POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Kisah Seorang Pria

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Izinkan aku bercerita tentang seorang pria yang tangguh. Kau… harus mendengarnya dengan seksama.

***

Seorang pria yang berdiri sendirian di atas bukit tertinggi. Dia dikenal sebagai seorang legenda karena telah melampaui batas kemampuannya. Pertarungan dalam menjalani hidup  —  sang lelaki tumbuh bersama luka batin yang mengiris hampir semua harapannya. Kini, luka itu masih membekas sampai sekarang  —  membuktikan seberapa keras usahanya melewati segala rintangan.

Pria itu tidak banyak bercerita, tapi juga bukan sosok pendiam  —  hanya dikenal sebagai orang yang tenang. Dia menutup telinganya dari mendengar cibiran manusia lainnya. Dia juga tidak menghiraukan mereka yang menggunjingnya dari belakang. Semua itu ia terima dengan sikap sederhana  —  memaafkan dan kemudian melupakan  —  seperti air sungai yang mengalir tanpa henti.

Pernah dianggap sebagai manusia lemah karena dia hanya tahu caranya menangis setiap saat ujian datang menerpa. Pernah dianggap sebagai orang yang tidak berguna karena tak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya merengek-rengek. Tapi dia sosok yang bercermin  —  melihat dirinya sebagai sosok yang berbeda  —  lantas dia menerima semua kekurangannya dan mulai fokus pada kelebihan. Dengan sikapnya itu, iaberhasil membawa dirinya ke puncak prestasi tertinggi dalam kehidupan.

Pria itu berhenti mengusik kehidupan orang lain karena baginya itu hanya menyia-nyiakan waktu. Dia fokus mengembangkan diri  —  belajar menerima kenyataan dan memberi senyuman kepada semua kenangan pahit di masa lalu sembari merasakan rasa sakit yang seakan-akan menusuk jantungnya. Motivasi untuk tidak menyerah membuat semua itu menjadi nyata di hadapan matanya. Dia mulai bisa menenangkan dirinya meski ada banyak ingatan yang ingin diubahnya jauh di masa silam.

Kini, seperti kataku, dia menjelma bak seorang legenda. Orang-orang mengakui keberadaannya dan mendengar setiap kata yang ia utarakan —  kata-kata mutiara nan indah. Dia telah dikenal sebagai inspirator yang menggerakkan orang-orang putus asa meraih kembali harapan mereka.

Kenapa? Kenapa dia bisa menjadi seperti itu?

Karena dia tak pernah berhenti berusaha meski ada rasa sakit yang menyerang sanubarinya.

Dia menjadi hebat karena luka batin  —  dan semakin menjelma hebat karena mampu bersahabat dengan luka itu.

Dia dianggap sebagai inspirator sebab siapa saja yang melihat dirinya, secara tak sadar mereka terikut dan ingin menjadi sepertinya. Kenapa? Sebab dia adalah pria yang telah melewati ribuan tantangan Tuhan.

📚 Artikel Terkait

Jangan Kabur dari Ibu Kandung: Saatnya Kembali Membangun Indonesia

Kemenangan Miss Universe: Satu Dekade Advokasi dan Figur Inspiratif

Takdir Cinta

Rapi di Luar, Kusut di Dalam: Kritik terhadap Paradigma Penataan Kota yang Melupakan Keadilan Sosial

Dulu, dia pernah terempas jauh ke dasar lautan  —  merasa diri tenggelam dan mati hanya karena penolakan cinta yang ia dapatkan dari wanita pujaannya. Dia sekarat  —  urat nadinya seperti terputus  —  semua harapan lenyap.

Dan, setelah mempelajari makna di balik keikhlasan, ia pun memaksa dirinya melupakan sang wanita itu dengan cara yang cukup bijak. Dia mengabadikan kenangan rasa sakit itu ke dalam sebuah sajak puisi. Lalu Di ujungnya, ada sebuah doa yang ia titipkan kepada Tuhan  —  mendoakan sang wanita agar kebahagiaan terus menyertainya. Dengan demikian, hati pria itu menjadi tenang dan semua hal yang membuatnya menderita, telah mampu ia jadikan sebagai pedoman hidup  —  pedoman hidup tentang menerima kenyataan yang bertolak belakang dari keinginannya.

Lantas, setelah sang pria berdamai dengan cinta masa lalunya  —  berdamai dengan dirinya sendiri — Tuhan akhirnya mempertemukan lelaki itu dengan seorang wanita lain  —  wanita yang anggun  —  wanita yang bertutur kata lembut  —  wanita yang selalu tersenyum syahdu hingga mampu meredam segala keresahan sang pria. Mereka pun saling menyatukan tali perasaan yang bersanding dengan lantunan ayat-ayat suci nan indah.

Setelah ribuan kilometer sang pria menapaki dirinya di atas pijakan tandus, dia kemudian bersanding ke sebuah tempat yang penuh dengan pemandangan sejuk  —  yang menyejukkan batinnya dari luka-luka kehidupan  —  yang memberi kabar bahagia setiap awal petang.

Setelah cukup lama hidup dalam kesengsaraan, sang pria akhirnya berhasil menuntaskan ujian kehidupan. Memang, ujiannya belum usai. Tapi, dia sudah terbiasa menghadapinya.

Begitulah kisah seorang pria yang tangguh. Cerita itu tertulis rapi di dalam buku hariannya  —  sebelum dia memutuskan bunuh diri.

Ya, kisah pria hebat yang kuceritakan tadi adalah cerita khayalan yang tertulis di dalam buku harian pria itu. Dia menginginkan kehidupan yang indah namun terlanjur cepat memutuskan mati. Dia bahkan belum sempat melihat dirinya menjadi seorang inspirator  —  juga tidak melihat dirinya hidup berdampingan bersama wanita yang mencintainya.

Semua hanya khayalan yang tertulis di dalam buku harian. Dan, aku menyebutnya sebagai diari air mata semu.

Sang pria menyerah terhadap takdir yang berlawanan dari keinginannya  —  dia juga menyerah menggapai cinta sejatinya. Kini, tubuhnya terbaring tak bernyawa di dalam liang lahat.

Kuceritakan ini padamu untuk memperkenalkan harapan sang pria yang tak pernah tercapai selama menjalani kehidupannya. Dia tak sanggup menghadapi semua rintangan dan memilih bunuh diri  —  meskipun kusadari, dia tak pernah ingin mengakhiri hidupnya se-tragis itu.

Lantas, bagaimana denganmu? Kuharap kau tidak mencontoh kehidupan nyata sang pria  —  contohlah kisah hidup laki-laki itu dari buku hariannya.

Karna… aku menyayangimu sebagaimana kau mencintai dirimu sendiri.

***

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Dilihat Lalu Diraba

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00