POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

RedaksiOleh Redaksi
January 23, 2025
Tags: #Puisi
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro 

 

Martha Christina Tiahahu:

Api Muda di Laut Banda

Martha Christina Tiahahu adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, Maluku. Ia dikenal sebagai simbol perjuangan melawan penjajahan Belanda. [1]

***

Di bawah langit Maluku, angin bertiup penuh cerita,

Gugusan pulau memeluk kisah perjuangan.

Di sanalah lahir seorang perempuan muda,

Martha Christina Tiahahu, pemberani yang tak kenal gentar.

Dalam riuh ombak dan gemuruh hati rakyat,

Ia berdiri dengan tombak di tangan,

Melawan penjajah, menyuarakan keadilan.

Di tengah aroma pala dan cengkeh,

Maluku menjadi ladang pertempuran.

Kolonial Belanda datang membawa derita,

Menguasai tanah, merampas hasil bumi.

Namun di setiap penjuru,

Semangat perlawanan tumbuh,

Seperti api yang tak bisa dipadamkan.

Ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu,

Adalah pemimpin yang gigih,

Dan Martha, gadis belia dengan tekad baja,

Selalu mengikuti di belakangnya.

Ia bukan hanya seorang anak,

Melainkan prajurit yang tak kenal takut.

Dalam usianya yang belia,

Ia memilih medan perang daripada kenyamanan rumah.

“Perjuangan adalah napasku,” katanya,

“Bumi ini harus bebas dari cengkeraman penjajah.”

Ia melangkah bersama pasukan rakyat,

Menyerang benteng, membakar gudang musuh.

Kepada tanah ia berjanji,

Tidak akan ada penjajah yang bertahan,

Selama darah mengalir di nadinya.

Namun kekuatan penjajah begitu besar,

Dengan senjata modern yang tak tertandingi.

Pasukan rakyat Maluku akhirnya terpukul mundur.

Kapitan Paulus ditangkap,

Dan Martha menyaksikan ayahnya dihukum mati.

Duka menghunjam jantungnya,

Namun ia tidak menyerah,

Baginya, kemerdekaan lebih berharga dari hidup.

Di Laut Banda, ia dipaksa menjadi tahanan.

Kapal penjajah membawanya menjauh dari tanah kelahirannya.

Namun semangatnya tak pernah padam,

Dalam penjara apapun, jiwa Martha tetap bebas.

Ia menolak makanan,

Sebagai tanda perlawanan terakhirnya.

📚 Artikel Terkait

Untukmu, Para Bunda..

Pengemis Lansia di Usia Senja

Satgas PPKM Terus Ingatkan Pelaku Usaha

Teruntuk Yang Terkasih, Ibu

“Biarkan tubuhku layu,” katanya,

“Namun jiwa ini akan terus melawan.”

Martha tahu, kematiannya adalah awal dari kehidupan baru,

Bagi rakyat Maluku yang merindukan kebebasan.

Dan pada usia 17 tahun,

Ia menyerahkan diri kepada laut,

Menghembuskan napas terakhir di gelombang Banda.

Laut menyambutnya dengan kasih,

Seolah tahu bahwa ia adalah pahlawan.

Angin membawa kisahnya ke segala penjuru,

Dan namanya menjadi legenda.

Martha Christina Tiahahu, bunga Maluku,

Yang mekar di tengah badai perjuangan.

Namun kisahnya tak berhenti di sana.

Para pemuda Maluku, dari generasi ke generasi,

Menjadikan semangat Martha sebagai obor.

Ia adalah lambang keberanian,

Yang melampaui batas usia dan gender.

Dalam bayangan ombak Laut Banda,

Setiap orang yang mendengar namanya merasa tergugah.

Betapa tidak, ia adalah simbol perlawanan,

Sebuah bukti bahwa ketidakadilan tak pernah abadi.

Meskipun muda, Martha mengajarkan arti pengorbanan.

Ia memilih kemerdekaan atas hidup yang tertindas.

Kisahnya adalah napas perjuangan,

Yang mengalir di setiap aliran darah Maluku.

Di setiap desa, di setiap pulau,

Namanya diabadikan dalam nyanyian rakyat.

“O Martha, bunga Maluku,

Yang gugur demi tanah tercinta.”

Lirik-lirik itu bergema,

Menyatukan suara-suara yang pernah terpecah.

Semangatnya menjadi perekat,

Bagi rakyat yang ingin melawan penindasan.

Kini, patung-patung didirikan untuk mengenangnya.

Di Ambon, di Nusa Laut,

Namanya menjadi pengingat akan tekad yang tak goyah.

Di sekolah-sekolah, anak-anak belajar kisahnya,

Mengerti bahwa kemerdekaan adalah warisan,

Yang harus dijaga dengan segenap jiwa.

“Martha Christina Tiahahu,” ucap seorang guru,

“Adalah teladan bagi kita semua.”

Dan setiap anak yang mendengarnya,

Tahu bahwa perjuangan belum usai.

Karena di dunia yang terus berubah,

Semangat seperti Martha tetap diperlukan.

Bagi perempuan-perempuan muda,

Martha adalah inspirasi yang tak tergantikan.

Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin,

Dan cinta tanah air tak memiliki batas.

Dalam setiap langkah, mereka membawa semangatnya,

Membuktikan bahwa warisan Martha tetap hidup.

Kini, di negeri yang merdeka,

Namanya abadi di hati rakyat.

Ia adalah simbol keberanian,

Pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang tanpa pengorbanan.

Dan di setiap riuh ombak Laut Banda,

Kisahnya terus bergema,

Menginspirasi generasi untuk mencintai tanah air.

Martha Christina Tiahahu bukan sekadar sejarah,

Ia adalah nyawa yang terus menyala.

Dalam setiap hembusan angin,

Dalam setiap tarian ombak,

Kisahnya menjadi mantra,

Bahwa cinta pada negeri adalah kekuatan tak terkalahkan.

***

Rumah Kayu  Cepu, 22 Januari 2025

CATATAN:

[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Martha Christina Tiahahu salah satu Pahlawan Nasional termuda.

https://tirto.id/martha-christina-tiahahu-mati-muda-di-laut-banda-dcky

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Puisi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Pagar di Lautan Ketololan

Pagar di Lautan Ketololan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00