POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Durian Raja Pendekar dari Lamuri

RedaksiOleh Redaksi
January 7, 2025
Tags: #cerpen#sejarahAceh
Aku dan Harun Anakku, Tatkala Langsat Montasik Mulai Matang
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Afridal Darmi

Sudah musim durian lagi di Lamuri. Angin malam berhembus membawa harumnya ke indera penciuman Johan Chik. Di malam yang sunyi itu, dalam rumah kecil di pinggiran Krueng Lamuri, Johan duduk termenung di kursi kayu. Di dekatnya sebuah meja tempat mushaf Quran tua tergeletak. Rambutnya hitam sebahu menggerai di wajah mantan pendekar yang tampak lelah itu. Wajahnya penuh gurat-gurat tegas, namun sorot matanya yang dulu seperti tombak yang siap melesat kapan saja, kini tampak murung. Di bawah sinar pelita getah damar yang redup Johan tampak rapuh. Seekor kucing tidur nyenyak di pangkuannya. Kucing kecil berbulu belang-belang itu hadiah terakhir dari almarhum istrinya.

Harimau Kecil, kucing itu ia beri nama. Bagi Johan, ia bukan sekadar binatang peliharaan, dialah teman setia Johan dalam hari-harinya yang kelabu. Duduk di luar rumahnya, sambil mengelus bulu lembut si Harimau Kecil, Johan merasa tenang. Angin Lamuri berhembus perlahan, membawa aroma sungai,daun pandan dan samar bau durian. Angin itu perlahan menggoyangkan api pelita damar, membuat bayang-banyang Johan bergerak-gerak di dinding rumah.

Semua tampak damai. Hingga suara derap kaki kuda terdengar mendekat.

“Tok! Tok! Tok!” Pintu rumah digedor, keras dan kasar.

Johan membuka pintu. Di depannya berdiri tiga pemuda berpakaian mewah. Pemuda yang paling depan mengenakan ikat kepala emas, sebatang pedang kecil berlapis permata terselip di pinggangnya. Dialah Raja Kecil Lamuri, anak tunggal dari Sultan Mahakutta Al-Lamuri, bernama Tengku Pangeran Malikul Mulk, sebuah nama yang melambangkan kesombongan total, tetapi orang-orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Tengku Mancung, karena hidungnya yang begitu menonjol.

“Hei, Johan Chik!” seru Tengku Mancung. “Aku dengar engkau punya durian terbaik! Mana durian itu? Serahkan padaku.”

“Durian?” tanya Johan pura-pura tak mengerti. “Ada ribuan  buah durian di mana saja di tanah Lamuri ini. Untuk apa Tuan Muda mencari durian di rumahku ini? Setiap rakyat Lamuri pasti akan bahagia menyerahkan duriannya pada Tuan”

“Jangan bodohi aku,” bentak Tengku Mancung. “Semua orang mendesas desus Engkau memiliki buah durian istimewa. Buah durian yang paling harum dari pohon yang katanya hanya berbuah satu setiap sepuluh tahun. Mana…!” bentaknya lagi.

Johan menghela napas panjang. Ia tahu Tengku Mancung terkenal sebagai pemuda yang manja dan suka semena-mena.

“Durian itu bukan untuk dijual,” jawab Johan tenang. “Itu milik almarhum istriku. Ia menanam dan merawat pohonnya sejak benih sampai besar, sebelum almarhum pergi meninggalkan dunia ini.”

Tengku Mancung tertawa sinis. “Astaga, demi segala buaya dan biawak sungai! Sentimentil sekali Engkau, Johan Chik!” Ia meludah ke tanah di depan Johan, “Apa peduliku? Akulah Sang Pangeran. Penguasa di tanah Lamuri ini. Apa pun yang kumau, harus kudapatkan!”

Tanpa peringatan, Tengku Mancung menendang pintu rumah Johan hingga terbuka lebar. Anak buahnya segera menyerbu masuk, mengobrak-abrik isi rumah. Para pengawal menyergap Johan dan mengekangnya. Johan tak sedikitpun mencoba melawan. Dalam kekangan pengawal-pengawal kerajaan berbadan besar-besar itu, hanya matanya yang mencorong berang.

Harimau Kecil mendesis marah, tanpa takut ia mengancam musuhnya dengan cakar-cakarnya yang kecil. Dengan kakinya Johan mendorong kucing kecil itu ke pinggiran. Ia khawatir pengawal-pengawal kasar itu akan menyakiti satu-satunya sahabat warisan istrinya itu.

Tengku Mancung berseru girang saat menemukan durian itu, disimpan di dalam kotak kayu, dialasi kantong kain berisi beras Lamuri. Ia mencium aromanya, tersenyum puas, lalu menyuruh anak buahnya membawa durian itu pergi.“Haha..Memang harus kuakui, ini pantas disebut durian yang hanya ada satu dalam selaksa. Hmmm… harumnya sempurna. Aku penasaran isi dan rasanya seperti apa”.

“Ini hanya permulaan, Johan Chik,” katanya sambil menyeringai. “Lain kali, pastikan engkau tidak menolak keinginan seorang pangeran.”

Johan hanya diam, menatap kosong ke arah mereka yang pergi dengan kuda-kuda mewah. Namun, di dalam dirinya, amarah membara. Kemarahannya serasa mendidihkan darahnya yang sejak kematian istrinya mulai mendingin. Ia menghela napas dalam dan melepaskannya perlahan-lahan sambil beristighfar berusaha mengendalikan dirinya. Harimau Kecil menggeserkan badannya ke betis Johan, memberi sentuhan untuk menyabarkannya. Johan meraup kucing kecil itu dan menempelkannya di dadanya.

Keesokan paginya, Johan pergi ke pasar mencari keterangan. Orang-orang di pasar berbisik-bisik ketika melihatnya. Johan Chik, sang pendekar legendaris, yang telah lama menguburkan pedang dan rencongnya itu berada di tengah mereka hari ini. Namun, sekalipun telah pensiun, semua orang tahu belaka kesaktiannya. Para bajak laut yang paling ganaspun pernah gentar mendengar namanya.

“Apa yang kau cari, Johan?” tanya Yah Ngah Ibrahim, seorang pedagang kain.

“Aku mencari Pangeran Mancung,” jawab Johan singkat.

📚 Artikel Terkait

“Ie Pet”

Hikmah Tahun Baru Islam 1443 H

Empat Nilai Pendidikan Karakter Pahlawan yang Bisa diterapkan pada Generasi Muda

Perjuangan Perempuan Melawan Ketidakadilan

Yah Ngah Ibrahim menelan ludah. “Ia sering berkumpul di istana kecilnya di Pasie Krueng Lamuri” jawabnya. “Tapi hati-hatilah, Nak. Pangeran Mancung selalu dikelilingi para pengawal yang terlatih.”

“Pengawal atau tidak, mereka tetap manusia,” kata Johan dengan dingin. “Terima kasih untuk peringatannya, Yah Ngah.Saya tahu Yah Ngak merisaukan keselamatan dan nyawa pengawal-pengawal itu. Tapi saya bukan lagi manusia haus darah seperti dulu”.

Di istana kecil dekat pantai sungai yang permai itu, Tengku Mancung sedang bersantai di istana kecilnya. Ia duduk di atas singgasana empuk, dikelilingi para dayang yang mengipasinya dengan kipas anyaman janur kelapa. Aroma durian merebak. Namun, suasana santai itu berubah mencekam ketika pintu istana didobrak keras.

Johan Chik berdiri di ambang pintu, dalam bungkusan pakaian hitam ringkas dan sebilah rencong di tangan. “Aku datang untuk mengambil kembali milikku,” katanya tegas.

Pangeran Mancung tergelak-gelak melihat rencong itu. Itu hanyalah sebatang rencong mainan dari kayu hitam. Bahkan buatannya pun tidak terlalu bagus, terlihat kasar bagai buatan tukang kayu yang tak terlalu ahli. Ia tidak tahu, setiap benda yang ada di tangan Johan Chik adalah sebatang senjata tangguh. Jangan kata sebatang rencong kayu, bahkan sebatang gerep (pensil dari lidi ijuk) bisa jadi senjata yang mematikan.

Bagai air bah yang tumpah ruah, para pengawal menyerbu.Tetapi Johan Chik bukanlah pendekar mumbang kelapa, ia adalah seorang pendekar setara seribu orang. Ilmu Silat Kumango yang melegenda itu beraksi, berkelebat-kelebat di antara para pengawal. Seketika orang menjadi sadar apa sebabnya Johan Chik menjulang namanya sebagai pendekar paling ditakuti di Tanah Samudera.

Walaupun para pengawal datang bergelombang, dengan rencong kayunya itu ia melumpuhkan mereka satu per satu. Tapi tak seorangpun terluka, tak setetes darah pun tumpah. Pedang dan tombak pengawal tak mampu menandingi keahlian Johan dalam bertarung jarak dekat. Rencong kayu itu hanya berkelebat-kelebat ke arah mata para pengawal, seakan mengancam dengan tikaman yang akan membutakan mata mereka, namun bantingan, kuncian dan terutama pukulan siku Johan lah yang menjatuhkan perajurit-perajurit terlatih itu tanpa ampun. Membuat istana pinggir sungai itu sesaat penuh dengan suara gedebak gedebuk, derak tulang patah dan jerit kesakitan.

Seorang pengawal yang terlalu bersemangat mencoba menendang dengan tendangan terbang ala jago silat Cina. Tapi hanya dengan menggeser kakinya Johan membuat pengawal itu terhumbalang ke pinggir arena. Malang bagi sipengawal ia jatuh di atas meja tempat durian keramat itu dipajang.

Johan meraung murka melihat durian kesayangan istrinya itu jatuh ke tanah. Kontan saja si pengawal sial itu mendapat tamparan Gayong Apui rahasia tertinggi silat Kumango. Si pengawal terguling tanpa ampun, pipi dan pelipisnya serentak lembam ungu berbentuk lima jari tangan penamparnya. Tamparan sakti itu sebelumnya jarang sekali dikeluarkanJohan. Tetapi dalam kemurkaannya tamparan Gayong Apui mentas dalam pertarungan kali ini.

Johan bergerak makin cepat bahkan sampai terasa bagai bayang-bayang, membagi-bagi tamparan Gayong Apui yang mengerikan itu kiri kanan. Dari tiga puluh enam pengawal Tengku Mancung tak seorang pun tersisa, lebih setengahnya patah tulang, delapan orang tak bergerak lagi terkenat amparan Gayong Apui. Entah mati atau hanya pingsan. Sisanya lari menceburkan diri ke Krueng Lamuri. Bagi mereka lebih baik lari ke sungai yang berisi biawak dan lepu air tawar berbisa daripada menjadi korban kemurkaan Gayong Apui di tangan pendekar itu.

Johan berdiri di tengah korbannya yang merintih-rintih atau terguling tak bergerak. Tegak bagai seekor naga, telapak tangan kiri terbuka di depan dada, tangan kanan menggenggam rencong tegak lurus menusuk langit. Matanya mencorong menyala seperti mata harimau ke arah Teungku Mancung.

Tengku Mancung menjerit seperti seorang anak kecil yang ngeri melihat hantu. “Jangan mendekat, Johan Chik! Aku akan mengganti durian itu dengan emas!”. Ia memegang durian itu di dekat mukanya yang ketakutan.

Namun Johan hanya menatapnya tajam. “Ini bukan semata soal durian. Ini soal kehormatanku dan penodaanmu terhadap kenanganku pada almarhum istriku” desisnya dengan suara rendah.

Bagai seekor harimau jantan pula Johan melangkah mendekat. Tenang tak terburu-buru. Tapi udara terasa berat oleh aura Johan yang melumpuhkan. Tengku Mancung menjerit lagi, celananya basah, lututnya menggigil.  

Dengan satu gerakan tenang, namun tegas, Johan merebut durian itu dari tangan Tengku Mancung, lalu pergi meninggalkan istana kecil di tepi sungai itu tanpa melihat ke belakang.

Senja itu setelah shalat maghrib, di bawah pohon durian yang rindang dan sejuk, Johan duduk di kursi kayu tua peninggalan kakeknya. Tangannya menimang-nimang rencong kayu yang terasa akrab dalam genggaman. Rencong itu juga diraut sendiri oleh kakeknya, dari dahan Pohon Bangka yang diambilnya dari muara Krueng Lamuri. Selama bertahun – tahun benda tiruan itu tergenggam di tangan mereka, bergantian menjadi alat peraga saat sang kakek melatih Silat Kumango kepada cucu kesayangannya itu.

Terdengar ngeongan kecil, Harimau Kecil muncul dari kegelapan halaman dan memanjat naik ke pangkuan Johan. Ia mengeong pelan sambil menggeserkan pipi dan rahangnya kedada Johan,  seolah memahami isi hati tuannya. Dari dalam rumah harum durian terasa samar. Durian itu kini aman, disimpan kembali di tempatnya semula. Angin Lamuri kembali berhembus lembut, begitu tenang, begitu damai.

Johan mendesah, “Kedamaian ini tidak akan bertahan lama, Kawan” bisiknya ke telinga Harimau Kecil. Karena Johan sadar di balik semua ini, Sultan Mahakutta Al-Lamuri, ayah Tengku Mancung, pasti tidak akan tinggal diam.

***

Lebih dari lima ratus tahun setelah peristiwa di tepi Krueng Lamuri itu, John Wick sedang mengisi bensin mobil Buick hitamnya di sebuah pom bensin ketika Iosef Tarasov mendekat. Ia adalah putra Viggo Tarasov, bos mafia Rusia terbesar paling ditakuti di kota itu. Sekejap mata melihat, Iosef langsung tertarik dengan Buick hitam itu dan ….

Catatan Dari Penulis:

Lamuri adalah nama untuk Kerajaan Aceh kuno. Berdiri, berdaulat sekitar seratus tahun sebelum wilayah ini kemudian dikenal sebagai Kerajaan Aceh Darussalam. Krueng Lamuri adalah nama masa itu untuk Sungai Krueng Aceh yang membelah kota Banda Aceh kini. Silat Kumango yang asli diperkirakan sudah punah, hanya tertinggal sisa-sisanya, hingga kini. Tamparan Gayong Apui (Sambaran Api) yang asli juga diperkirakan telah punah, namun sisanya masih bisa ditemui di beberapa tempat dan diajarkan secara rahasia.

Ini adalah buah keisenganku memparodikan John Wick di musim durian tahun ini. Aku bersenang-senang menulisnya. Ada yang keberatan? Mungkin Engkau…Oh Tuan Sastrawan pemilik Lamuri–verse? Jika Engkau membawa Bumbu Hitam ke pentas dunia, mengapa pula tidak durian? Hehehe…

 

*** Bionarasi ***

Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenanguntuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #cerpen#sejarahAceh
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Gerbang Besi dan  Mimpi yang Ditinggal

Gerbang Besi dan Mimpi yang Ditinggal

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00