Dengarkan Artikel
Warga kota panik saat Dukhan menyelinap masuk. Roro Dengkul, yang menyaksikan dari menara kontrol, melihat kabut itu membentuk pola-pola aneh di udara. Tiba-tiba, proyeksi holografik muncul di hadapannya, gambar dirinya sendiri, tapi lebih muda, sedang mengabaikan peringatan para ilmuwan lain tentang bahaya eksploitasi alam di tahun-tahun yang lalu. “Kau membangun dunia ini dengan kesombongan,” kata suara dalam kabut itu. “Sekarang, hadapi akibatnya.”
Di seluruh kota, setiap orang menghadapi visi kegagalan, kesalahan, akibat kebenaran yang mereka hindari. Kini Makan bergizi, yang tidak memiliki emosi atau jiwa, mulai mengalami kerusakan fatal. “Saya tidak bisa memahami ini” kata Dr. Gemoy, sebelum teknologi ini mati total, yang selama ini menjadi kebanggaan Plongah Plongoh, kini tak berdaya melawan Dukhan.
Roro Dengkul menyadari bahwa Dukhan bukan musuh yang bisa dilawan dengan senjata atau logika. Ia adalah cermin kolektif, memaksa manusia untuk merenung. Dengan berat hati, ia memerintahkan evakuasi kota dan mematikan semua sistem pertahanan. “Kita harus belajar dari ini,” katanya, menatap kabut yang perlahan mundur setelah misinya selesai.
Setelah kejadian itu, Plonga Plongoh kembali dari kesadarannya, jika dulu menggunakan filosofi terbalik, tapi kali ini dengan filosofi baru: “teknologi harus berdampingan dengan kerendahan hati dan kesadaran”.
📚 Artikel Terkait
Jika kita mengamati kemunculan Dukhan, ia muncul dari fenomena alam. Dalam cerita rakyat Wakanda di tahun 2099, Dukhan diyakini lahir dari luka-luka yang ditorehkan manusia ke alam semesta.
Jauh sebelum teknologi mencapai puncaknya, saat bumi masih hijau dan langit jernih, manusia mulai mengeksploitasi dunia tanpa henti, menebang hutan, mengeringkan sungai, dan mencemari udara demi ambisi mereka.
Alam terlihat diam, entah ia tuli atau tidak. Namun setiap pohon yang tumbang, setiap tetes air yang diracuni, dan setiap nafas yang tercemar meninggalkan jejak energi kesakitan yang tercemar dengan racun berkumpul di sudut-sudut bumi.
Pada suatu titik, energi ini mencapai ambang batas. Legenda mengatakan bahwa langit sendiri menangis, dan dari tangisannya lahirlah Dukhan, kabut yang bukan sekadar uap, melainkan perwujudan dari kesadaran kolektif alam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





