• Latest
Independen Women

Independen Women

Februari 12, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Independen Women

Redaksi by Redaksi
Februari 12, 2025
in Artikel, Gender
Reading Time: 6 mins read
0
Independen Women
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Nur’aini Lubis

“Kalau bisa diurus, mah gue pengin diurus. Apa itu independen women? Akhhh…
Urus gue please…Capek gue, capek. Capek mandiri ya Allah.”

Cuplikan ungkapan hati seorang perempuan ini sempat viral di media sosial tik tok.

Awalnya bisa jadi hiburan dan lucu-lucuan saja. Sampai akhirnya beberapa orang ikut membuat konten yang serupa.Tapi belakangan fenomena ini menjadi sebuah renungan dan evaluasi. Khususnya buat saya pribadi.

Ada kekhawatiran mengapa bisa ungkapan ini muncul? Apa yang salah dengan kondisi perempuan di masyarakat kita saat ini?

Belum lagi terjawab persoalan di atas, tiba-tiba kita dikejutkan lagi dengan sebuah peristiwa memilukan. Seorang oknum polwan membakar suaminya yang berprofesi polisi juga.

Dibakar hidup-hidup hingga tewas mengenaskan. Padahal si oknum polwan itu memiliki 3 anak yang masih batita. Sungguh ironis.

Ungkapan perempuan yang ingin diurus oleh suaminya jadi tertolak. Akibat peristiwa pembakaran suami oleh perempuan oknum polisi tersebut.

Jelas ketika seorang istri membakar suami bisa dipastikan si istri tidak akan pernah diurus lagi oleh suaminya. Bahkan menambah bebannya mengurus diri sendiri dan ke tiga anaknya.

Belum lagi hilang berita istri membakar suami, sungguh di luar dugaan muncul kisah yang lebih mencengangkan lagi. Seorang suami memutilasi istrinya yang akan berangkat kajian.

Gilanya lagi, setelah dimutilasi, si suami menawarkan daging potongan tubuh istrinya ke para tetangga. Layaknya seperti orang yang menjajakan daging sapi.

Sungguh kejadian di luar nalar. Begitu tega suami melakukan hal ini. Secara tidak langsung menjelaskan kepada kita ada hal yang tidak baik-baik saja terjadi pada lelaki ini.

Apakah masih relevan dan diperlukan independen women dari diri seorang perempuan? Mengingat banyaknya peristiwa yang membingungkan?

Beberapa waktu yang lalu saya juga mendengar kabar. Seorang dosen saya yang bergelar profesor baru kehilangan suaminya karena sakit.

Saat takziah ke rumahnya mengalirlah cerita tentang begitu tergantungnya ia pada suaminya. Tapi saat di akhir-akhir berpulangnya suaminya ke rahmatullah, si suami memaksa istrinya untuk bisa mandiri.

Menyelesaikan gelar profesornya secepatnya. Belajar mengendarai mobil. Dan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri secara mandiri.

Sambil berlinangan air mata dosen saya ini mengatakan, saya tidak tahu kalau ini, adalah pertanda dari suami. Tak lama setelah itu sang suami berpulang ke rahmatullah.

Sungguh dalam suasana sedih, sang dosen masih bisa bersyukur pada Allah atas tindakan suaminya yang mempersiapkan dirinya untuk bisa hidup mandiri.

Dua kondisi antara mandiri dan bergantung kepada orang lain khususnya kepada suami menjadi sebuah kajian yang cukup menarik dibahas. Bahkan tidak akan pernah ada habisnya.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Pembahasan seperti ini juga sudah muncul jauh hari sebelum terjadi peristiwa-peristiwa di atas.

Ada kelompok yang menamakan dirinya kaum feminisme. Menolak adanya campur tangan laki-laki dalam hidup mereka.

Di mata mereka, laki-laki hanyalah makhluk yang selalu mengganggu. Menganiaya dan memperlakukan perempuan secara tidak adil.

Kondisi ini diperkuat dengan adanya sebagian budaya di masyarakat kita, seorang laki-laki adalah raja. Tidak boleh turun ke dapur. Walau sekadar membantu pekerjaan domestik rumah tangga.

Hal ini menambah kebencian seorang perempuan terhadap laki-laki. Kalau laki-laki bisa berbuat semena-mena, maka perempuan juga berharap bisa melakukan hal yang sama. Jadi impas.

Bagi kaum feminisme, perempuan adalah makhluk kuat di muka bumi yang akan survival. Sementara laki-laki akan punah karena kesombongannya.

Persoalannya bagaimana kalau terjadi sebaliknya? Laki-laki menganggap justru merekalah makhluk yang paling kuat.

Perempuan dianggap berpotensi mengganggu hidup kaum lelaki. Para lelaki membuat mencari cara untuk melawan dan melakukan peperangan terhadap perempuan.

Hingga perempuan tetap lemah,kalah dan tidak memiliki arti apapun bagi seorang laki-laki. Kecuali sebagai makhluk yang dimanfaatkan saja.

