air mata terus berjatuhan tanpa aba-aba, sementara kepalaku bergeleng-geleng menolak untuk percaya apa kata ibu. “Tidak mungkin!” elak ku.

“Semuanya, semuanya tiada, Ayu. Bahkan guru dan supir mu. Hanya dirimu yang selamat.”

Bagai disambar petir di siang hari. Ini berita yang tidaklah menyenangkan. Aku tidak ingin menerima kenyataan ini. “Ja-jangan bercanda ibu….” Aku menutup seluruh wajahku. Menumpahkan air mata disana.

Aku bermimpi tentang mereka disaat mereka telah tiada. Itu mimpiku, tetapi terasa seperti kenyataan.

Aku kemudian bangun dari ranjang, membawa tiang infus dan keluar dari ruangan itu. Ibu mengejar sampai aku tiba di halaman rumah sakit. Suasana hari ini tampak cerah, berbanding terbalik dengan hari saat kami kecelakaan.

Suara tangisanku yang meratapi ini semua membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menatap heran, walau tidak ada yang ingin ikut campur. Sementara aku masih terus menangis, mengabaikan semuanya yang ada di sekelilingku.

Kenapa ini terjadi kepada kami?? Dimana Mella? Kenapa dia bahkan tidak menjengukku yang sakit?

“Ayu, aku rasa aku menyukaimu. Aku tahu kamu tidak ingin berpacaran sekarang, tapi haruskah saat kita lulus nanti?” Senyum kikuk Abimanyu saat itu kembali muncul menyesakkan jantungku.

Namun, kamu tidak lagi ada disini, Abi. Kamu telah pergi lebih dulu, meninggalkan aku sendiri.

“Haruskah kita membangun toko kue bersama? Kau tau, aku sangat suka membuat kue dan kau juga begitu. Kita mempunyai bakat yang sama.” Mata binar Mahesa waktu itu sungguh indah saat ia mulai melontarkan ide tersebut.

Kenapa .. kenapa kau juga pergi, Mahesa? Bagaimana dengan mimpimu menjadi pemilik toko kue terbanyak? Kau .. kau bahkan belum mencapai mimpi itu.

“Mimpiku sederhana, aku ingin kita terus berteman sampai kita tua.”

Mimpimu tidak terwujud, Yuda.

Kalian semua telah pergi ke sisi lain dunia. Kembali menghadap sang pencipta. Nyawa yang singkat, tetapi kenapa .. kenapa sesingkat itu?? Bagaimana dengan aku? Kenapa kalian meninggalkan ku untuk mengenang semuanya. Ini tidak adil!!!

Aku bertekuk lutut. Menumpahkan semuanya di sana. Jadi .. bahagia yang mewarnai kita saat itu, hanya mimpi, ya?

TAMAT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tags: CerpenLiterasi
Sindi Hazirah

Sindi Hazirah

Lahir di desa Meugit, Ujung Rimba, Pidie Aceh. Lulusan SMA N 1 Mutiara, Beureunun yang bercita-cita ingin menjadi penulis yang karyanya dikenal dengan nama baik selama berabad-abad. Layaknya William Shakespeare yang terkenal dengan karya Romeo and Juliet, karya fenomenal yang hampir semua orang di dunia tahu tentang karyanya. Benar-benar legenda.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Gen Z Suara Kita: Saatnya Politik Dihidupkan Kembali oleh Generasi Digital

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00