Oleh Nendawati
Aku bersyukur memiliki suami yang baik dan bertanggung jawab. Kami memang tidak hidup mewah, tetapi bisa hidup sederhana, penuh kebahagiaan, tanpa utang atau cicilan. Itu adalah bentuk syukur terbesar yang kupanjatkan.
Aku selalu berpesan kepada anak-anakku bahwa mental kaya itu harus kita bangun. Kita ini semua orang kaya, bukan kah salat Subuh dua rakaat itu fadhilahnya seperti kita sudah memiliki dunia dan seisinya? Itulah yang sering kutanamkan pada anak-anakku: kita semua orang kaya, namun memilih hidup sederhana, itu tidaklah hina.
Anak-anak sudah kuberikan pemahaman bahwa hidup itu tidak perlu latah mengikuti kemampuan orang lain. Jangan tergiur dan meneteskan air liur atas apa yang belum kita miliki. Bersyukurlah, tetap berbahagialah dengan apa yang sudah kita punya. Jangan fokus hanya pada hal yang belum dimiliki, yang belum sesuai kapasitas diri kita. Setiap manusia itu memiliki prinsip hidup dan rezeki yang berbeda-beda.
Ketiga anak-anakku telah kutanamkan pentingnya syukur dan kesederhanaan, agar mereka tahu makna hidup yang sebenarnya. Hidup itu tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang rasa. Jika kita bersyukur, hati ibu pasti tenang. Dengan hati yang tenang, pikiran pun nyaman, dan kenyamanan itu akan melahirkan keceriaan dan kebahagiaan yang tiada putus. Aku juga sering memberi wejangan kepada anak-anakku untuk menjadi orang yang berguna, yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Mereka juga sudah kami ajarkan tentang berbagi, dan Alhamdulillah, mereka sudah paham makna sedekah. Dengan mendidik jiwa sosial mereka, setidaknya mereka paham konsep simpati dan empati. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Lihatlah, kebaikan itu ada di sekeliling kita, baik itu di kiri maupun kanan.
Suamiku juga sosok yang sangat bertanggung jawab dengan tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara. Kehidupan ini terus berkembang, apalagi dengan maraknya teknologi dan dunia maya yang memungkinkan segala sesuatu bisa diakses dengan mudah, asal memiliki kuota yang cukup. Hal ini menjadi tantangan besar bagi kami sebagai orang tua, terutama ibu. Hidup di zaman digital, kita sebagai ibu harus menjadi sahabat bagi anak-anak, jangan sampai kita kehilangan kontrol dalam penggunaan gawai. Meskipun kita sedang sibuk dengan rutinitas lainnya, kita tetap harus memantau mereka.
Seperti ranting yang mudah dipatahkan saat masih lunak, begitulah pentingnya mendidik anak-anak dengan hati-hati, agar mereka tumbuh dengan nilai-nilai yang baik. Aku terus belajar karena Allah SWT telah menitipkan tiga amanah ini.
Aku berusaha semaksimal mungkin agar kehidupan mereka terpenuhi, terutama dalam bentuk kasih sayang. Aku juga memperkenalkan Rabbi mereka, agar mereka tahu arah kiblat dan paham bahwa mereka juga memiliki kewajiban sebagai hamba Allah. Hal-hal seperti ini sering kami bincangkan di ruang keluarga.
Setelah bincang-bincang santai di ruang keluarga, aku menuju ruang makan untuk menyiapkan makan malam. Menu sederhana itu aku tata dengan rapi di meja makan: sayur bening, tahu tempe balado, dan sepiring ikan tongkol bumbu keumamah. Ada juga se-toples kerupuk emping melinjo, ciri khas daerah kami. Makanan tetap ku jaga gizinya, agar tidak mengonsumsi zat pengawet atau micin berlebihan. Di halaman belakang rumah, sengaja kutanam beberapa jenis sayuran seperti kangkung, bayam, dan ubi, agar daunnya bisa digunakan untuk sayur.
Karena jam hampir menunjukkan pukul delapan malam, kupanggil suami dan anak-anak untuk segera makan. “Suamiku, anak-anak, ayo kita makan malam bersama. Silakan duduk di kursi masing-masing, jangan lupa cuci tangan dan berdoa,” titahku pada mereka. “Iya, Bu,” jawab mereka. Setelah membaca doa makan, kami pun segera makan bersama.
Setelah makan malam, seperti biasa, tanpa aku suruh, anak-anak langsung membawa piring kotor ke tempat cuci piring, sementara aku segera membersihkan meja makan dan ruang makan. Anak-anak sudah kuberikan tanggung jawab agar mereka tahu bahwa mengangkat piring dan gelas kotor bukanlah tugas orang lain.
Azan Isya kembali berkumandang dari toa mesjid terdekat. Kami pun melanjutkan salat berjamaah di rumah, karena dalam minggu ini sering hujan. Suami dan anak-anak berjamaah di rumah. Setelah azan, beberapa saat kemudian, anak sulungku melanjutkan iqamah untuk melaksanakan salat berjamaah. Imamnya adalah suamiku.
Begitulah keseharianku menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari anak-anak. Aku dan suamiku sangat bersyukur, meski hidup dalam kesederhanaan, namun kami bisa menikmati keharmonisan. Canda dan tawa sering mengisi rumah sederhana kami. Kebersamaan di rumah dimulai dari keluarga terkecil. Jika peran ini sudah benar kita jalani, insyaAllah, peran-peran perempuan di ranah lain pun akan mengikuti.
Peran perempuan itu banyak dan sangat penting. Seorang perempuan bisa menjadi ibu, istri, dan Persit, juga memiliki peran di masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perempuan adalah pejuang keluarga.