Apalagi di tengah masyarakat kita ada sebagian budaya yang lebih mengutamakan perempuan. Ada ungkapan perempuan bisa membeli laki-laki.

Dalam budaya tersebut, harta warisan hanya diberikan kepada anak perempuan saja. Sementara laki-lakinya hanya bisa menumpang di rumah perempuan.

Pemahaman seperti ini seharusnya tidak boleh dibiarkan berkembang. Menjadikan laki-laki dan perempuan menjadi dua kekuatan yang saling berseteru.

Laki-laki dan perempuan yang saling berseteru tadi menciptakan tatanan baru yang merusak. Membina keluarga dari sesama jenis mereka sendiri.

Mereka cukup nyaman dan berani melakukan hal ini. Bahkan secara terang-terangan melakukan pernikahan sesama jenis. Dan parahnya lagi ada negara yang menjamin kebebasan ini. Diatur dalam undang-undang negara yang mereka ciptakan sendiri.

Sungguh sangat miris. Tak terbayangkan oleh saya jika hal ini tidak dicegah sejak awal. Bagaimana tatanan peradaban manusia kedepan?

Maka pertanyaan-pertanyaan ini sebaiknya dikembalikan kepada pemahaman agama agar kita tidak keluar dari bingkai yang ada.

Bagaimana seorang perempuan harus bersikap? Bagaimana juga seorang lelaki bertindak?

Dalam Al-Qur’an disebutkan, Islam memandang setara antara laki-laki dan perempuan. Dari segi beribadah maupun mendapatkan pendidikan.

Hanya saja nanti akan ada perbedaan yang disebabkan oleh fitrah masing-masing perempuan dan laki-laki.

Perempuan mengandung, melahirkan dan menyusui bayinya. Dan tugas ini tidak bisa digantikan oleh laki-laki.

Begitupun laki-laki bertugas memenuhi nafkah bagi istri dan keluarganya. Yang membuat para lelaki mendapatkan pahala yang besar di sini Allah SWT.

Bisa kita bayangkan jika seandainya laki-laki menikah dengan laki-laki. Atau perempuan menikah dengan perempuan juga. Bisa dipastikan manusia akan punah dalam waktu dekat.

Tidak akan ada lagi istilah independen women. Karena semuanya dengan sendirinya akan menua, mati dan hancur.

Maka sudah seharusnya kita kembalikan semua persoalan ini pada ketentuan yang sudah Allah gariskan.

Dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 49 dikatakan: ” Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan ( laki-laki dan perempuan) agar kamu mengingat kebesaran Allah.”

Diperjelas lagi pada surat Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan, “Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah dia menciptakan pasangan-pasanganmu untukmu dari jenismu sendiri ( sesama manusia), agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”

Begitupun terkait dengan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Semuanya berperan sesuai fitrahnya.

Hal ini bisa kita rujuk pada aturan agama. Jawabannya akan terpampang jelas dalam Al-Qur’an surat An-nisa ayat ke 34 yang artinya:

“Laki-laki ( suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki-laki) atas sebagian yang lain ( perempuan) dan mereka ( laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.”

Oleh sebab itu seorang perempuan yang salihah memiliki 2 tugas pokok.

Pertama, menjadi perempuan qanitat. Perempuan yang taat pada Allah dengan cara mentaati suami sepanjang suaminya menyuruh hal-hal yang baik.

Kedua, perempuan itu punya tugas untuk menjaga nama baik keluarga khususnya nama baik suaminya, terutama saat dia tidak bersama dengan suami.

Jadi jelaslah standar yang ada di sini. Seorang perempuan boleh saja menjadi independen women sepanjang masih dalam lingkup Al-Qur’an.

Dan seandainya jika laki-laki yang menjadi pendamping hidupnya tidak menjalankan tugasnya seperti yang diungkapkan surat di atas, maka jalan keluar paling baik adalah sebaiknya tidak mengikuti hawa nafsunya dan godaan syaitan.

Semoga kita sebagai perempuan bisa menempatkan diri sesuai dengan tuntutan agama.

Allah jelas-jelas memuliakan seluruh hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya, tanpa memperhatikan perbedaan yang melekat pada masing-masing darinya.

Dugaan saya muncul istilah independen women, atau perempuan yang bergantung penuh pada suami disebabkan karena kurangnya ilmu agama bagi laki-laki maupun perempuan.

Persoalan yang muncul lebih disebabkan karena budaya dan penafsiran agama yang kurang tepat. Tetapi selalu menjadikan persoalan ini seolah-olah atas nama agama.

ADVERTISEMENT

Semoga banyak perempuan di luar sana mendapatkan kebahagiaan dari tuntutan yang sudah digariskan dalam Al-Qur’an.

Dan insya Allah akan lahir independen women terbaik versi Al-Qur’an. Menjadikan solusi bagi kehidupan keluarga nya kelak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #analisisLiterasiPerempuan
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kehidupan pasca-bencana di desa_11zon
Artikel

Empat Bulan Setelah Air Bah itu Pergi

Maret 26, 2026
Islam

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026
#Cerpen

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Islam

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Next Post

Ayahku Dan Warkop

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com