Dengarkan Artikel
Oleh: Wawan Susetya/Penulis adalah Sastrawan-budayawan dan penulis buku, tinggal di Tulungagung Jatim.
DALAM wacana Kenabian/Kerasulan, tentu, semuanya mengandung pelajaran yang amat penting mengenai kepemimpinan. Sebab, semua Nabi/Rasul Allah tersebut memiliki kepribadian seorang pemimpin yang islami, sehingga tepat jika dijadikan teladan.
Dalam buku Perdebatan Langit dan Bumi (Wawan Susetya; 2005) disebutkan mengenai persyaratan menjadi seorang pemimpin, yakni ada tiga;
Pertama, harus memiliki hati yang bersih (spiritual). Kedua, harus memiliki kecerdasan (intelektual). Ketiga, harus memiliki keberanian (mental).
Apa artinya seorang pemimpin yang hanya memiliki hati yang bersih saja, tetapi tidak memiliki akal yang cerdas dan keberanian! Begitu pula, apa jadinya jika pemimpin hanya memiliki kecerdasan, tanpa didasari kebersihan hati dan keberanian; maka jadinya seperti ‘menara gading’. Yang lebih parah lagi, jika sang pemimpin hanya mengandalkan keberanian saja, tanpa kebersihan hati dan kecerdasan. Maka, idealnya seorang pemimpin, yakni yang memiliki tiga kriteria di atas.
Kriteria kepribadian seorang pemimpin seperti di atas, tentu, termanifestasikan oleh kepribadian para Nabi dan Rasul-Nya. Mereka, dalam mengembangkan syi’ar-nya (memuliakan risalah dan ajaran-Nya) selalu dibekali dengan tiga prinsip seperti itu; spiritual, intelektual, dan mental yang baik.
Selain itu, gambaran kepribadian seorang pemimpin seperti itu sebagaimana diekspresikan oleh Raja Thalut ketika melawan seorang raksasa Raja Jalut yang lalim. Dalam pertempuran itu, Raja Thalut didukung Daud—ketika masih muda—serta bala tentaranya yang tidak seimbang dengan jumlah musuh! Pasukan orang-orang yang beriman anak buah Raja Thalut saat itu hanya sekitar 313 orang, sedang jumlah musuh mencapai 1000 orang lebih. Meski demikian, karena dilandasi suatu keyakinan yang mendalam kepada Allah, maka pasukan yang dipimpin Raja Thalut dan pemuda Daud berhasil mengalahkan tentara Raja Jalut.
Pasca peperangan itu, pemuda Daud mendapatkan karuniai dari Allah, yakni beberapa hal;
Pertama, dia mendapatkan ilmu hikmah (Kitab Zabur) sekaligus sebagai pengangkatannya sebagai Rasul/Nabi Allah.
Kedua, dia juga mewarisi separuh kerajaan Raja Thalut, karena berkat keberanian Daud, ia berhasil membunuh Raja Jalut.
Ketiga, dia juga mendapatkan puteri Raja Thalut yang kemudian dinikahi Nabi Daud.
Begitulah, betapa besarnya karunia yang diterima Nabi Daud a.s serta hadiah dari Raja Thalut.
Dalam perspektif Kenabian/Kerasulan, sebagaimana yang wajib diketahui di dalam al-Qur’an, Allah Swt hanya menyebut 25 Rasul/Nabi; yakni dari Nabi Adam a.s sampai Rasulullah Muhammad Saw. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, sebenarnya jumlah Nabi dan Rasul Allah itu sangat banyak, hal itu sesuai dengan firman Allah Swt dalam Surah Al-Mu’min: 78:
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.”
Q.S. 40:78
Dari Abu Dzar ia berkata: Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para Nabi?” Beliau menjawab: “Jumlah para Nabi sebanyak 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) orang dan di antara mereka yang termasuk Rasul sebanyak 315 (tiga ratus lima belas) orang suatu jumlah yang besar.” (HR Ahmad).
