Dengarkan Artikel
Oleh: TM Zulfikar
Dalam beberapa waktu terakhir, publik Aceh dikejutkan oleh sorotan terhadap anggaran belanja Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh. Bukan karena keberhasilan pelestarian hutan atau penegakan hukum lingkungan, melainkan karena dua hal yang terkesan remeh temeh namun menyita perhatian: gorden dan sepatu dinas.
Apakah ini sekadar isapan jempol? Tidak. Rincian anggaran yang beredar menunjukkan pengalokasian dana yang dinilai tidak mencerminkan semangat efisiensi dan prioritas terhadap masalah lingkungan yang lebih krusial. Di tengah ancaman deforestasi, pencemaran sungai, dan konflik kawasan hutan, publik justru disuguhi “drama” administratif yang seolah mengesampingkan esensi tugas utama DLHK.
Gorden dan sepatu dinas bukanlah masalah jika ditempatkan dalam konteks kebutuhan dasar operasional. Namun menjadi sorotan saat nilainya tidak wajar atau terlalu mencolok dibandingkan dengan program-program nyata penyelamatan lingkungan. Ini bukan hanya soal angka, melainkan soal sensitivitas, etika, dan keberpihakan anggaran terhadap kebutuhan rakyat dan kelestarian alam.
📚 Artikel Terkait
Seharusnya, DLHK menjadi garda depan dalam merawat hutan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memediasi konflik lingkungan. Namun jika yang lebih dulu dibenahi adalah gorden ruang kantor dan sepatu para pejabat, maka jangan heran bila kepercayaan publik tergerus perlahan.
Kita membutuhkan lembaga yang bukan hanya bekerja, tapi juga memberi teladan. Lembaga yang menginspirasi masyarakat untuk peduli lingkungan, bukan mengundang cibiran karena urusan yang tidak subtansial. Maka pertanyaannya bukan sekadar “butuh atau tidak,” tapi “tepat atau tidak,” dan yang paling penting: “bermanfaat untuk siapa?”
DLHK Aceh masih punya waktu untuk mengembalikan kepercayaan. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Karena di luar sana, hutan terus ditebang, air sungai terus tercemar, dan masyarakat adat terus kehilangan ruang hidup. Jangan sampai semuanya benar-benar hilang… hanya demi sepasang sepatu dan sehelai gorden.
Penulis adalah Pemerhati Lingkungan Aceh/Kandidat Doktor Bidang Sosial Lingkungan Sekolah Pascasarjana USK
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






