POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Berikan Ia Solusi

Cut Amanda Syifa ZhafiraOleh Cut Amanda Syifa Zhafira
November 23, 2024
Tags: #analisis#pengemis
Berikan Ia Solusi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Cut Amanda Syifa Zhafira

Mahasiswa semester V, Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

2ABC09B5-C663-4E1C-8555-CFF05FC8B729.png

Banda Aceh, kota yang terkenal dengan keindahan alam dan nilai-nilai agama, ternyata memiliki masalah sosial yang suram. Ternyata, di tengah kesibukan kota ini, banyak pengemis berada di berbagai sudut kota, di jalan- jalan, di tempat-tempat keramaian, seperti warung-warung kopi atau di pasar dan kawasan kuliner dan lain-lain.

Pada malam hari di Peunayong, ketika kita duduk menikmati makanan atau minuman, kita sering menemukan para pengemis di bawah lampu-lampu kota yang gemerlap. Bermacam ragam pengemis. Ada laki-laki, perempuan, lansia, hingga anak-anak yang datang meminta diberikan sedekah sedikit. Keadaan mereka sering membuat hati kita terenyuh, ikut merasa iba. Itulah yang penulis rasakan ketika berjumpa dengan seorang pengemis tua yang membuat penilis merasa iba dan membuka mata tentang kehidupan sebenarnya.

Penulis masih ingat. Kala itu tanggal 7 Oktober 2024, melihat seorang pria tua yang duduk di atas karung kain yang kotor. Ia terlihat sangat kurus dan berantakan. Pria itu kelihatannya  cacat fisik. Kakinya sakit, sehingga membuatnya kesulitan untuk berjalan. Dia duduk di serambi toko, menunggu bantuan orang yang lewat.

Penulis bertanya asal pria itu, dari mana. Rupanya ia berasal dari Pidie Jaya atau Pijay. Ia menjawab dengan wajah yang agak sedih. Seakan bercerita tentang beratnya kehidupan yang ia jalani. Wajahnya sedih. Dia telah hidup dengan cara mengemis di Banda Aceh selama 2 dekade, meskipun orang-orang sering melaluinya tanpa memperhatikannya.

📚 Artikel Terkait

Bidadariku

‎HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Ketuk Tularkan Inspirasi dan Pancang Pilar Tekad Jadikan PT BALAD GRUP Sebagai Perusahaan Budidaya Periksa Dunia

A Book in Hand Is Worth a Thousand on a Pen Drive

Bahlil yang Bergeming

Ia mengemis karena dalam situasi yang sulit. Apalagi anaknya masih berusia  11 tahun adalah satu-satunya alasan dia terus melakukan aktivitas mengemis. Hal itu diungkapnya ketika penulis bertanya kepadanya. Ia pun menceritakan hal itu, walau saat menceritakan ceritanya, dia mengalami kesulitan dan  kesusahan berbicara. Katanya lagi, hidupnya tergantung pada belas kasihan orang lain/ ini adalah kenyataan pahit dan mencerminkan kenyataan pahit yang banyak dihadapi oleh penyandang disabilitas dalam masyarakat kita.

Penulis sendiri ikut merasa sedih ketika mendengar ceritanya, seakan mendapat dan memahami benar makna di balik kisah hidup pengemis ini. Tanpa disadari, pertemuan penulis dengan pengemis ini mengajarkan bahwa di balik penampilan pengemis yang kusut dan tangannya yang terulur, tersimpan cerita panjang yang penuh perjuangan.

Sayangnya, orang seperti ini sering mendapatkan stigma yang macam-macam, misalnya malas atau keenakan hidup dengan mengemis dan sebagainya. Namun, dalam realitasnya banyak kesulitan hidup yang sulit dibayangkan oleh banyak orang, akan sulitnya hidup sebagai pengemis. Buktinya, meskipun terbatas, dia masih berjuang untuk tetap hidup demi anaknya. Kondisi semacam ini tentu lah menjadi persoalan sosial yang terus muncul di tengah kehidupan kota Banda Aceh ini.

Namun, keberadaan pengemis di Banda Aceh bukan hanya soal sosial semata. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sulit dan kesempatan kerja terbatas bagi sebagian orang. Oleh sebab itu, melihat mereka di tepi jalan, kita harus sadar bahwa bisa terjadi pada siapa saja yang memiliki keterbatasan fisik atau ekonomi, terutama dalam situasi ekonomi yang sulit.

Banyaknya pengemis yang hadir dan bisa terus datang ke kota, seperti halnya kota Banda Aceh ini, membuat kita menyadari pentingnya memiliki empati dan peduli terhadap sesama. Di tengah kehidupan yang semakin individualis, kita sering lupa bahwa ada orang-orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup setiap hari.

Bantuan sederhana seperti memberikan makanan atau senyuman dan kata-kata baik bisa membawa harapan bagi orang yang membutuhkan. Selain itu, penyelesaian masalahpengemis memerlukan partisipasi masyarakat dan pemerintah. Membuat lapangan kerja dan memberikan sokongan sosial kepada kelompok rentan adalah cara penting untuk membantu mengurangi ketergantungan mereka pada belas kasihan orang lain.

Jadi, ketika mereka tidak berdaya dan menemukan jalan buntu yang membuat mereka langgeng dalam kegiatan mengemis, selayaknya kita bisa membantu mencari jalan. Kita  bisa pikirkan. Tapi, seberapa sering kita dengan sungguh-sungguh peduli pada orang-orang di sekitar kita? Seberapa sering kita menghargai mereka yang hidup dalam keterbatasan? Pengalaman ini menunjukkan bahwa, meskipun kita tidak selalu bisa memberikan bantuan materi, tetapi bisa berempati dan lebih perhati adalah bentuk dukungan paling sederhana, bagi mereka yang membutuhkannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #analisis#pengemis
Cut Amanda Syifa Zhafira

Cut Amanda Syifa Zhafira

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Uang

Uang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00