POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pajak Turun, Utang Naik

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 18, 2025
Pajak Turun, Utang Naik
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak followers minta, “Bang, bahas Coretax, dong!” Baik, saya coba bahas, tentu dengan gaya absurd. Bahasa Melayu Pontianaknya, “tak tentu rudu, suke-suke.” Sambil menunggu sahur, dan tentu kopi selalu menemani, kita kupas apa sebenarnya Cortax itu.

Coretax. Sistem canggih nan adiluhung yang digadang-gadang akan merevolusi perpajakan Indonesia. Sebuah maha karya digital yang dikembangkan dengan biaya 1,3 triliun. Bayangkan, wak! Uang sebanyak itu! Bisa buat beli mie instan seumur hidup, lengkap dengan telur dan cabe. Tapi alih-alih jadi solusi, sistem ini lebih sering jadi misteri.

Bayangkan lagi, seorang wajib pajak yang dengan semangat empat lima ingin membayar pajaknya. Dia masuk ke sistem, mengisi data, menekan tombol submit, dan… error. Dia coba lagi. Error. Dia coba di pagi hari, error. Siang hari, error. Tengah malam, error. Mungkin Coretax beroperasi di dimensi lain, hanya bisa diakses oleh dewa-dewa digital yang tidak kita kenal. Tapi tenang, Direktorat Jenderal Pajak punya solusi, bersabarlah.

Proyek ini memang luar biasa, bukan hanya dari segi angka, tapi juga dari skala proyeknya. Coretax bukan dibuat sembarangan, melainkan hasil karya konsorsium teknologi internasional dari Korea Selatan, LG CNS-Qualysoft Consortium. Para ahli teknologi dunia turun tangan. Ternyata teknologi secanggih ini masih bisa kalah oleh satu hal, gangguan teknis. Mungkin Coretax ini sebenarnya punya jiwa yang rentan, sering baper, gampang ngambek kalau terlalu banyak yang mengakses. Atau mungkin dia lelah, karena dibangun sejak 2020 tapi masih setengah hati beroperasi.

Namun jangan khawatir, wak! Pemerintah tetap optimis. Bahkan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, sampai harus turun tangan. Beliau meminta Presiden Prabowo untuk mengaudit proyek ini. Bayangkan, 1,3 triliun, habis. Tapi, yang dihasilkan malah debat panjang dan wajah-wajah bingung para pegawai pajak. Di balik layar, para ekonom sibuk berhitung, mencoba mencari tahu bagaimana dampak Coretax ini terhadap penerimaan negara. Hasilnya? Fantastis! Penerimaan pajak Januari 2025 anjlok 41,86%, dari Rp152,89 triliun di Januari 2024 menjadi Rp88,89 triliun. Angka yang cukup untuk membuat siapa pun mendadak religius, memandangi langit, dan bertanya, “Ya Tuhan, kenapa?”

📚 Artikel Terkait

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

Prof. Hasan Langgulung: A Great Psychologist of the Malay World

Nomocracy in Practice

Hening, Diam dan Sunyi

Dampaknya luar biasa. Pemerintah yang tadinya percaya diri bisa membiayai proyek-proyek infrastruktur dan program sosial kini harus putar otak. Opsi yang tersedia? Utang! Tapi tentu saja, utang harus dikelola dengan bijak. Para ekonom pun berkumpul, berdiskusi serius, menyarankan agar pemerintah lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang dalam valuta asing. Karena kalau rupiah terus melemah, bayar cicilan utang bisa lebih menyakitkan dari ditinggal gebetan saat lagi sayang-sayangnya.

Para akademisi juga angkat bicara. Wiyanto Samirin dari Universitas Paramadina dengan wajah penuh keprihatinan mengingatkan bahwa rasio utang terhadap PDB sudah hampir 40%. Debt Service Ratio (DSR) bahkan sudah tembus 45%, jauh di atas batas aman 25%-30%. Artinya, ruang fiskal pemerintah untuk belanja prioritas semakin sempit. Dengan kata lain, kalau Coretax tetap begini terus, kita bisa sampai pada titik di mana negara harus memilih: bayar utang atau bangun jembatan baru.

Di sisi lain, Guru Besar Keuangan Universitas Indonesia, Budi Frensidy berpendapat, sebaiknya pemerintah tetap menerbitkan surat utang, tapi dalam rupiah saja. Lebih aman, lebih nyaman, dan tidak perlu pusing memikirkan nilai tukar dolar yang semakin liar. Pemerintah sendiri sudah menerbitkan surat utang sebesar Rp238,8 triliun sampai Februari 2025, sekitar 37% dari target Rp642,6 triliun. Masalahnya, utang yang harus dibayar tahun ini mencapai Rp800,33 triliun. Ini ibarat menggali lubang baru untuk menutup lubang lama. Terus begitu, sampai lubangnya cukup besar untuk jadi danau buatan.

Tapi tenang, pemerintah punya trik jitu, debt switch. Utang jatuh tempo akan ditukar dengan utang baru yang tenornya lebih panjang. Ibarat orang yang punya cicilan motor, lalu memutuskan untuk ambil cicilan baru biar yang lama bisa ditutup dulu. Mungkin kita bisa ambil hikmah dari semua ini. Bahwa dalam hidup, kita harus tetap optimis. Bahwa dalam kebingungan, kita harus tetap tenang. Dalam menghadapi Coretax, kita harus banyak berdoa.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Blunder Yang Dilakukan Prabowo

Blunder Yang Dilakukan Prabowo

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00