POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Tenaga Medis

Dokter Spesialis Selangkangan

Redaksi by Redaksi
April 15, 2025
in #Tenaga Medis, Bau Busuk, Kekerasan Seksual, Puisi Essay
0
Dokter Spesialis Selangkangan - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | #Tenaga Medis | Potret Online

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini didramatisasi dari kasus pemerkosaan anak pasien oleh dokter anestesi RS. Hasan Sadikin Bandung)

Baca Juga
literasi digital
Pahlawan Dalam Pena
17 Mei 2025

Di balik jendela kaca, kupandangi tubuh Ayah yang terkulai di atas bansal ruang ICU.
Matanya terpejam, kulit keriputnya bagai daun gugur di musim kemarau, sunyi dan rapuh.
Selang-selang infus menjalar seperti ular lapar menggerogoti tubuhnya.

Sekali lagi, kulirik Ayah.
Tak ingin kutinggalkan ia, sedetik pun.
Namun inilah panggilan seorang dokter.
Titahnya bagai sabda yang harus dituruti, jika ingin sembuh.

Dokter Spesialis Selangkangan - 2025 07 31 20 50 09 | #Tenaga Medis | Potret Online
Baca Juga
Essay
Sajak dan Essai Alkhair Aljohore
21 Agu 2025

“Ayo Mbak, kita harus segera lakukan tindakan.” Suara dokter anestesi itu menggema untuk ketiga kalinya.
Terburu-buru ia memintaku ikut, ke ruang lain demi kesembuhan Ayah, katanya.

“Tapi… bagaimana dengan Ayahku, Dok?” suaraku gemetar, nyaris lenyap dalam kekhawatiran.
Wajah Dokter Andy mengeras.
“Mbak Nita mau Ayahnya sembuh atau tidak? Kalau mau, ikut ke lantai tujuh sekarang.”

Dokter Spesialis Selangkangan - 023811d8 1811 451a be46 774ad8cee8ff | #Tenaga Medis | Potret Online
Baca Juga
puasa
Sujud Terakhir di Sepertiga Malam
05 Mar 2025

Langkahku tergesa di belakang tubuhnya yang tinggi, besar.
Ia tampak muda. Gagah.
Tapi sorot matanya mulai kurasakan asing.

Di lantai tujuh, ruangan kosong.
Sunyi memelukku erat.
Mataku menyisir ruangan.
Tak ada perawat. Tak ada siapa-siapa.
“Ii… ini… ruangan apa, Dok? Kenapa sepi? Di mana perawatnya?” suara gugupku pecah menembus tembok ruangan kosong itu.

“Pakai baju pasien ini, lalu baring di bansal. Kita harus crossmatch darah,” katanya. Tapi sorot matanya tak lagi menenangkan.
Ia bagai harimau yang siap menerkam.

Jantungku berlomba dengan waktu, nafas tak beraturan.
Di kepalaku huru-hara: kenapa ganti baju? kenapa di sini, bukan di laboratorium?

Sekelebat wajah Ayah terlintas.
Sebulan sudah ia tertidur lemah.
Matanya tak pernah terbuka.
Bibirnya kelu.
Aku rindu suaranya, senyumnya.
Aku ingin ia kembali.

Aku harus percaya pada dokter.
Kata mereka, dokter tahu yang terbaik.
Maka, satu-satu keraguannku kuhempaskan, kubiarkan berhamburan di lantai.

Infus ditancapkan ke tanganku. “Darah ini akan menyelamatkan Ayahmu,” kata dokter Andy.
Lalu, segalanya gelap.
Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.


Saat kuterbangun, ruangan redup. Langit-langit menatapku kosong. Tak ada siapa-siapa.
Tubuhku nyeri. Tapi yang paling perih, selangkanganku.

Perlahan, aku duduk di bansal.
Mataku mengawasi sekeliling.
Selangkanganku kembali nyeri.
Tapi… “Ya Tuhan, kenapa aku tak memakai celana dalam?”

Aku turun dari bangsal.
Lantai dingin dan lengket.
Cairan putih berserakan.
Kepalaku penuh tanya, penuh takut, penuh gemuruh yang tak bisa kuteriakkan.

Terseok-seok aku tinggalkan ruangan.
Di depan lift, petugas kebersihan menatapku, ia seperti malaikat yang dikirim Tuhan.
Dipapahnya aku menuju ruang perawatan.
Kali ini, ruangan terang.
Ada alat-alat medis, ada manusia, ada harapan.

Seorang dokter perempuan datang.
Lembut ia bicara: “Dari hasil visum, Mbak mengalami kekerasan di bagian vagina.”

Langit runtuh menimpa jiwaku.
Duniaku gelap seketika.
Darahku nyaris berhenti mengalir.

Dokter anestesi itu, yang kupercayai, yang kujadikan harapan untuk kesembuhan Ayah, telah memperkosaku dengan cara yang paling keji.

Kini, aku memikul dua luka: Luka Ayah yang masih terbaring di ruang ICU, dan luka tubuhku yang tak bisa kusembuhkan sendiri.

Tuhan, bagaimana caraku melanjutkan hidup?
Ayah masih membutuhkan aku, tapi aku juga butuh ruang untuk merawat hatiku yang hancur, yang tak lagi utuh.

15 April 2025

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah