Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Kita lanjut ke part 2, ya. Sebuah video parodi, seorang pria kekar rambut jagung, menempeleng satu per satu warga negara asing. Warga Jepang ditempeleng tanpa melawan. Begitu juga Indonesia, India, Korea Selatan, dll. Ditempeleng tanpa bisa fight back. Giliran warga China ditempeleng bolak-balik, bergeming. Matanya melotot, kepala tegak, lalu memukul balik dan KO. Hanya parodi, wak.
Kembali ke laptop. Setelah sukses rebutan pelanggan di pasar malam global, kini masuk ke babak baru, rebutan lahan parkir. Karena, ya, sebagaimana para pedagang tahu, lokasi itu segalanya. Siapa cepat, dia dapat. Siapa lambat, parkir di got.
China itu punya gaya tikus ninja menyusup ke segala sudut. Ibarat pedagang cilok yang datang pagi-pagi, sebelum pasar buka, lalu naruh meja di pojok, pasang payung, dan bilang, “Ah, saya duluan, ya.” Nggak lama, dia bawa 3 temannya buka warung mie instan, toko kelontong, dan tempat pangkas rambut. Eh, tahu-tahu satu blok udah dikuasai.
Contohnya? Belt and Road Initiative (BRI). Itu bukan sekadar proyek infrastruktur, tapi cara elegan nyari lahan parkir dagang di 70+ negara. Bikin pelabuhan di Sri Lanka, jalan tol di Pakistan, dan rel kereta di Kenya. Yang penting bisa taruh barang, taruh spanduk, dan kasih brosur promo. Rasa-rasanya, kalau Indonesia buka warung kopi di Antartika, China udah ada duluan buka toko termos.
Amerika dengan gaya preman parkir resmi yang bawa satelit. Ia datang sambil teriak, “Ini tempat saya!” Walau datang belakangan, dia bawa spanduk besar, sound system, dan satelit mata-mata buat mantau siapa yang belanja ke siapa. Kalau ada negara yang belanja terlalu banyak dari China, langsung dikasih blacklist sambil ngomong, “Benerin hak asasi manusia lo dulu!”
Amerika juga rajin banget naruh militer di lebih dari 750 pangkalan di 80 negara. Katanya sih buat “menjaga perdamaian”, tapi kok ya deket-deket tempat yang potensial buat dagang. Kayak preman parkir yang bilang “Jaga mobilnya, Bang,” padahal mobil baru berhenti juga belum.
📚 Artikel Terkait
China, “Saya bikin pelabuhan gratis di sini, ya. Nanti kalau mau angkut barang, tinggal calling.”
Negara kecil, “Wah, makasih!”
Amerika, dari kejauhan sambil nunjuk, “Kamu jangan terlalu dekat sama dia. Kamu kan sahabat aku.”
Negara kecil, (bingung, sambil pegang dua dus mie dan dua kotak burger)
China bawa teh hijau, bakpao isi daging, dan dumpling. Amerika bawa burger double cheese, fries ukuran galon, dan soda seukuran ember. Negara-negara berkembang pun bingung, makan sehat tapi bikin lapar lagi, atau makan kenyang tapi kena diabetes?
Akhir kata, dalam dunia dagang yang absurd ini, ada dua pendekar utama, Pendekar Cilok Sabaran dari Timur yang berprinsip, “Pelan-pelan, yang penting semua jadi pelanggan.” Pendekar Fast Food Bertameng Nuklir dari Barat yang prinsipnya, “Kalau gak bisa dijualin, ya dibom sekalian.”
Sementara itu, kita sebagai penonton, atau pedagang kecil yang baru buka lapak sabun batangan, cuma bisa pasang spanduk kecil bertuliskan, “Bebas dari dua kutub, cukup cari untung seribu.”
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






