Dengarkan Artikel
Ia bukan dewa atau roh dalam arti tradisional, tetapi lebih seperti cerminan hidup. Ada yang menyebut Dukhan sebagai hukuman, ada pula yang melihatnya sebagai anugerah. Yang pasti, asal-usulnya terletak pada hubungan yang retak antara manusia dan dunia yang memberi mereka kehidupan.
Selama manusia terus melukai bumi, Dukhan akan terus ada, muncul dari kehampaan untuk berkata, “Lihat dirimu, dan perbaiki.”
Dukhan pertama kali muncul di masa lalu yang telah dilupakan, di sebuah peradaban kuno yang juga membanggakan teknologi mereka. Ketika mereka mencoba menaklukkan alam dengan mesin raksasa, kabut itu datang, menyelimuti kota mereka, dan memaksa setiap orang menghadapi dosa-dosa mereka.
Peradaban itu runtuh, bukan karena kehancuran fisik, tetapi karena penduduknya tercerai-berai oleh kebenaran yang Dukhan ungkap. Sejak itu, Dukhan muncul secara sporadis, selalu di saat-saat manusia terlalu jauh melampaui batas.
📚 Artikel Terkait
Dalam Al-Qur’an, “Dukhan” merujuk pada “asap” atau”kabut” yang disebutkan sebagai salah satu tanda besar kiamat. Istilah ini berasal dari kata Arab “dukhaan” (دُخَان) yang secara harfiah berarti asap. Penyebutan Dukhan secara spesifik ada dalam Surah Ad-Dukhan (Surahke-44), ayat 10-11:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.” (QS. Ad-Dukhan: 10-11)
Dalam pertempuran teknologi dan Dukhan, mari kita renungkan bahwa walaupun teknologi yang terus berkembang, tetapi tetap terbatas menghadapi tanda-tanda ilahi seperti Dukhan. Meskipun manusia modern memiliki satelit dan sensor canggih, Dukhan sebagai fenomena supranatural mungkin melampaui pemahaman dan kendali teknologi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





