Dengarkan Artikel
“Kakak tahu kamu akan menemukannya suatu hari, dan Kakak juga sudah menduga bahwa kamu akan bereaksi seperti ini.” Ujar kakaknya dengan penuh keyakinan. Jema hanya terdiam, yang ia lakukan hanyalah mengepalkan kedua tangannya erat, ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan semua pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bersemayam di dalam benak Jema.
Namun, Jema tidak mempunyai nyali, ia takut.
“Kenapa diam?” Suara kakaknya terdengar lagi. Namun, lidah Jema masih terasa kelu. “Takut? Kamu selalu begitu. Itulah sebabnya Kakak harus melakukannya. Karena kamu takkan pernah melawan. Kamu takkan pernah bisa bertahan di dunia ini tanpa Kakak.”
Sungguh, Jema kali ini benar-benar merasa seperti hewan. Tangannya mengepal kuat, rasa takut dan amarah perlahan mulai memuncak. Ia marah. Suara dalam dirinya berteriak, mengatakan bahwa ini tidak benar, bahwa ini tidak adil.
“Tindakan Kakak salah. Apa yang Kakak lakukan hanya membunuhku perlahan-lahan. Kakak hanya melakukannya untuk diri kakak sendiri, bukan untukku!” Suara Jema meninggi, untuk pertama kalinya, ia merasakan keberanian kecil yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





