Dengarkan Artikel
Oleh Sovia Deuviana Humairah
Mahasiswi Prodi Perbankan Syari’ah, UIN Ar- Raniry, Banda Aceh
Banda Aceh, sebagai ibukota Provinsi Aceh, yang memiliki visi menjadi kota yang ramah anak. Visi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari segi pendidikan ,kesehatan, maupun perlindungan sosial. Namun, fenomena anak yang mengemis di jalanan masih terpampang nyata. Banyak kita lihat anak-anak di sepanjang jalan Banda Aceh yang sedang duduk dan meminta-minta sedekah.
Apa alasan mereka menegmis di usia mereka yang masih kita bilang masih sangat muda? Apa motivasi mereka memilih mengemis dari pada bersekolah seperti anak-anak lain pada umumnya?
Keberadaan anak-anak yang menegmis di jalanan sering kali menjadi simbol kemiskinan dan kurangnya perhatian terhadap hak-hak anak. Alasannya bisa karena mereka terpaksa menghabiskan waktu di jalanan untuk mencari uang demi kebutuhan pribadi atau keluarga. Kondisi ini tidak hanya mengabaikan hak mereka untuk belajar dan bermain, tetapi juga menempatkan mereka pada risiko eksploitasi dan bahaya lainnya, seperti kecelakaan, kekerasan dan lain sebagainya.
Sebagai contoh nyata yang saya lihat seorang anak kecil yang tampak duduk di pinggir jalan, menarik perhatian masyarakat. Dengan pakaian sederhana dan dengan menggendong adiknya di dalam kukungan tangannya sendiri agar adiknya tidak merasakan kedinginan, dia duduk di trotoar dan terlihat memikirkan sesuatu yang sangat berat.
Anak ini diketahui tidak lagi bersekolah karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit. Ia terpaksa turun ke jalan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meninggalkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
📚 Artikel Terkait
Anak-anak seperti dia seharusnya berada di bangku sekolah, belajar dan mengembangkan potensi mereka, bukan berjuang di jalanan.
Namun, mengapa banyak anak yang terpaksa hidup dan menghabiskan waktu kecil mereka di jalanan/ Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak kehilangan kesempatan bersekolah, termasuk kemiskinan, ketidakstabilan keluarga, dan rendahnya akses terhadap pendidikan.
Kisah anak-anak ini suram, sekaligus menjadi pengingat akan perhatian penting terhadap anak-anak yang kurang beruntung agar mereka tidak tertinggal dalam pendidikan. Kondisi ini mengundang simpati publik yang berharap pemerintah dan masyarakat bisa lebih peduli terhadap nasib anak-anak jalanan yang terpaksa menghentikan sekolah.
Mungkin sama seperti kita, mereka berharap adanya program yang dapat membantu anak-anak seperti dia untuk kembali bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Padahal, anak-anak seperti dia seharusnya berada di bangku sekolah, belajar, dan mengembangkan potensi mereka, bukan berjuang di jalanan untuk bertahan hidup.
Dikatakan demikian, karena kita tahu bahwa di Indonesia sendiri, anak-anak memiliki hak untuk dilindungi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada pasal 9 ayat (1). Dan di Aceh, penerapan perlindungan anak menjadi lebih signifikan mengingat komitmen daerah ini dalam menerapkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi prlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak.
Namun, sekali lagi ternyata pengawasan dan penekanan hukum terkait masih menghadapi tantangan, terutama kemeiskinan, kurangnya akses terhadap pendidikan dan kesadaran masyarakat. padahal, untuk menanggulangi masalah anak mengemis memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta dunia usaha.
Maka, setiap pihak memiliki pertanggung jawaban terhadap masalah ini. Dengan adanya kolaborasi yang solid antara berbagai pihak, diharapkan Banda Aceh dapat benar-benar menjadi “Kota Ramah Anak “ yang dapat memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Kiranya, melalui upaya perlindungan anak yang intensif , peningkatan fasilitas pendidikan, dan penegakan hukum, masalah anak yang menjadi pengemis akan dapat ditangani dengan baik. Dikatakan demikian, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Banda Aceh memiliki potensi untuk menjadi contoh bagi kota-kota lainnya dalam memastikan bahwa setiap anak mendapatkan hak-hak dasar mereka dengan baik. Kota yang ramah anak, bukan hanya memberikan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi mereka untuk meraih masa depan mereka.
Oleh sebab itu, kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Banyak anak yang membutuhkan uluran tangan agar mereka dapat memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan yang lebih baik. Mari kita bersama-sama berupaya memberikan peluang mereka agar mereka bisa menggapai mimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






