POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SI BUTA DARI GUA SAMPAH

Akmal Nasery BasralOleh Akmal Nasery Basral
April 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

SKEMA
(Sketsa Masyarakat)

Ulasan Film Srikanth

Kisah nyata seorang tunanetra yang mengubah sistem pendidikan India, dan menjadi aktifis industri daur ulang. Biopic tiga babak yang mendobrak. 4/5

Akmal Nasery Basral*

1/
Bayi Srikanth nyaris dikubur hidup-hidup oleh ayah kandungnya Damodar Bolla. Mereka hidup di dusun sumuk Machilipatnam, satu pelosok provinsi Andhra Pradesh, berjarak 350 km dari ibu kota Hyderabad yang hiruk. Ketika liang makam sudah menganga, sang ibu datang mengiba agar anak pertama mereka dibiarkan hidup dengan segala keterbatasannya. Hati sang ayah meleleh. Niat jahanam sebelumnya menjadi padam.

Srikanth anak pertama pasangan buruh tani dengan kualitas hidup fakir. Layaknya lelaki India, sang ayah seorang penggemar fanatik olahraga kriket. Dia mencomot nama pemain legendaris Krisnamachari Srikkanth untuk nama bayinya dengan harapan agar sang putra juga menjadi pemain kriket masyhur kelak. Apa daya Srikanth lahir dengan kondisi buta. Para tetangga memberikan saran toksik “anakmu akan menderita seumur hidupnya, karena itu tak perlu dia tumbuh dewasa” yang sempat dipercaya Damodar.

Maka babak pertama film ini dimulai dengan masa kecil Srikanth mengalami beragam perundungan dan teman sebaya dan lingkungan. Sampai akhirnya dia menjadi murid sekolah khusus bagi tunanetra (setingkat SMP) di Hyderabad.

Kecerdasan Srikanth membuatnya menjadi murid terpintar. Saat kelulusan, dia diminta memberikan pidato. Di depan ketua yayasan yang juga penderma utama sekolah, mulut Srikanth membocorkan rahasia bahwa para guru bisa makan enak dengan lauk ayam dan daging (“tercium baunya dari dapur sekolah”), namun para murid selalu mendapatkan menu kacang-kacangan.

Pidato itu membuat marah pengurus sekolah yang mengusirnya, bahkan mengambil tongkat milik sekolah yang selalu digunakan Srikanth untuk membantunya berjalan. Tertatih-tatih tanpa alat bantu, Srikanth berulangkali nyaris menjadi korban tabrakan lalu lintas Hyderabad yang padat.

Seorang guru perempuan, Devika Malvade (diperankan aktris senior Jyothika Saravanan), mencari dan menyelamatkan Srikanth yang nyaris menjadi pengemis. Di bawah asuhan Bu Guru Devi, Srikanth menemukan kembali minatnya pada dunia ilmu pengetahuan.

2/
Srikanth lahir 7 Juli 1991–ya, saat ini usianya 33 tahun—termasuk Gen Y/milenial. Namun sistem pendidikan India di awal abad ke-21 saat dia ingin masuk SMA masih belum berpihak kepada kaum difabel. Meski lulus dengan nilai tertinggi, Srikanth tak bisa masuk jurusan IPA karena tak ada buku teks dalam huruf Braille. Srikanth menggugat ke pengadilan.

Gugatannya diterima dan dia bisa bersekolah. Caranya? Bu Guru Devi merekam pelajaran sains ke dalam pita kaset. Srikanth belajar dengan mendengarkan dan menghafalkan. Hanya itu satu-satunya cara karena tetap tak ada buku teks dalam huruf Braille karena “sistem pendidikan India tak bisa diubah hanya untuk kebutuhan satu orang”.

Saat di SMA, Srikanth memenuhi keinginan ayahnya agar dia menjadi pemain kriket dengan menjadi anggota klub bagi para difabel. Tenyata bakatnya juga menonjol sehingga dia masuk seleksi untuk menjadi anggota timnas kriket difabel India. Periode SMA pun ditutup Srikanth dengan prestasi menjulang: sebagai lulusan terbaik. Namun niatnya melanjutkan kuliah ke IIT (India Institute of Technology) kembali kandas karena kampus teknologi terkemuka itu juga tak punya kurikulum bagi tunanetra.

📚 Artikel Terkait

Air Mata di Tanah Rencong

Gaji Direksi  BUMN Dan Serakahisme 

Bumiku Menangis

Jadilah Legenda

Kali ini Srikanth menyerah, lelah. Dia sudah tak mau berperkara melawan sistem pendidikan India yang jumud dan tak berpihak kepada difabel. Namun Bu Guru Devi datang dengan ide gemilang, “Jika kampus India menolakmu, mengapa kau tak coba mendaftar ke kampus di Amerika saja?”

Setelah melalui serangkaian wawancara video call dengan sejumlah kampus teknologi di AS, Srikanth diterima sebagai mahasiswa oleh empat kampus. Dia memilih MIT (Massachussets Institute of Technology), Boston, sebagai tempatnya menuntut ilmu. Dia gugurkan impian menjadi pemain kriket India, sekaligus juga menggugurkan impian ayahnya.

