Dengarkan Artikel
Oleh Nendawati
Namaku Anya. Aku sudah dikaruniai dua anak laki-laki dan satu perempuan. Aku sangat bersyukur atas rahmat yang Allah SWT berikan padaku. Aku juga seorang Persit, dan akhirnya aku memilih berhenti bekerja untuk fokus pada suami dan anak-anakku. Sebagai seorang Persit, ada tuntutan untuk sering berpindah tugas, sehingga aku lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengabdikan diri pada keluarga kecil yang telah kami bangun.
Sekarang, aku tinggal bersama keluarga kecilku di daerah yang agak jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun, di mana pun suamiku ditugaskan, aku siap menemaninya dengan penuh setia dan ikhlas. Aku selalu bersyukur dan berbahagia. Yang penting, aku bisa bersama keluarga kecilku. Di mana pun suamiku ditugaskan, tidak masalah. Sekalipun itu daerah terpencil, bagiku tetap itu adalah kota yang indah, karena aku berada bersama suami yang tercinta dan anak-anakku. .
Tak banyak yang ingin kukisahkan, hanya sepenggal kisah yang kutorehkan: menjadi pendamping abdi negara itu harus kuat, sabar, dan penuh semangat. Aku selalu berusaha bahagia agar anak-anakku bisa tumbuh sehat dan ceria. Inilah kisah keluarga kecil kami dan peranku sebagai istri, Persit, dan ibu untuk kedua anak-anakku.
Kumulai segala sesuatu dari rumah ini. Rumah yang sederhana, namun penuh keceriaan, canda, dan tawa. Intinya, kita harus sering menanamkan rasa syukur kepada anak-anak kita, agar mereka tidak terjebak dalam mental yang rapuh.
Malam ini, seperti biasa, kami menunaikan salat berjamaah di musala kecil di sudut rumah kami. Inilah yang selalu kami tanamkan: pentingnya salat berjamaah. Selepas salat Maghrib berjamaah, aku langsung bersalaman dan mencium tangan suamiku dengan penuh takzim, kemudian melakukannya juga dengan anak-anak.<span;>
📚 Artikel Terkait
Di momen ini, suamiku memberikan nasihat kepada keluarga. Setelah itu, aku mengarahkan anak-anak, terutama kedua anak lelaki, untuk mengulang bacaan Al-Qur’an. Sementara si kecil, aku suruh menyimak saja apa yang dibacakan oleh kedua kakaknya.
Aku melanjutkan dzikir sambil memantau ketiga buah hatiku. Mereka melakukan kewajiban dengan senang hati, dan sesekali aku mendampingi anakku yang kedua untuk melafalkan setiap huruf Hijaiyah yang belum sepenuhnya ia kuasai. Sementara si sulung terus melanjutkan murajaah-nya.
Alhamdulillah, anakku yang sulung sudah menghafal 30 ayat-ayat pendek. Meski namanya surah Amma, tetapi surahnya panjang, seperti malam ini, ketika dia mengulang surah Al-Mutaffifin, Al-Balad, dan Al-Fajr.<span;>
Biasanya, setelah kegiatan Maghrib selesai, kami akan berkumpul sejenak di ruang keluarga, meskipun hanya sekadar menanyakan kabar atau apa yang mereka lakukan seharian. Kami saling bertukar cerita, agar komunikasi tetap terjaga. Ada gelak tawa yang menyegarkan, dan itulah momen kebersamaan yang akan kami ingat.
Aku selalu berusaha menciptakan suasana rumah yang ceria, agar anak-anak bahagia. Di usia mereka sekarang, yang mereka butuhkan adalah kebahagiaan dan keceriaan. Maka, aku benar-benar menjaga keharmonisan keluarga kecil ini.
Di rumah inilah aku menanamkan segala hal tentang ibadah, tauhid, dan keharmonisan antar anggota keluarga. Tanpa kita meminta, setan dan iblis akan terus menggoda setiap anak Adam, itulah janjinya kepada Allah SWT.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








