• Latest
Keluarkan Anak-Anak Pengemis dari Lingkaran Kemiskinan

Keluarkan Anak-Anak Pengemis dari Lingkaran Kemiskinan

November 24, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Keluarkan Anak-Anak Pengemis dari Lingkaran Kemiskinan

Redaksiby Redaksi
November 24, 2024
Reading Time: 40 mins read
Tags: #Pilkadaanak jalanan
Keluarkan Anak-Anak Pengemis dari Lingkaran Kemiskinan
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Sovia Deuviana Humairah

Mahasiswi Prodi Perbankan Syari’ah, UIN Ar- Raniry, Banda Aceh

         

9180909F-5A30-45E8-8AEC-EF15A7C07E5A.jpg

Banda Aceh, sebagai ibukota Provinsi Aceh, yang memiliki visi menjadi kota yang ramah anak. Visi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari segi pendidikan ,kesehatan, maupun perlindungan sosial. Namun, fenomena anak yang mengemis di jalanan masih terpampang nyata. Banyak kita lihat anak-anak di sepanjang jalan Banda Aceh yang sedang duduk dan meminta-minta sedekah.

Apa alasan mereka menegmis di usia mereka yang masih kita bilang masih sangat muda? Apa motivasi mereka memilih mengemis dari pada bersekolah seperti anak-anak lain pada umumnya?

Keberadaan anak-anak yang menegmis di jalanan sering kali menjadi simbol kemiskinan dan kurangnya perhatian terhadap hak-hak anak. Alasannya bisa karena mereka terpaksa menghabiskan waktu di jalanan untuk mencari uang demi kebutuhan pribadi atau keluarga. Kondisi ini tidak hanya mengabaikan hak mereka untuk belajar dan bermain, tetapi juga menempatkan mereka pada risiko eksploitasi dan bahaya lainnya, seperti kecelakaan, kekerasan dan lain sebagainya.

Sebagai contoh nyata yang saya lihat seorang anak kecil yang tampak duduk di pinggir jalan, menarik perhatian masyarakat. Dengan pakaian sederhana dan dengan menggendong adiknya di dalam kukungan tangannya sendiri agar adiknya tidak merasakan kedinginan, dia duduk di trotoar dan terlihat memikirkan sesuatu yang sangat berat.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Anak ini diketahui tidak lagi bersekolah karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. Ia terpaksa turun ke jalan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meninggalkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Anak-anak seperti dia seharusnya berada di bangku sekolah, belajar dan mengembangkan potensi mereka, bukan berjuang di jalanan.

Namun, mengapa banyak anak yang terpaksa hidup dan menghabiskan waktu kecil mereka di jalanan/ Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak kehilangan kesempatan bersekolah, termasuk kemiskinan, ketidakstabilan keluarga, dan rendahnya akses terhadap pendidikan.

Kisah anak-anak ini suram, sekaligus menjadi pengingat akan perhatian penting terhadap anak-anak yang kurang beruntung agar mereka tidak tertinggal dalam pendidikan. Kondisi ini mengundang simpati publik yang berharap pemerintah dan masyarakat bisa lebih peduli terhadap nasib anak-anak jalanan yang terpaksa menghentikan sekolah.

Mungkin sama seperti kita, mereka berharap adanya program yang dapat membantu anak-anak seperti dia untuk kembali bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Padahal, anak-anak seperti dia seharusnya berada di bangku sekolah, belajar, dan mengembangkan potensi mereka, bukan berjuang di jalanan untuk bertahan hidup.

Dikatakan demikian, karena kita tahu bahwa  di Indonesia sendiri, anak-anak memiliki hak untuk dilindungi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada pasal 9 ayat (1). Dan di Aceh, penerapan perlindungan anak menjadi lebih signifikan mengingat komitmen daerah ini dalam menerapkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi prlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak.

Namun, sekali lagi ternyata  pengawasan  dan penekanan hukum terkait masih menghadapi tantangan, terutama kemeiskinan, kurangnya akses terhadap pendidikan dan kesadaran masyarakat. padahal,  untuk menanggulangi masalah anak mengemis memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta dunia usaha.

Maka, setiap pihak memiliki pertanggung jawaban terhadap masalah ini. Dengan adanya kolaborasi yang solid antara berbagai pihak, diharapkan Banda Aceh dapat benar-benar menjadi “Kota Ramah Anak “ yang dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Kiranya, melalui upaya perlindungan anak yang intensif , peningkatan fasilitas pendidikan, dan penegakan hukum, masalah anak yang menjadi pengemis akan dapat ditangani dengan baik. Dikatakan demikian, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Banda Aceh memiliki potensi untuk menjadi contoh bagi kota-kota lainnya dalam memastikan bahwa setiap anak mendapatkan hak-hak dasar mereka dengan baik. Kota yang ramah anak, bukan hanya memberikan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi mereka untuk meraih masa depan mereka.

ADVERTISEMENT

Oleh sebab itu, kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Banyak anak yang membutuhkan uluran tangan agar mereka dapat memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan yang lebih baik. Mari kita bersama-sama berupaya memberikan peluang mereka agar mereka bisa menggapai mimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?

ISTIKHARAH sebagai Instrumen Keputusan dalam Pilkada Aceh 2024

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com