POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Apa Itu Manusia

Fajar IlhamOleh Fajar Ilham
January 17, 2025
Tags: #Heidegger#Manusia
Apa Itu Manusia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fajar İlham

Judul tulisan di atas, merupakan sebuah pertanyaan yang menanyakan tentang manusia. Pertanyaan itu, mungkin pula akan dijawab  atau ditafsirkan dengan berbagai  perspektif, sesuai dengan kemampuan menafsirkannya.

Bagi saya sendiri,  mau bersentuhan dengan pikiran Rane Descartes. Dia mengatakan  manusia itu ”cagito, ergo sum”, namun setelah saya lama bersentuahan dengan buah pikir Rane, saya dikejutkan dengan psikologi humanistik Abraham Maslow, yang menyoroti manusia sebagai makhluk individu.

Karena di awal saya sudah terlalu terkesima dengan “cagito, ergo sum” saya lagi-lagi dibuat bingung. Alasannya, selain manusia sebagai makhluk individu, namun ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan yang lain, lebih tepatnya saling ketergantungan.

Nah, jika demikian, kenapa pula manusia dikatakan makhluk individu, sementara ia terikat dengan yang lain.  Jika individu ini terikat dengan yang lain, lalu bagaiman ia menjalani samudera kehidupan ini? Lagi-lagi “cagito, ergo sum” menggoda saya untuk mencari apa itu manusia.

Dalam proses pencarian yang panjang ini, saya dibuat geli dengan istilah ‘kesetaraan’ di mana ini adalah syarat bagi perkembangan hidup manusia sebagai makhluk individu. Tentunya kesetaraan yang seperti apa yang semestinya dijalani dalam samudera kehidupan ini.

📚 Artikel Terkait

Sujud Terakhir di Sepertiga Malam

BAHTERA DI TENGAH BADAI

Balita Pencari Nafkah: Antara Kemiskinan dan Kesiapan Menjadi Orang Tua

Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia

Jika kita merujuk pada konsep yang pernah dirumuskan oleh Kant,”bahwa manusia tidak boleh menjadi alat bagi tujuan manusia lain”.   Jika kita ambil contoh tentang gender, bagaimana yang dimaksud dengan kesetaraan itu? Apakah kesamaan hak agar memproleh keadilan? Joka begitu, tentunya ini sangat tidak membuat saya klimaks, dikarenakan antara perempuan dan laki-laki adanya perbedaan. Lalu bagaimana yang dimaksut dengan kesetaraan yang dirumuskan oleh Kant itu….

Namun demikian ada hal yang lebih kompleks lagi, yaitu bagaimanakah kita mendekontruksikan kesetaraan dalam masyarakat yang kapitalis di era teknologi digital. Tentunya kesetaraan itu telah berubah. Karena kini individu manusia mengacu pada kesetaraan ‘manusia mesin’.

Manusia mesin yang saya maksudkan adalah manusia yang untuk mengetahui kenapa saya lapar. Dia memperoleh jawabannya sangat instan, walaupun hasil jawabnya sama dengan orang yang berproses. Namun ada yang hilang dalam diri manusia mesin itu, yaitu:”manusia yang telah kehilangan individunya”. Karena pengalaman individu manusia itu melewati rangkaian peroses yang berbeda-beda, dan tidak mungkin sama. 

Lantas, bagaimana cara agar seseorang yang terperangkap dalam jaring rutinitas kehidupan ini, tidak lupa bahwa dirinya adalah manusia yang individu yang terikat dengan sosial, individual yang unik ini. Saya meminjam jawabnya sementara dari Heidegger, yaitu: “menjadi manusia yang otentik”.  Bagi Heidegger, pertanyaan tentang keberadaan bekonfrontasi dengan kematian, dengan membuat makna dari keterbatasan manusia. Jika keberadaan kita terbatas, maka apa artinya menjadi manusia, atau dalam kata-kata Nietzsche yang dikutip oleh Heidegger, mendefinisikan manusia adalah kemampuan untuk dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang paling dalam dan membingungkan.

Lagi-lagi,“cagito, ergo sum” membuat adrenalin ini mengembara di muara kehidupan, untuk mengetahui bagaimana yang dimaksud dengan “menjadi manusia yang otentik itu”.

Dalam gemuruh pertentangan ini, akhirnya saya diredamkan untuk beberapa saat dalam pandangan Jalaluddin Rumi. Ia mengatakan manusia memiliki potensi luar biasa  dan untuk menemukan itu ada di dalam dirinya sendiri, yaitu manusia adalah makhluk yang bertransformasi. Aku mati sebagai mineral, dan menjelma menjadi tumbuhan, lalu mati lagi menjadi binatang, lalu kini hidup menjadi manusia.

Kenapa aku harus bingung dengan yang disebutkan Heidegger “menjadi menuju kematian”, karena kematian ini tidak menyebabkanku kekurangan, karena aku harus mati sekali lagi sebagai manusia untuk menjelma sesuatu yang tidak terdefininsi. Biarkan diriku tidak ada, karena “KepadaNya kita akan kembali” ke sumber asal muasal ‘ada’.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #Heidegger#Manusia
Fajar Ilham

Fajar Ilham

lahir di Kluet Utara pada 01-12-1989 dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah di Universitas Syiah Kuala. Barista Gerobak Arabica yang suka membaca buku-buku filsafat. Sejak kecil sudah suka menyukai cerita-cerita legenda. Aktif di organisasi eksternal kampus (HMI) semasa kuliah

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Zakat untuk Makan Gratis

Zakat untuk Makan Gratis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00