Dengarkan Artikel
Oleh: Sazali, S.Pd
Sebagai orangtua, salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi adalah mengedukasi anak-anak saya dalam dunia yang seolah tak bisa terpisahkan dari pengaruh gadget. Sebagian besar orangtua mungkin merasa kebingungan dan khawatir ketika anak-anak mereka sudah terpapar gadget sejak usia pra sekolah. Namun, saya ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana saya atas izin Allah berhasil menjaga anak-anak saya dari pengaruh gadget. Saya memperkenalkan mereka pada dunia membaca, sebuah kebiasaan saya aplikasikan sejak mereka belum genap berusia 2 tahun.
Saya adalah seorang ayah yang memiliki dua anak. Seorang putri, berusia 7 tahun dan seorang putra berusia 4 tahun. Sejak mereka masih bayi, saya sudah berusaha membangun kebiasaan yang sehat dan bermanfaat untuk perkembangan mereka. Salah satu kebiasaan yang saya tanamkan sejak usia sangat dini adalah kebiasaan membacakan cerita. Saya percaya bahwa kebiasaan ini adalah kunci untuk menjauhkan mereka dari pengaruh gadget yang bisa mengganggu tumbuh kembang mereka.
Membangun Kebiasaan Membaca Sejak Dini
Saya masih ingat, ketika anak pertama saya, Aisha, berusia satu tahun, Kami (saya dan istri) mulai membacakan buku cerita setiap malam menjelang tidur atau lebih dikenal dengan istilah bedtime story. Pada awalnya, Aisha mungkin belum sepenuhnya mengerti cerita yang kami bacakan, namun saya dan istri percaya bahwa mendengarkan suara ayah dan bundanya serta melihat gambar-gambar di buku merupakan stimulasi yang luar biasa terhadap perkembangan otak anak.
Kami juga sering bercerita tentang kegiatan sehari-hari atau mengajaknya berbicara tentang dunia di sekitar kami. Meskipun dia belum bisa berbicara dengan lancar pada saat itu, namun dia mulai mengenali suara dan kata-kata yang kami ucapkan.
Berbeda dengan kakaknya, Aisha, Yusuf terbilang sedikit lambat untuk bisa tertarik dengan buku, tetapi seiring waktu karena sering melihat kakak yang aktif membaca buku setiap hari, bahkan sebelum berangkat ke sekolah, Yusuf mulai penasaran dengan buku. Momen itu kami manfaatkan dengan baik untuk mencari tahu buku jenis apa yang dia suka. Alhamdulillah sekarang Yusuf sudah benar-benar tertarik dengan buku dan mulai menagih bundanya untuk bercerita sebelum tidur dan selalu mengajak saya membaca buku bersama.
Saya percaya bahwa dengan membiasakan anak-anak mendengarkan cerita dan berinteraksi dengan buku sejak usia dini, mereka akan lebih mudah mencintai kegiatan membaca. Selain itu, kegiatan ini mempererat ikatan emosional antara orangtua dan anak yang sangat penting untuk perkembangan mental dan sosial mereka.
Menjauhkan Anak dari Gadget
Di dunia yang serba digital ini, tak bisa dipungkiri memang sulit untuk menjauhkan anak dari paparan gadget. Banyak orangtua yang merasa terjebak dalam penggunaan gadget untuk menjaga anak-anak tetap tenang atau sebagai cara untuk memberi mereka hiburan. Bagi sebagian besar orangtua ini sudah menjadi fenomena yang sangat wajar. Banyak orang-orang yang bahkan saya kenal memberikan gadget kepada anak-anak mereka untuk bermain game atau menonton video yang pada akhirnya anak-anak mereka menjadi ketagihan dan bahkan lebih sulit diajak berinteraksi di dunia nyata.
Namun, saya berusaha keras untuk menghindari agar anak-anak saya tidak terjebak dalam kebiasaan tersebut. Saya tidak pernah memberikan gadget pada usia dini kepada merekasampai saat ini. Saya juga memastikan bahwa mereka tidak memiliki akses ke perangkat digital seperti ponsel atau tablet. Saya menyadari bahwa meskipun gadget dapat menawarkan hiburan dan kemudahan, pengaruh jangka panjangnya terhadap perkembangan anak sangat besar. Penelitian menunjukkan bahwa paparan gadget yang berlebihan dapat mengganggu perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial anak.