Rasul Allah (Rasulullah) artinya utusan Allah; yakni orang yang mendapatkan wahyu nubuwah dari Allah untuk dirinya sendiri dan berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya itu kepada umat manusia. Sedang, Nabi Allah; yakni orang yang mendapatkan wahyu nubuwah dari Allah untuk dirinya sendiri dan berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain.
Mereka bertebaran di muka bumi ini, sehingga Allah Swt menjelaskan bahwa tak satu kaum pun dari umat manusia yang tak didatangi seorang Rasul/Nabi Allah. Mereka memberikan pencerahan dengan syi’ar risalah ketauhidan—menomorsatukan Allah—dengan menjalankan ibadah sesuai syariat yang berlaku.
📚 Artikel Terkait
Para Rasul/Nabi Allah yang disebutkan di dalam al-Qur’an—yakni dari Nabi Adam a.s hingga Nabi Muhammad Saw—jika diperhatikan secara seksama akan menggambarkan atau mencerminkan sebuah kepribadian dalam diri manusia! Misalnya, Nabi Adam—Rasul Allah pertama kali—terkenal dengan dosa tamak yang dilakukannya dengan mendekati buah khuldi di surga, sehingga berdampak terusir ke bumi.
Begitulah, bukankah fase anak kecil—dalam kepribadian manusia secara utuh—cenderung melakukan kesalahan dosa?! Tapi, karena Nabi Adam adalah utusan-Nya, maka dengan kesalahannya itu, ia diajari Allah Swt berupa doa pertobatan yang akhirnya bermanfaat bagi kaum muslimin sampai sekarang.
Fase berikutnya adalah Nabi Idris—yang dijuluki Asadul Udud (Singa di atas segala singa)—karena keberanian dan kegagahannya di medan perang! Nampaknya, Nabi Idris ini terkesan suka bermain-main sebagaimana anak kecil; yakni bermain perang-perangan hingga dijuluki seperti itu. Tapi ingat, dalam konteks yang sebenarnya, peperangan tersebut berjihad melawan orang-orang kafir alias ingkar kepada-Nya.
Bahkan, lebih khusus lagi, Nabi Idris dalam cerita-cerita dikisahkan, ia bisa mengenal Malaikat dan bergaul dengannya. Karena saking akrabnya, Idris diajak pula mengunjungi ke surga. Tetapi lucunya, setelah mengetahui kenikmatan dan fasilitas surga, akhirnya Nabi Idris merasa enggan untuk kembali ke dunia lagi.
Begitu seterusnya hingga fase Muhammad Saw; betapa jauhnya kepribadian kedewasaan Rasulullah Saw dengan Nabi Idris. Jika Nabi Idris setelah mengetahui kenikmatan surga enggan kembali ke dunia, tetapi tidak demikian bagi Muhammad. Putra Abdullah itu bukan hanya beranjangsana1 ke surga dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ke Sidratul Muntaha, tetapi juga berkomunikasi langsung dengan Allah Swt.
Meski demikian, ia ‘memilih’ untuk menyampaikan risalah shalat lima waktu yang diterima langsung dari Allah Swt kepada kaumnya daripada ber-leha-leha (bersantai-santai) di surga.
Dengan demikian, Muhammad Saw memang memiliki keistimewaan daripada Nabi/Rasul terdahulu, sebagaimana disebutkan Drs. Nasruddin Razak—dalam bukunya Dienul Islam (1990), yakni sebagai berikut;
Pertama, Rasulullah adalah Nabi/Rasul terakhir. Tidak akan datang lagi Nabi dan Rasul sesudahnya. Risalahnya sudah sempurna untuk memimpin manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kedua, Rasulullah adalah Nabi/Rasul internasional. Risalahnya universil, ditujukan kepada seluruh manusia, semua ras, bangsa dan bahasa, sampai ke ujung zaman sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah (hai Muhammad)! Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah Rasul untuk kamu semua.” (QS 7: 158).
