Dengarkan Artikel
“Mas!? Sampeyan tau tidak orang ini siapa?” tanya seorang lain dengan nada agak meninggi. Belum sempat mulutnya mengatup dia menjawabnya sendiri. “Ini H. Insani, tokoh di segani di sekitar sini?
Jangan niat tidak baik, Mas!?”
Ada unsur perdebatan di sana dalam bungkus ketidaktahuan dan pengingkaran. Hal itu tentu membuat warga sekitar penasaran dan ikut mendekat.
“Apa!!!? Ada apa, Pak??”
“Ini maling sandal!!?” timpal pria berjubah gamis lainnya.
“Wah kurang ajar!!! Bawa ke RT saja!!”
“Langsung ringkus ke kantor polisi!!”
📚 Artikel Terkait
“Ah tak perlu! Selesaikan di sini saja!!”
Berbondong-bondong orang merapat mengerumun dan menghardik. Si pemuda gondrong dengan kecemasan tinggi tetap tak mau akui dan sebisanya beri penjelasan.
“Sudah!!!? Sudah!!?” tengahi H. Insani. Dia berkata sambil terus menyabari dengan merentangkan tangannya.
“Mas ini siapa namanya?”
“Arsakha” jawab pria gondrong.
“Woy jangan nyolot! Matanya datar saja Tak belajar adab kau!!” kembali ketus seruan dari seorang pria berbaju gamis.
H. Insani kembali menenangkan. Dia kemudian memberi kesempatan untuk Arsakha bicara.
“Saya pengamen sekitaran jalanan ini. Benar tampilan saya urakan. Dan biar itu wujud rasa merdeka kepada Tuhan yang ciptakan saya. Tuan yang suci kaya ilmu dan berisi. Apakah penuduhan begini sudah jadi budaya dan tradisi? Ibu saya tak pernah berikan air susunya untuk bentuk saya sebagai pencuri. Mungkin sandal itu tertukar di mesjid.”
“Alahhh bacot!!!!Gerandong gondrong ini kuyakin pencuri!! Sudah tak heran dengan berandalan kayak gini” kata satu warga seolah tahu dan senang provokasi. “Banyak kedoknya. Mulai jadi pengamen, pemulung, sales, dan lain-lain. Sudah jangan kasih kendor. Hajar saja!”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