📚 Artikel Terkait
Sebagai gantinya, saya berusaha menghadirkan pengalaman yang lebih menyenangkan dan bermanfaat melalui interaksi langsung. Saya sering mengajak mereka untuk bermain bersama di luar rumah, seperti bermain lego dan puzzle bersama dirumah, jalan-jalan dan bermain ayunan di taman, ke pantai,berkunjung ke perputakaan. Kami juga sering berkegiatan kreatif bersama, seperti menggambar dan mewarnai, membuat kerajinan tangan dari kertas origami. Semua kegiatan ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membantu anak-anak saya mengembangkan keterampilan motorik dan sosial mereka.
Peran Cerita dalam Pembentukan Karakter Anak
Membacakan cerita bagi kami bukan hanya sekadar kegiatan yang menyenangkan. Kami melihatnya sebagai alat yang sangat efektif dalam membentuk karakter dan membangun nilai-nilai penting dalam kehidupan anak. Setiap cerita yangkami bacakan mengandung pelajaran hidup yang berharga, seperti tentang kejujuran, persahabatan, keberanian, kebaikan hati dan lain sebagainya.
Anak-anak kami sangat menyukai cerita-cerita yang penuh dengan petualangan dan karakter-karakter yang mereka sukai. Misalnya, mereka menyukai cerita tentang nabi, cerita keluarga, dan beberapa cerita menarik lainnya terutama tentangpembentukan sikap. Saat kami membacakan cerita tentang keberanian atau kebaikan hati, kami tidak hanya sekadar mengajak mereka untuk mendengarkan, tetapi juga mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang bisa dipelajari dari cerita tersebut.
Kami juga mengajarkan mereka untuk selalu bertanya dan berpikir kritis. Setiap kali selesai membacakan sebuah cerita,anak-anak akan ditanyakan tentang apa yang mereka pelajari dan apa yang mereka rasa bisa dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini bukan hanya melatih kemampuan berpikir mereka, tetapi juga membantu mereka mengembangkan empati dan pemahaman terhadap orang lain. Kegiatan membacadan berdiskusi seperti ini sebagian besar sering dilakukan olehistri saya.
Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran
Selain kebiasaan membacakan cerita, kami juga menciptakan lingkungan yang mendukung untuk anak-anak dapat terus belajar dan berkembang. Rumah kami memilikiruang baca kecil dipenuhi dengan berbagai jenis buku, mulai dari buku bergambar untuk anak-anak hingga buku cerita yang lebih kompleks. Kami juga sering membawa anak-anak ke perpustakaan atau toko buku untuk memilih buku-buku yang mereka minati. Dengan begitu, mereka mulai terbiasa melihat buku sebagai teman yang menyenangkan dan bukan sebagai sesuatu yang membosankan.
Kami sebisa mungkin juga berusaha untuk menjadi contoh bagi mereka. Istri saya adalah seorang pembaca yang aktif, dan anak-anak saya sering melihat bundanya membaca buku, novelatau majalah. Sedangkan saya juga membaca tetapi tidak seaktifistri saya. Kami berdua percaya bahwa dengan menunjukkan ketertarikan pada buku, kami bisa menularkan kebiasaan membaca kepada anak-anak kami.
Menghadapi Tantangan
Tentunya, perjalanan ini tidak selalu mulus. Terkadang, anak-anak saya juga merasa penasaran dengan gadget. Mereka melihat teman-teman mereka yang bermain dengan ponsel atau menonton video di tablet. Saya harus menghadapi berbagai pertanyaan dari mereka, seperti “Kenapa kakak tidak boleh main hape Ayah?” atau “Kenapa teman-teman kakak bisa punya tab?”
Di sinilah peran komunikasi yang baik dan tepatdiperlukan. Kami menjelaskan kepada mereka dengan cara yang sesuai dengan usia mereka mengapa memilih untuk tidak memberikan gadget. Saya mengatakan bahwa meskipun gadget bisa menyenangkan, ada banyak cara lain yang lebih baik dan lebih menyenangkan untuk belajar dan bermain. Saya juga menekankan bahwa kegiatan seperti membaca, bermain di luar rumah, dan berinteraksi dengan teman-teman atau keluarga adalah cara yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang.
Kesimpulan
Sebagai orangtua, saya merasa sangat bersyukur karena berhasil menjaga anak-anak saya dari pengaruh gadget secaratotal, artinya kedua anak kami benar-benar belum terpapargadget sama sekali. Mereka memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan yang mendukung perkembangan mereka dengan cara yang lebih sehat. Saya percaya bahwa kebiasaan membaca yang kami bangun sejak dini akan membawa dampak positif bagi masa depan mereka. Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi inspirasi bagi orangtua lainnya yang mungkin sedang menghadapi tantangan yang sama. Meskipun dunia digital semakin berkembang, kita sebagai orangtua tetap memiliki peran besar dalam membimbing anak-anak kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan cerdas.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






