Dengarkan Artikel
Sang pimpinan berbalik disambut oleh Robi yang menyonsongnya. Beberapa dialog rendah terjadi di sana. Kami tak dapat mendengar. Tapi kutahu pasti petugas-petugas ini akan membela kami.
Gerimis masih berjatuhan. Aku mengelap wajah terus memandang. Tak lama sang pimpinan segera kembali menghadapkan wajahnya ke kami.
“Saudaraku. Dengan wewenang pusat sungguh hanya itu yang bisa kami ajukan. Ayo kita pikirkan masa depan generasi kalian.
Robi menyarankan kepada manager perusahaan untuk ditambahkan ganti rugi agar kalian bisa tinggal di tempat yang layak. Manager setuju. Biarkan mereka lewat.”
“Oh, benar dugaanku dari awal. Memang pencuri itu tak hanya inginkan makam, tapi tanah kelahiran!” Dehen Djata hunuskan mandaunya.
📚 Artikel Terkait
Aku terkesiap. Suasana mendidih dalam siraman gerimis yang telah pekat jadi hujan. Sorakan kembali berbalas-balasan. Dua kubu mulai maju. Petugas akhirnya beri tembakan peringatan.
“Jangan ada tindakan di luar batas. Simpan parang itu atau kalian kami tahan!!!” sergah petugas dan mulai membagi tim untuk membuat pagar.
Tiba-tiba dari arah belakang kelompok perusahaan, excavator dan bulldozer mulai meraung. Seolah nyalang dan merapat ke kami, dua alat berat itu mulai menjamah makam.
“Hoyyy!!!! Apa yang kau perbuat, bedebah!” pekik Dehen Djati dengan dada naik turun.
Aku pun membelalak tak percaya. Sigap, tanganku lekas mengambil bungkusan mangkuk jaranang. Kukeluarkan segera beras kuning dengan kunyahan daun. Mulutku segera merapal. Beras kuhambur ke langit, setengahnya ku hantamkan ke tubuh kelompokku.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





