Dengarkan Artikel
Oleh Cut Amanda Syifa Zhafira
Mahasiswa semester V, Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
Banda Aceh, kota yang terkenal dengan keindahan alam dan nilai-nilai agama, ternyata memiliki masalah sosial yang suram. Ternyata, di tengah kesibukan kota ini, banyak pengemis berada di berbagai sudut kota, di jalan- jalan, di tempat-tempat keramaian, seperti warung-warung kopi atau di pasar dan kawasan kuliner dan lain-lain.
Pada malam hari di Peunayong, ketika kita duduk menikmati makanan atau minuman, kita sering menemukan para pengemis di bawah lampu-lampu kota yang gemerlap. Bermacam ragam pengemis. Ada laki-laki, perempuan, lansia, hingga anak-anak yang datang meminta diberikan sedekah sedikit. Keadaan mereka sering membuat hati kita terenyuh, ikut merasa iba. Itulah yang penulis rasakan ketika berjumpa dengan seorang pengemis tua yang membuat penilis merasa iba dan membuka mata tentang kehidupan sebenarnya.
Penulis masih ingat. Kala itu tanggal 7 Oktober 2024, melihat seorang pria tua yang duduk di atas karung kain yang kotor. Ia terlihat sangat kurus dan berantakan. Pria itu kelihatannya cacat fisik. Kakinya sakit, sehingga membuatnya kesulitan untuk berjalan. Dia duduk di serambi toko, menunggu bantuan orang yang lewat.
Penulis bertanya asal pria itu, dari mana. Rupanya ia berasal dari Pidie Jaya atau Pijay. Ia menjawab dengan wajah yang agak sedih. Seakan bercerita tentang beratnya kehidupan yang ia jalani. Wajahnya sedih. Dia telah hidup dengan cara mengemis di Banda Aceh selama 2 dekade, meskipun orang-orang sering melaluinya tanpa memperhatikannya.
📚 Artikel Terkait
Ia mengemis karena dalam situasi yang sulit. Apalagi anaknya masih berusia 11 tahun adalah satu-satunya alasan dia terus melakukan aktivitas mengemis. Hal itu diungkapnya ketika penulis bertanya kepadanya. Ia pun menceritakan hal itu, walau saat menceritakan ceritanya, dia mengalami kesulitan dan kesusahan berbicara. Katanya lagi, hidupnya tergantung pada belas kasihan orang lain/ ini adalah kenyataan pahit dan mencerminkan kenyataan pahit yang banyak dihadapi oleh penyandang disabilitas dalam masyarakat kita.
Penulis sendiri ikut merasa sedih ketika mendengar ceritanya, seakan mendapat dan memahami benar makna di balik kisah hidup pengemis ini. Tanpa disadari, pertemuan penulis dengan pengemis ini mengajarkan bahwa di balik penampilan pengemis yang kusut dan tangannya yang terulur, tersimpan cerita panjang yang penuh perjuangan.
Sayangnya, orang seperti ini sering mendapatkan stigma yang macam-macam, misalnya malas atau keenakan hidup dengan mengemis dan sebagainya. Namun, dalam realitasnya banyak kesulitan hidup yang sulit dibayangkan oleh banyak orang, akan sulitnya hidup sebagai pengemis. Buktinya, meskipun terbatas, dia masih berjuang untuk tetap hidup demi anaknya. Kondisi semacam ini tentu lah menjadi persoalan sosial yang terus muncul di tengah kehidupan kota Banda Aceh ini.
Namun, keberadaan pengemis di Banda Aceh bukan hanya soal sosial semata. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sulit dan kesempatan kerja terbatas bagi sebagian orang. Oleh sebab itu, melihat mereka di tepi jalan, kita harus sadar bahwa bisa terjadi pada siapa saja yang memiliki keterbatasan fisik atau ekonomi, terutama dalam situasi ekonomi yang sulit.
Banyaknya pengemis yang hadir dan bisa terus datang ke kota, seperti halnya kota Banda Aceh ini, membuat kita menyadari pentingnya memiliki empati dan peduli terhadap sesama. Di tengah kehidupan yang semakin individualis, kita sering lupa bahwa ada orang-orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup setiap hari.
Bantuan sederhana seperti memberikan makanan atau senyuman dan kata-kata baik bisa membawa harapan bagi orang yang membutuhkan. Selain itu, penyelesaian masalahpengemis memerlukan partisipasi masyarakat dan pemerintah. Membuat lapangan kerja dan memberikan sokongan sosial kepada kelompok rentan adalah cara penting untuk membantu mengurangi ketergantungan mereka pada belas kasihan orang lain.
Jadi, ketika mereka tidak berdaya dan menemukan jalan buntu yang membuat mereka langgeng dalam kegiatan mengemis, selayaknya kita bisa membantu mencari jalan. Kita bisa pikirkan. Tapi, seberapa sering kita dengan sungguh-sungguh peduli pada orang-orang di sekitar kita? Seberapa sering kita menghargai mereka yang hidup dalam keterbatasan? Pengalaman ini menunjukkan bahwa, meskipun kita tidak selalu bisa memberikan bantuan materi, tetapi bisa berempati dan lebih perhati adalah bentuk dukungan paling sederhana, bagi mereka yang membutuhkannya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