Babak kedua film diisi dengan kehidupan Srikanth sebagai mahasiswa MIT. Dia bukan hanya aktif di bidang akademis, juga kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga yang berbasis di stadion. Dengan selera humor yang tinggi, dia memelesetkan namanya sendiri yang dalam dialek Amerika disebut “Sri Can’t” menjadi “Sri Can”. Tak ada yang tak bisa dijalaninya.

Pada periode ini pula, Srikanth bertemu dengan Veera Swathi, gadis India yang kelak menjadi istrinya. Dan melalui saran Swathi pula Srikanth yang awalnya tak mau pulang ke India, akhirnya mau balik ke kampung halamannya untuk meningkatkan martabat hidup kaum tunanetra dan mengubah cara pandang masyarakat kepada mereka.

3/
Babak ketiga film berdurasi 134 menit ini ditandai dengan kepulangan Srikanth ke Hyderabad. Awalnya dia—kembali dibantu Bu Guru Devi—membuka kelas komputer bagi para tunanetra untuk meningkatkan kemampuan mereka di pasar tenaga kerja. Namun seiring berjalannya waktu, perusahaan-perusahaan setempat tetap lebih memprioritaskan calon karyawan “normal”.

Srikanth banting setir. Ide terbarunya adalah membuat perusahaan yang mendaur ulang sampah menjadi kertas multiguna yang juga bisa didaur ulang. Saat di AS, dia melihat dua perusahaan besar yang bisa melakukan itu. Dia yakin hal serupa bisa terjadi di India. Idenya mendapat sambutan positif dari investor Ravi Mantha, yang kelak menjadi mitra usaha sekaligus sahabatnya. Namun mendirikan perusahaan di negara berlapis birokrasi seperti India bukan perkara mudah. Srikanth jatuh bangun membangun Bollant Industries.

Di fase ini, sutradara Tushar Hiranandani mengemas sebuah biopic ( biographical picture /film biografi) yang apik. Tushar tak menampilkan Srikanth sebagai manusia sempurna, apalagi sebagai malaikat tanpa salah, meski sebagian masyarakat India yang mengenalnya mulai “menuhankan” dirinya.

Egoisme, sikap ketus, dan ketidakpedulian sosial Srikanth ditampilkan apa adanya. Termasuk konfliknya dengan Ravi Mantha, bahkan dengan Bu Guru Devika yang selalu sabar dan telaten menghadapi perangai Srikanth yang bisa muncul tak terduga.

Termasuk juga bagaimana Srikanth memanipulasi teman masa kecilnya di depan media massa, namun mencemooh dan menolak membantunya saat tak ada media massa di sekitar mereka. Srikanth juga sulit meminta maaf jika dia melakukan kesalahan kepada orang lain. Dan itu menjadi sebagian faktor yang cukup mengganggu dirinya sendiri sehingga tak jarang dalam puncak keputusasaan dia menyebut dirinya sebagai “sampah”.

4/
Srikanth masuk dalam daftar MTW ( movie to watch) saya sejak mulai tayang di Netflix, Juli 2024. Namun saya baru bisa menontonnya secara utuh usai lebaran 2025 pekan lalu, bahkan menjadi film panjang pertama yang saya tuntaskan usai bulan Ramadan ketika saya juga ‘puasa nonton film’. Saya memberi nilai 4 bintang (dari maksimal 5 bintang) untuk film ini, terutama dari narasi, penyutradaraan Tushar Hirandani dan akting Rajkummar Rao sebagai pemeran Srikanth dewasa.

Dalam kehidupan nyata, Srikanth Bolla mendapat pengakuan dari majalah Forbes pada kategori 30 pengusaha sukses di bawah umur 30 tahun (2017). Setahun sebelum itu, “keangkuhan” Srikanth ditunjukkan saat menerima penghargaan sebagai pengusaha inspiratif di sebuah forum bisnis India.

Saat menyampaikan pidato penerimaan, Srikanth mengejutkan hadirin karena mengembalikan trofi kepada panitia. “Selama saya mendapatkan penghargaan ini dalam kategori khusus, berarti saya belum dianggap sama seperti pengusaha lainnya. Nanti saja kalau saya sudah dianggap sama seperti pengusaha lainnya, kalian boleh memberikan kepada saya penghargaan ini,” katanya disambut gelengan kepala tak percaya Ravi Mantha dan Bu Guru Devika yang juga hadir di antara hadirin.

Yang juga tak ada dalam film adalah pernikahan Srikanth dengan Swathi (2022). Anak pertama mereka lahir pada 2024 diberi nama Nayana yang berarti “mata” dalam bahasa Hindi. Namun tidak adanya adegan ini di film tak mengurangi kekuatan Srikanth sebagai film yang layak ditonton publik secara luas: orang tua, para pendidik (guru, dosen), praktisi pemberdayaan masyarakat, aktivis lingkungan hidup, dan tentu saja, para pejabat pembuat kebijakan publik yang berkaitan dengan hak-hak kaum difabel yang kerap terpinggirkan dalam beragam regulasi dan sistem perundangan-undangan.

Bukan hanya di India. Juga di negara dengan banyak kemiripan sosial budaya seperti Indonesia.

Jakarta, 10 April 2025

*Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Seniman/Budayawan Nasional

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00