• Latest
Dokter Spesialis Selangkangan - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | #Tenaga Medis | Potret Online

Dokter Spesialis Selangkangan

April 15, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dokter Spesialis Selangkangan

Redaksi by Redaksi
April 15, 2025
in #Tenaga Medis, Bau Busuk, Kekerasan Seksual, Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Dokter Spesialis Selangkangan - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | #Tenaga Medis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini didramatisasi dari kasus pemerkosaan anak pasien oleh dokter anestesi RS. Hasan Sadikin Bandung)

Di balik jendela kaca, kupandangi tubuh Ayah yang terkulai di atas bansal ruang ICU.
Matanya terpejam, kulit keriputnya bagai daun gugur di musim kemarau, sunyi dan rapuh.
Selang-selang infus menjalar seperti ular lapar menggerogoti tubuhnya.

Sekali lagi, kulirik Ayah.
Tak ingin kutinggalkan ia, sedetik pun.
Namun inilah panggilan seorang dokter.
Titahnya bagai sabda yang harus dituruti, jika ingin sembuh.

“Ayo Mbak, kita harus segera lakukan tindakan.” Suara dokter anestesi itu menggema untuk ketiga kalinya.
Terburu-buru ia memintaku ikut, ke ruang lain demi kesembuhan Ayah, katanya.

“Tapi… bagaimana dengan Ayahku, Dok?” suaraku gemetar, nyaris lenyap dalam kekhawatiran.
Wajah Dokter Andy mengeras.
“Mbak Nita mau Ayahnya sembuh atau tidak? Kalau mau, ikut ke lantai tujuh sekarang.”

Langkahku tergesa di belakang tubuhnya yang tinggi, besar.
Ia tampak muda. Gagah.
Tapi sorot matanya mulai kurasakan asing.

Di lantai tujuh, ruangan kosong.
Sunyi memelukku erat.
Mataku menyisir ruangan.
Tak ada perawat. Tak ada siapa-siapa.
“Ii… ini… ruangan apa, Dok? Kenapa sepi? Di mana perawatnya?” suara gugupku pecah menembus tembok ruangan kosong itu.

“Pakai baju pasien ini, lalu baring di bansal. Kita harus crossmatch darah,” katanya. Tapi sorot matanya tak lagi menenangkan.
Ia bagai harimau yang siap menerkam.

Jantungku berlomba dengan waktu, nafas tak beraturan.
Di kepalaku huru-hara: kenapa ganti baju? kenapa di sini, bukan di laboratorium?

Sekelebat wajah Ayah terlintas.
Sebulan sudah ia tertidur lemah.
Matanya tak pernah terbuka.
Bibirnya kelu.
Aku rindu suaranya, senyumnya.
Aku ingin ia kembali.

Aku harus percaya pada dokter.
Kata mereka, dokter tahu yang terbaik.
Maka, satu-satu keraguannku kuhempaskan, kubiarkan berhamburan di lantai.

Infus ditancapkan ke tanganku. “Darah ini akan menyelamatkan Ayahmu,” kata dokter Andy.
Lalu, segalanya gelap.
Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.


Saat kuterbangun, ruangan redup. Langit-langit menatapku kosong. Tak ada siapa-siapa.
Tubuhku nyeri. Tapi yang paling perih, selangkanganku.

Perlahan, aku duduk di bansal.
Mataku mengawasi sekeliling.
Selangkanganku kembali nyeri.
Tapi… “Ya Tuhan, kenapa aku tak memakai celana dalam?”

Aku turun dari bangsal.
Lantai dingin dan lengket.
Cairan putih berserakan.
Kepalaku penuh tanya, penuh takut, penuh gemuruh yang tak bisa kuteriakkan.

Terseok-seok aku tinggalkan ruangan.
Di depan lift, petugas kebersihan menatapku, ia seperti malaikat yang dikirim Tuhan.
Dipapahnya aku menuju ruang perawatan.
Kali ini, ruangan terang.
Ada alat-alat medis, ada manusia, ada harapan.

Seorang dokter perempuan datang.
Lembut ia bicara: “Dari hasil visum, Mbak mengalami kekerasan di bagian vagina.”

Langit runtuh menimpa jiwaku.
Duniaku gelap seketika.
Darahku nyaris berhenti mengalir.

Dokter anestesi itu, yang kupercayai, yang kujadikan harapan untuk kesembuhan Ayah, telah memperkosaku dengan cara yang paling keji.

Kini, aku memikul dua luka: Luka Ayah yang masih terbaring di ruang ICU, dan luka tubuhku yang tak bisa kusembuhkan sendiri.

Tuhan, bagaimana caraku melanjutkan hidup?
Ayah masih membutuhkan aku, tapi aku juga butuh ruang untuk merawat hatiku yang hancur, yang tak lagi utuh.

15 April 2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com