Ketiga, Muhammad Saw adalah semulia-mulia Nabi dan Rasul daripada Nabi/Rasul yang terdahulu. Dari 25 Rasul/Nabi yang dinyatakan di dalam al-Qur’an, di antaranya lima orang Nabi/Rasul disebut Ulul ‘Azmi—sebagaimana disebutkan di atas—yang difirmankan Allah: “Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan engkau sendiri (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam.” (Surah Al-Ahzab: 7).
Itulah kepribadian Insan Kamil (manusia paripurna) dalam diri Muhammad Saw yang selayaknya diteladani oleh kaum muslimin. Sebab, Kanjeng Nabi Saw dalam kehidupannya senantiasa meneladani akhlaq Allah; seperti yang terurai dalam Al Asmaaul Husna.
Jangankan Nabi Muhammad, sedang Nabi Ibrahim saja diangkat menjadi Kholilullah (kekasih-Nya), sementara Nabi Musa pun diperkenankan berdialong langsung dengan Allah Swt, sehingga Musa dikenal dengan sebutan Kalamullah! Fase remaja, misalnya, Nabi Daud dan Sulaiman a.s, keduanya identik dengan kemewahan dan kesenangan.
Nabi Daud memperisteri perempuan sebanyak 99 orang, suaranya yang merdu sering melantunkan lagu-lagu merdu seraya bertasbih hingga burung-burung dan gunung-gunung pun mengikutinya. Sementara Nabi Sulaiman membangun istananya dengan sangat megah, semua binatang serta makhluk lain (jin dan setan) pun tunduk kepadanya! Selain menjadi raja besar, keduanya dikenal sangat kaya raya hingga memiliki kuda-kuda cantik dan perkebunan yang menyenangkan dipandang mata.
Dalam perspektif yang lebih sederhana, kepribadian para Rasul Allah tersebut seperti tertampung dalam cerminan Ulul ‘Azmi (yakni Nabi dan Rasul Allah yang dikenal besar perjuangannya menghadapi umatnya): yakni Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad Saw.
Dalam buku Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib (Wawan Susetya dkk, Republika; 2001), dijelaskan bahwa Nabi Nuh a.s melambangkan ‘bayi’ atau ‘anak kecil’, Nabi Ibrahim a.s melambangkan ‘anak remaja’, Nabi Musa a.s melambangkan ‘pemuda perkasa’, Nabi Isa a.s melambangkan ‘orang tua yang lembut’, dan Nabi Muhammad Saw menjadi penyempurna kepribadian komprehensif dari semua ‘spesialisasi’ watak penugasan para Rasul sebelumnya.
Pertama, Nabi Nuh a.s melambangkan kepribadian ‘bayi’ atau ‘anak kecil’; yakni tercermin dari sikap Nuh a.s dalam menghadapi umatnya yang bengal dengan sering mengadukan kepada Tuhannya. Sebagaimana kebiasaan bayi atau anak kecil yang suka mengadukan semua permasalahannya kepada ibunya, maka Nabi Nuh pun seringkali mengadukan kepada Allah Swt, lantaran kebengalan kaumnya. Padahal, Nuh a.s telah berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun lebih, tetapi imbalannya malah berupa cercaan, hinaan, cacian, olok-olok. Makanya, Nabi Nuh memohon kepada-Nya agar mengazab kaumnya dengan banjir besar. Sementara, Nuh beserta kaumnya selamat di atas bahtera besar.
Kedua, Nabi Ibrahim a.s (Kholilullah) melambangkan ‘anak remaja’ yang sedang mencari jati diri (identitas diri). Pencarian jati diri yang ditempuh Nabi Ibrahim (remaja), yakni ketika berada di tengah hutan belantara seorang diri. Ia berusaha mencari Tuhannya, karena merasa tidak puas dengan aksi penyembahan berhala yang dilakukan oleh ayahnya—pembesar kerajaan Raja Namrud—hingga akhirnya ia melihat bintang, bulan dan matahari silih berganti.
