• Latest

Eros, Thanos dan Kita

Februari 10, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Eros, Thanos dan Kita

Fajar Ilhamby Fajar Ilham
Februari 10, 2025
Reading Time: 4 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

“manusia dianugerahi akal yang dengan
akal itu, ia sadar akan diri. Namun
demikian, ia sering tak sadarkan diri ketika
godaan datang mencumbunya”.

T. Fajar Ilham

Cerita ini dimulai pada Kamis siang 6 feb 2025. Pada saat saya membaca buku The Art Of Loving, karya Erich Fromm. Buku ini membahas cinta bukan sebagai perasaan pasif.

Fromm mengingatkan bahwa cinta sejati adalah tindakan aktif untuk mengatasi keterasingan dan membangun kebersamaan.

Menurut saya, dalam pemikiran Fromm itu masih ada kekosongan di dalam diri manusia yang harus diisi, karena kalau hanya untuk mengusir keterasingan untuk mendapatkan kebahagian, maka manusia akan diformat untuk mencari, bukan menciptakan.

Keterasingan adalah keniscayaan yang ada dalam diri manusia, karena manusia juga makhluk individu yang tidak bisa dinafikan.

Tiba-tiba saya teringat kisah masa lalu saya, yang sering bergurau dengan teman-teman sekolah tentang “sie paneuk akai” kalau dalam bahasa Indonesia dia yang akalnya pendek.

Namun demikian, begitulah yang namanya manusia, dikarenakan dalam diri manusia itu ada semacam drive keinginan (hawa nafsu) dalam versi Islam, kalau dalam psikoanalisis Sigmund Freud ia memperkenalkan konsep Eros dan Thanatos.

Eros yang ia namai dari dewa cinta, dalam mitologi Yunani, Eros merupakan representasi dorongan untuk hidup, mencintai, dan menciptakan.

Sementara Thanatos, ia namai dewa kematian, yang melambangkan dorongan untuk menghancurkan, mengulang trauma, atau mencari kematian.

Menurut Freud, Eros dan Thanatos adalah dua sisi dari koin yang sama, simbol dari ambivalensi manusia sebagai makhluk yang mampu mencintai dan membenci, membangun dan menghancurkan.

Freud mengingatkan kita bahwa peradaban hanya bisa bertahan jika Eros menguasai Thanatos, tetapi sejarah membuktikan bahwa kemenangan itu tidak pernah mutlak.

Mungkin pelajaran yang bisa kita petik dalam teori ini adalah bagaimana kita harus mampu menundukan dorongan-dorongan gelap dalam diri manusia.

Sekarang kita ke perspektif pemikiran Islam, tentang Eros dan Thanatos. Dalam pemikiran Islam. Eros bukan sekadar hasrat seksual atau naluri biologis, melainkan cinta (mahabbah) yang terarah kepada Allah.

Al-Qur’an menyebutkan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang.” (QS Ar-Rum: 21).

Cinta manusia terhadap pasangan, keluarga, atau kebaikan adalah refleksi dari cinta tertinggi kepada Allah (mahabbatullah).

Baca Juga

Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Desember 29, 2025

Petro-Euro dan Filsafat Eksistensialisme

Desember 7, 2025

Membaca Ulang Machiavelli Di Era Kuasa Digital

Oktober 5, 2025

Kalau dalam sudut pandang Sufisme, merujuk pada konsep ‘isyq’ (cinta mendalam) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi menggambarkan cinta sebagai kekuatan yang menggerakkan alam semesta: “Cinta adalah jembatan antara engkau dan Yang Mutlak, tanpanya, dunia ini hanya debu.”

Thanatos dalam sudut pandang Islam kematian (maut) bukan akhir, melainkan peralihan menuju kehidupan hakiki.

Al-Qur’an menegaskan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.*
(QS Ali Imran: 185).

Konsep Thanatos dalam Islam tidak dirayakan sebagai destruksi, tetapi dihadapi dengan kesadaran akan takdir.

Kematian mengingatkan manusia pada keterbatasan eksistensi duniawi, sekaligus memotivasi mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat.

Islam menekankan jihad al-akbar (perang melawan hawa nafsu) atau bisa kita sebut bentuk pengendalian Thanatos. Karena Islam juga mengakui kecenderungan destruktif manusia, yaitu nafsu ammarah (jiwa yang menyuruh pada ke burukkan).

Dalam sudut pandang Islam, pertarungan Eros dan Thanatos adalah ujian untuk mengukuhkan keimanan.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad:“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi).

Dengan demikian, Eros dan Thanatos dalam Islam bukanlah kekuatan yang bertentangan, melainkan dua aspek dari ujian ketauhidan.

Cinta (Eros) harus diarahkan kepada Allah, sementara kematian (Thanatos) diyakini sebagai jalan kembali kepada-Nya. Seperti firman Allah:“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.” (QS Al-Baqarah: 156).

Dan dengan begitu Islam telah memberi resolusi bahwa Eros adalah ibadah, Thanatos adalah kepulangan, unik memang. Tetapi memang keduanya itu anugerah dari sang pencipta untuk
dipersatukan dalam harmoni.

Kalau dalam petuah para sufi, “ketika manusia menyadari bahwa hidup dan mati hanyalah perjalanan menuju Sang Maha Cinta”.

ADVERTISEMENT

Akhir dari tulisan ulang ini saya ingin menceritakan bahwa dinamika Eros dan Thanatos, jauh melampaui pandangan Freud.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Kisah Seorang Pria

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com