• Latest
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - IMG 20250325 WA0018 460cae4b12937a9c0746a62190b6120c | Cerpen | Potret Online

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai

Maret 25, 2025
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - IMG 20250325 WA0018 460cae4b12937a9c0746a62190b6120c | Cerpen | Potret Online

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai

by
Maret 25, 2025
in Cerpen, POTRET Budaya
Reading Time: 2 mins read
0
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai

Jumat sore di Stasiun Cimahi itu langit cerah taya aling-aling. Aku duduk di bangku beton depan stasiun, menunggu. Debu bercampur asap cerutu tukang parkir memenuhi udara. Jam tangan digitalku menunjukkan pukul 17.30—kereta ke Kiaracondong masih 20 menit lagi. Tapi yang kutunggu bukan kereta, melainkan kawan-kawan lama: Eddi Koben. Ujianto dan Andre akan menuugu di statsiun Kircon. Kami terakhir bertemu sebelum pandemi Covid-19 mengunci semua rencana. Sekarang, di awal 2025, kami akhirnya bisa menyambung lagi obrolan-obrolan yang tercecer.

Begitu mereka datang, stasiun yang semula sunyi tiba-tiba ramai oleh tawa. Andre masih pakai kacamata tebalnya yang khas, sementara Ujianto—tak berubah—masih membawa tas berisi peralatan ngopi. Setelah cek tiket, kami naik ke gerbong kereta malam tujuan Kutoarjo. Tujuannya satu: Yogyakarta. Acara seratus tahun Pramoedya, Sitor Situmorang, A.A. Navis, dan Franz Kafka di Balai Budaya Karangkitri. Bagi kami, ini bukan sekadar perjalanan, tapi semacam ziarah literasi.

Di dalam gerbong, dingin malam merayap lewat jendela yang tak tertutup rapat. Kereta bergerak pelan, lalu semakin kencang. Obrolan pun mengalir: dari kabar keluarga, buku-buku baru yang dibaca, hingga kenangan diskusi literasi di Bandung dulu. “Kalian masih ingat waktu kita debat soal *Kafka* di kedai Jante?” tanya Ujianto sambil tertawa. Aku mengangguk, tapi pikiran sebagian masih terikat pada tas kecil di pangkuanku dan cemilan. Di dalamnya ada *Lagu Liwung* karya Teddi Muhtadin—buku kumpulan puisi yang disematkan oleh penulis beberapa tahun lalu.

Malam semakin larut. Ujianto sudah membungkus diri dengan sarung, sementara Andre memakai kupluk hitam sampai menutupi telinga juga Eddi Koben sudah menutup wajahnya dengan sal. Penumpang lain tertidur, digoyang-goyang ritme roda kereta. Aku? Tak bisa tidur. Mungkin karena kopi sore tadi, atau mungkin karena tangan ini gatal ingin membuka *Lagu Liwung*. Akhirnya, kuambil buku kecil berukuran 12×18 cm itu dari saku jaket. Di bawah lampu redup gerbong, kubaca puisi-puisi Teddi Muhtadin dengan pelan.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026

Lagu Liwung terbagi tiga bagian: Perjalanan, Kampung Halaman, dan Bersimpuh. Dua bagian pertama langsung menyergapku. Puisi-puisi di sana seperti percakapan dengan kenangan: ada jalanan Bandung yang bau aspal basah, pasar Cirebon yang riuh oleh teriakan penjual ikan, sampai lereng Merapi yang diam-diam mengamuk. Teddi berhasil menuliskan yang sederhana dengan cara yang tak biasa.

Kereta masih melaju. Angin malam menerobos lewat celah jendela. Kulihat Andre dan Ujianto sudah terlelap. Di luar, gelap pekat, sesekali terpotong cahaya lampu desa yang lewat. Aku menutup Lagu Liwung, lalu menyimpannya kembali ke jaket. Mungkin Teddi sengaja membuat *Bersimpuh* begitu—sebagai ruang yang belum selesai, seperti haji sendiri yang sering disebut sebagai perjalanan pencarian.

Tapi di luar semua kritik, buku ini mengingatkanku pada sesuatu: bahwa puisi tak harus selalu tentang yang sublim. Kadang, ia bisa lahir dari obrolan di warung kopi, debu stasiun, atau bahkan di gerbong kereta tua yang berderak menembus malam. Seperti malam ini: di antara teman-teman lama, buku kecil, dan puisi-puisi yang masih ingin bicara.

Yogyakarta masih delapan jam lagi. Tapi aku tak sabar. Sebab, di ujung perjalanan ini, ada pesta sastra—dan mungkin, diskusi seru lain yang akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 358x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 215x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148

Baca Juga

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | Cerpen | Potret Online

Teungku Syekh Haji Muhammad Waly al-Khalidy; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Kontemporer.

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com