• Latest
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Januari 23, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

Redaksiby Redaksi
Januari 23, 2025
Reading Time: 6 mins read
Tags: #Puisi
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro 

 

Martha Christina Tiahahu:

Api Muda di Laut Banda

Martha Christina Tiahahu adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, Maluku. Ia dikenal sebagai simbol perjuangan melawan penjajahan Belanda. [1]

***

Di bawah langit Maluku, angin bertiup penuh cerita,

Gugusan pulau memeluk kisah perjuangan.

Di sanalah lahir seorang perempuan muda,

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Martha Christina Tiahahu, pemberani yang tak kenal gentar.

Dalam riuh ombak dan gemuruh hati rakyat,

Ia berdiri dengan tombak di tangan,

Melawan penjajah, menyuarakan keadilan.

Di tengah aroma pala dan cengkeh,

Maluku menjadi ladang pertempuran.

Kolonial Belanda datang membawa derita,

Menguasai tanah, merampas hasil bumi.

Namun di setiap penjuru,

Semangat perlawanan tumbuh,

Seperti api yang tak bisa dipadamkan.

Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu,

Adalah pemimpin yang gigih,

Dan Martha, gadis belia dengan tekad baja,

Selalu mengikuti di belakangnya.

Ia bukan hanya seorang anak,

Melainkan prajurit yang tak kenal takut.

Dalam usianya yang belia,

Ia memilih medan perang daripada kenyamanan rumah.

“Perjuangan adalah napasku,” katanya,

“Bumi ini harus bebas dari cengkeraman penjajah.”

Ia melangkah bersama pasukan rakyat,

Menyerang benteng, membakar gudang musuh.

Kepada tanah ia berjanji,

Tidak akan ada penjajah yang bertahan,

Selama darah mengalir di nadinya.

Namun kekuatan penjajah begitu besar,

Dengan senjata modern yang tak tertandingi.

Pasukan rakyat Maluku akhirnya terpukul mundur.

Kapitan Paulus ditangkap,

Dan Martha menyaksikan ayahnya dihukum mati.

Duka menghunjam jantungnya,

Namun ia tidak menyerah,

Baginya, kemerdekaan lebih berharga dari hidup.

Di Laut Banda, ia dipaksa menjadi tahanan.

Kapal penjajah membawanya menjauh dari tanah kelahirannya.

Namun semangatnya tak pernah padam,

Dalam penjara apapun, jiwa Martha tetap bebas.

Ia menolak makanan,

Sebagai tanda perlawanan terakhirnya.

“Biarkan tubuhku layu,” katanya,

“Namun jiwa ini akan terus melawan.”

Martha tahu, kematiannya adalah awal dari kehidupan baru,

Bagi rakyat Maluku yang merindukan kebebasan.

Dan pada usia 17 tahun,

Ia menyerahkan diri kepada laut,

Menghembuskan napas terakhir di gelombang Banda.

Laut menyambutnya dengan kasih,

Seolah tahu bahwa ia adalah pahlawan.

Angin membawa kisahnya ke segala penjuru,

Dan namanya menjadi legenda.

Martha Christina Tiahahu, bunga Maluku,

Yang mekar di tengah badai perjuangan.

Namun kisahnya tak berhenti di sana.

Para pemuda Maluku, dari generasi ke generasi,

Menjadikan semangat Martha sebagai obor.

Ia adalah lambang keberanian,

Yang melampaui batas usia dan gender.

Dalam bayangan ombak Laut Banda,

Setiap orang yang mendengar namanya merasa tergugah.

Betapa tidak, ia adalah simbol perlawanan,

Sebuah bukti bahwa ketidakadilan tak pernah abadi.

Meskipun muda, Martha mengajarkan arti pengorbanan.

Ia memilih kemerdekaan atas hidup yang tertindas.

Kisahnya adalah napas perjuangan,

Yang mengalir di setiap aliran darah Maluku.

Di setiap desa, di setiap pulau,

Namanya diabadikan dalam nyanyian rakyat.

“O Martha, bunga Maluku,

Yang gugur demi tanah tercinta.”

Lirik-lirik itu bergema,

Menyatukan suara-suara yang pernah terpecah.

Semangatnya menjadi perekat,

Bagi rakyat yang ingin melawan penindasan.

Kini, patung-patung didirikan untuk mengenangnya.

Di Ambon, di Nusa Laut,

Namanya menjadi pengingat akan tekad yang tak goyah.

Di sekolah-sekolah, anak-anak belajar kisahnya,

Mengerti bahwa kemerdekaan adalah warisan,

Yang harus dijaga dengan segenap jiwa.

ADVERTISEMENT

“Martha Christina Tiahahu,” ucap seorang guru,

“Adalah teladan bagi kita semua.”

Dan setiap anak yang mendengarnya,

Tahu bahwa perjuangan belum usai.

Karena di dunia yang terus berubah,

Semangat seperti Martha tetap diperlukan.

Bagi perempuan-perempuan muda,

Martha adalah inspirasi yang tak tergantikan.

Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin,

Dan cinta tanah air tak memiliki batas.

Dalam setiap langkah, mereka membawa semangatnya,

Membuktikan bahwa warisan Martha tetap hidup.

Kini, di negeri yang merdeka,

Namanya abadi di hati rakyat.

Ia adalah simbol keberanian,

Pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang tanpa pengorbanan.

Dan di setiap riuh ombak Laut Banda,

Kisahnya terus bergema,

Menginspirasi generasi untuk mencintai tanah air.

Martha Christina Tiahahu bukan sekadar sejarah,

Ia adalah nyawa yang terus menyala.

Dalam setiap hembusan angin,

Dalam setiap tarian ombak,

Kisahnya menjadi mantra,

Bahwa cinta pada negeri adalah kekuatan tak terkalahkan.

***

Rumah Kayu  Cepu, 22 Januari 2025

CATATAN:

[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Martha Christina Tiahahu salah satu Pahlawan Nasional termuda.

https://tirto.id/martha-christina-tiahahu-mati-muda-di-laut-banda-dcky

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pagar di Lautan Ketololan

Pagar di Lautan Ketololan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com