POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai

Oleh
March 25, 2025
Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai
🔊

Dengarkan Artikel

Malam Kereta, Buku Kecil, dan Percakapan yang Tak Selesai

Jumat sore di Stasiun Cimahi itu langit cerah taya aling-aling. Aku duduk di bangku beton depan stasiun, menunggu. Debu bercampur asap cerutu tukang parkir memenuhi udara. Jam tangan digitalku menunjukkan pukul 17.30—kereta ke Kiaracondong masih 20 menit lagi. Tapi yang kutunggu bukan kereta, melainkan kawan-kawan lama: Eddi Koben. Ujianto dan Andre akan menuugu di statsiun Kircon. Kami terakhir bertemu sebelum pandemi Covid-19 mengunci semua rencana. Sekarang, di awal 2025, kami akhirnya bisa menyambung lagi obrolan-obrolan yang tercecer.

Begitu mereka datang, stasiun yang semula sunyi tiba-tiba ramai oleh tawa. Andre masih pakai kacamata tebalnya yang khas, sementara Ujianto—tak berubah—masih membawa tas berisi peralatan ngopi. Setelah cek tiket, kami naik ke gerbong kereta malam tujuan Kutoarjo. Tujuannya satu: Yogyakarta. Acara seratus tahun Pramoedya, Sitor Situmorang, A.A. Navis, dan Franz Kafka di Balai Budaya Karangkitri. Bagi kami, ini bukan sekadar perjalanan, tapi semacam ziarah literasi.

Di dalam gerbong, dingin malam merayap lewat jendela yang tak tertutup rapat. Kereta bergerak pelan, lalu semakin kencang. Obrolan pun mengalir: dari kabar keluarga, buku-buku baru yang dibaca, hingga kenangan diskusi literasi di Bandung dulu. “Kalian masih ingat waktu kita debat soal *Kafka* di kedai Jante?” tanya Ujianto sambil tertawa. Aku mengangguk, tapi pikiran sebagian masih terikat pada tas kecil di pangkuanku dan cemilan. Di dalamnya ada *Lagu Liwung* karya Teddi Muhtadin—buku kumpulan puisi yang disematkan oleh penulis beberapa tahun lalu.

Malam semakin larut. Ujianto sudah membungkus diri dengan sarung, sementara Andre memakai kupluk hitam sampai menutupi telinga juga Eddi Koben sudah menutup wajahnya dengan sal. Penumpang lain tertidur, digoyang-goyang ritme roda kereta. Aku? Tak bisa tidur. Mungkin karena kopi sore tadi, atau mungkin karena tangan ini gatal ingin membuka *Lagu Liwung*. Akhirnya, kuambil buku kecil berukuran 12×18 cm itu dari saku jaket. Di bawah lampu redup gerbong, kubaca puisi-puisi Teddi Muhtadin dengan pelan.

📚 Artikel Terkait

Perempuan Dilarang Berpendidikan Rendah

Kutulis Senja Bagi Puan

MBG Tomohon Makan Korban

Antara Mekkah dan NEOM: Wajah Ganda Arab Saudi sebagai Negara Spiritual dan Teknologis

Lagu Liwung terbagi tiga bagian: Perjalanan, Kampung Halaman, dan Bersimpuh. Dua bagian pertama langsung menyergapku. Puisi-puisi di sana seperti percakapan dengan kenangan: ada jalanan Bandung yang bau aspal basah, pasar Cirebon yang riuh oleh teriakan penjual ikan, sampai lereng Merapi yang diam-diam mengamuk. Teddi berhasil menuliskan yang sederhana dengan cara yang tak biasa.

Kereta masih melaju. Angin malam menerobos lewat celah jendela. Kulihat Andre dan Ujianto sudah terlelap. Di luar, gelap pekat, sesekali terpotong cahaya lampu desa yang lewat. Aku menutup Lagu Liwung, lalu menyimpannya kembali ke jaket. Mungkin Teddi sengaja membuat *Bersimpuh* begitu—sebagai ruang yang belum selesai, seperti haji sendiri yang sering disebut sebagai perjalanan pencarian.

Tapi di luar semua kritik, buku ini mengingatkanku pada sesuatu: bahwa puisi tak harus selalu tentang yang sublim. Kadang, ia bisa lahir dari obrolan di warung kopi, debu stasiun, atau bahkan di gerbong kereta tua yang berderak menembus malam. Seperti malam ini: di antara teman-teman lama, buku kecil, dan puisi-puisi yang masih ingin bicara.

Yogyakarta masih delapan jam lagi. Tapi aku tak sabar. Sebab, di ujung perjalanan ini, ada pesta sastra—dan mungkin, diskusi seru lain yang akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Teungku Syekh Haji Muhammad Waly al-Khalidy; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Kontemporer.

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00