Dalam perenungan kesendiriannya, ketika ia melihat bintang di tengah malam pekat, dikiranya tuhan! Begitu pula saat melihat bulan purnama di malam hari, ia menyangka bahwa itu adalah tuhan. Tetapi akhirnya Ibrahim tidak puas, sebab bintang dan bulan tersebut akhirnya tenggelam ketika di siang hari! Demikian halnya saat dilihatnya matahari yang memancarkan sinarnya di siang hari, awalnya dikiranya tuhan.
Tetapi dari lubuk hati yang terdalam, Ibrahim menolak, sebab matahari pun tenggelam pada malam hari. Dengan pertolongan Allah, yakni hanief (kecenderungan dalam bertauhid atau meng-Esakan Allah secara fitrah), maka Ibrahim benar-benar ‘menemukan’ Tuhannya dalam hati: yakni Tuhan pencipta alam semesta (Rabbul ‘alamien).
Ketiga, Nabi Musa a.s melambangkan ‘pemuda perkasa’ karena berani melawan Raja Fir’aun beserta bala tentaranya yang tangguh. Perjuangan Musa—sebagai figur sang pangeran; karena putra angkat Raja Fir’aun—dengan berkolaborasi atau bekerja sama bersama saudaranya Harun yang melambangkan pejuang dari bawah (grass root). Perjuangan keduanya ini seolah identik dengan menyatunya elite politik di tingkat atas (kekuasaan) dengan para pejuang dari rakyat di lapisan bawah. Itulah sebabnya, perjuangan melawan kedholiman Fir’aun tersebut akhirnya dikabulkan-Nya jua; yakni Raja Fir’aun beserta Jenderal Haman ditenggelamkan di Laut Merah.
Keempat, Nabi Isa a.s melambangkan ‘orang tua yang lembut’; lantaran sikapnya yang santun, menebarkan kedamaian, dan cinta kasih (al hubb) kepada kaumnya. Meski saat itu Nabi Isa berumur sekitar 33 tahun dan masih perjaka (belum menikah), tetapi kedewasaan batin dan kelembutannya sangat mengagumkan.
Meski sehari-harinya tak memiliki apa-apa, tetapi Isa a.s selalu menebarkan kasihnya kepada sesama manusia. Allah Swt memberikan mukjizat kepadanya, yakni bisa menyembuhkan orang sakit (sakit mata, sakit sopak) serta menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah. Yang utamanya adalah karunia-Nya berupa Kitab Injil. Dan, sejak bayinya—yakni saat berada dalam timangan ibundanya, Maryam—ternyata Nabi Isa sudah bisa berbicara dengan fasih; ini pun juga kenikmatan dari mukjizat dari Allah Swt.
Kelima, Nabi Muhammad Saw menjadi penyempurna kepribadian komprehensif dari semua ‘spesialisasi’ watak para Rasul-rasul Allah itu. Artinya, Kanjeng Nabi Saw mempunyai tugas untuk mengajarkan kepada kaumnya bagaimana bersikap ketika menjadi kepribadian seperti ‘bayi’ atau ‘anak kecil’ (Nuh a.s), seperti kepribadian ‘remaja’ (Ibrahim a.s), seperti kepribadian ‘pemuda perkasa’ (Musa a.s), dan seperti kepribadian ‘orang tua yang lembut’ (Isa a.s). Atau lebih spesifik lagi—pinjam istilah Emha Ainun Nadjib—yakni bagaimana Rasulullah Saw menciptakan formula manajemen untuk mengolah keseimbangan antara kebenaran (al haq) yang dibawa Musa dan cinta (al hubb) atau kebaikan yang dibawa Isa. Dan, perpaduan antara kebenaran dengan kebaikan (cinta) adalah keindahan seperti yang dibawa Muhammad Saw.
- “Beranjangsana” adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang berarti melakukan kunjungan atau berkunjung ke tempat lain, biasanya dalam konteks sosial atau kebudayaan. Kegiatan ini sering kali melibatkan kunjungan ke rumah seseorang, tempat bersejarah, atau acara tertentu dengan tujuan mempererat hubungan sosial, belajar tentang budaya. ↩︎
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






