• Latest
Di Balik Langkah Guru Nias

Di Balik Langkah Guru Nias

Januari 20, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Di Balik Langkah Guru Nias

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Januari 20, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETLiterasi
Di Balik Langkah Guru Nias
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Video siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 078481 Uluna’ai Hiligo’o Laowo Hilimbaruzo di Dusun III Desa Laowo Hilimbaruzo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, curhat tidak ada guru mengajar selama sebulan viral di media sosial. [1]

***
Di pelosok Nias, di ujung jalan berbatu,
Ada sekolah berdiri, di bawah langit kelabu.
Tiga ruang kelas, satu tanpa pintu,
Namun di sanalah mimpi anak-anak bertaut satu per satu.

Di balik papan tulis yang lapuk,
Kasiman berdiri tegap tanpa ragu.
“Anak-anakku, kita belajar meski sederhana,
Karena ilmu adalah jembatan menuju surga dunia.”

Namun, di luar kelas, kehidupan guru penuh rintangan,
Dua jam perjalanan, menembus hujan dan terik mentari.
Jalan berbatu, lumpur licin, dan duri belantara,
Semua mereka lewati dengan niat mulia.

“Pak, kenapa Bapak selalu datang terlambat?”
Tanya seorang bocah, matanya penuh ingin tahu.
“Nak, perjalanan ini tak mudah,
Tapi percayalah, ilmu takkan berhenti aku bawa.”

Anak-anak kecil itu, dengan kaki telanjang,
Berlari ke sekolah, meninggalkan ladang.
Di antara rimbun pohon dan kicauan burung,
Mereka bermimpi menjadi pemimpin di kemudian hari.

Malam itu, di sebuah pertemuan kecil,
Para guru berkumpul di bawah sinar lampu minyak.
“Apa yang bisa kita lakukan? Kita kekurangan segalanya.”
“Namun, kita punya semangat. Itu yang harus dijaga.”

“Pak Kasiman, apa yang bisa kita harapkan?
Jalanan ini tak kunjung dibangun,
Dan rumah dinas hanyalah bayangan.”
“Kita terus mengajar, meski peluh bercucuran.
Karena kita adalah jantung pendidikan.”

Di luar, angin malam membelai pepohonan,
Sementara diskusi terus berlangsung dengan penuh beban.
Mereka tahu, perjuangan ini panjang,
Namun harapan anak-anaklah yang membuat mereka terus berdendang.

Pagi itu, perjalanan dimulai seperti biasa,
Dua jam berjalan, melewati jalan setapak penuh cerita.
Pak Kasiman membawa tumpukan buku,
“Ini tugas kita,” gumamnya dalam hati yang teguh.

Seorang warga desa menegur,
“Kenapa kalian terus saja mengajar?
Bukankah lebih baik menyerah saja?”
“Karena kami percaya, pendidikan adalah kunci,
Untuk membuka pintu kemakmuran di masa nanti.”

Anak-anak menunggu dengan riang,
Mereka tahu, guru adalah cahaya di jalan yang panjang.
“Pak, ajari kami tentang dunia,” pinta seorang murid.
“Baik, Nak, mari kita belajar, agar mimpi tak lagi terjepit.”

Di ruang kelas tanpa jendela, pelajaran dimulai,
Tentang angka, huruf, dan cerita dunia lain.
Di sudut, ada bocah yang menggambar peta,
“Bapak, aku ingin jadi insinyur, membangun jembatan kita.”

Ironi pendidikan di negeri yang kaya,
Di sudut Nias, cerita ini nyata.
Guru berjuang, murid berharap,
Namun infrastruktur seolah lenyap.

“Pak Kasiman, kapan jalan ini akan berubah?”
“Aku tak tahu, Nak, tapi kita harus terus melangkah.
Suatu saat nanti, orang-orang akan melihat kita,
Dan mereka akan tahu, perjuangan ini bukan sia-sia.”

Malam itu, Kasiman menulis surat,
Untuk pemimpin daerah, agar hatinya tersentuh hangat.
“Pak, di sini kami butuh dukungan,
Jalan, fasilitas, dan sedikit perhatian.”

Hari berganti, surat itu sampai di meja kekuasaan,
Namun jawaban yang datang hanyalah angin kosong,
“Kami akan mengusahakan,”
Sebuah janji yang terdengar seperti angan-angan.

Namun, Kasiman tak menyerah,
Karena ia percaya pada mimpi anak-anak Nias.
“Mereka adalah penerus bangsa,
Dan tugas kita adalah menjaga harapan mereka tetap menyala.”

“Pak, apakah kita akan terus seperti ini?”
Tanya seorang guru muda dengan tatapan letih.
“Mungkin tidak, mungkin ya,
Tapi tugas kita adalah melangkah tanpa menyerah.”

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Dan di pelosok Nias yang sunyi,
Langkah-langkah mereka terus berbunyi.
Mengabarkan kepada dunia,
Bahwa pendidikan adalah hak semua manusia.

ADVERTISEMENT

_______
Rumah Kayu Cepu, 19 Januari 2015

Catatan:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari “Ironi SD Nias, Guru Tak Mengajar Ternyata karena Jalan Kaki 2 Jam” yang diterbitkan oleh CNN Indonesia pada 19 Januari 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kholid dan Pagar Laut

Kholid dan Pagar Laut

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com