Dengarkan Artikel
Oleh Zakia Aini
Alumni AFI UIN Bukittinggi, Sumatera Barat
POTRETOnline.com – Tan Malaka adalah seorang pejuang dan pahlawan kemerdekaan nasional Republik Indonesia, yang menggunakan revolusi sebagai alat perjuangannya. Ia sangat yakin, hanya dengan revolusi, Indonesia baru bisa merdeka. Bapak bangsa Indonesia atau sering disebut sebagai The Founding Fathers merupakan sebuah julukan bagi para tokoh Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing dan berperan dalam perumusan bentuk atau format negara. Mereka berasal dari berbagai macam latar belakang pendidikan, agama, daerah dan suku etnis yang ada.
Tokoh-tokoh bapak bangsa di benak para generasi muda sekarang ini lebih akrab dengan semisal Soekarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Yamin, Sutan Sjahrir dan sebagainya. Adapun sebenarnya masih ada tokoh lain yakni Tan Malaka yang tidak terbenak dan dilupakan di kalangan generasi muda. Kalaupun ada di benak generasi muda, stigma negatif lebih kuat ketimbang gagasan-gagasannya tentang konsep negara Indonesia merdeka.
Tan Malaka lahir pada tahun 1897. Tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Ayahnya bernama H.M Rasad, seorang pengawai pertanian, dan ibunya bernama Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desanya. (Masyukur Arif Rahman, “Tan Malaka”, 2018)
Sosok Tan Malaka, adalah tokoh kontroversi dalam sejarah revolusi nasional Indonesia. Di mata banyak kalangan khususnya kaum Marxis, Tan Malaka telah menjadikannya sebagai momok zaman yang kontroversial. Sepak terjang yang penuh intrik dan konsekuen terhadap nilai-nilai pergerakan serta ideologi Marxis yang diyakininya, telah menjadikannya salah satu tokoh revolusioner besar dunia. Tan Malaka yang tak pernah merasakan nikmatnya perjuangan, hidup dalam kejaran waktu dan musuh seakan telah menjadi bagian episode takdir kehidupan yang harus dilewatinya. Jeruji penjara kaum penjajah dan penentang akan ide serta perjuangannya tak lagi mampu untuk menyekat kreatifitas berfikir dan meredam semangat yang berkobar untuk membebaskan negeri ini dari kungkungan cengkeraman kaum penjajah. (Muhammad Maulana Rokhim, Munawar Rahmat, And Cucu Surahman, “Pemikiran Tan Malaka Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam”, 2019).
Melatar belakangi kehadiran madilog melekat kuat dalam semangat anti penjajahan, anti penghisapan imprealisme yang menggebu di dada Tan Malaka terutama setelah dia mengamati dan membandingkan langsung kondisi objektif daerah jajahan yang sangat terbelakang dan melarat dengan Negara penjajah yang maju dan makmur. Ketimpangan itu akan tetap bertahan dan bertambah jika tidak ada usaha merebut, yaitu mendirikan Republik.
Karena itu, epistemologi yang tampil dalam Madilog Tan Malaka dapat disebut sebagai epistemologi perjuangan, yaitu alur berfikir progresif yang dipengaruhi oleh semangat untuk mengusir penjajah. (Dp. Asral, SH, Apa, Siapa Dan Bagaimana Tan Malaka,2007).
📚 Artikel Terkait
Tan Malaka kembali ke Indonesia, 1919. Ia kemudian bekerja di Sanebah Corporation, Deli, Sumatera Timur ( Desember 1919-Juni 1921). Inilah kepulanganya dari rantau yang pertama. Di tempat ini ia menyaksikan dialetika sosial dalam bentuk pertarungan gigih antara kaum buruh kuli kontrak melawan tuan-tuan kapitalis Belanda. Tan Malaka menaruh empati amat dalam terhadap penderitaan kaum jelata itu. Kejadian ini memicu semangat revolusinernya. Benih-benih pembrontakkan mulai bersemi dalam dirinya. Tan Malaka menjadi pejuang anti pemerintah Hindia Belanda yang ditakuti. Mengetahui potensi perlawanan politik yang mungkin akan muncul dari tokoh ini, maka atas dasar exorbitante rechten. Tan Malaka ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial ke luar negeri pada 22 Maret 1922.
Sekarang kita lihat pemikiran Tan Malaka tentang Islam. Tan Malaka mengategorikan Islam, juga agama Kristen, Yahudi sebagai kepercayaan-kepercayaan Asia Barat. Maksudnya, kepercayaan-kepercayaan yang lahir di kawasan seperti Hindu, Budha, Sinto, Konghuchu dan lain-lain. Ketiga kepercayaan Asia Barat tersebut menganut prinsip monotheisme (prinsip keesaan Tuhan). Di antara ketiga agama itu, agama Yahudi mengandung urat dan menjadi dasar kedua agama lainnya (Islam dan Kristen).
Meskipun ketiganya menganut prinsip monoteisme, menurut Tan Malaka tetap terdapat perbedaan prinsip monotheisme Islam, pengakuan bahwa Tuhan itu tunggal tanpa sekutu apa pun, bersifat absolute (mutlak) yang ditegaskan oleh ayat Al-Qur’an “Qulhuwa Allahu Ahad” yang artinya “Katakanlah, Dia,Allah itu Esa” (Al-Iklas:1).
Jadi Islam menurut Tan Malaka menolak anggapan Nabi Isa itu anak Tuhan. Dia tetap anak manusia yang dilahirkan oleh Maryam. Inilah logika berfikir yang benar. Tuhan mempuyai anak adalah sesuatu yang mustahil, karena itu akan membuat Tuhan tidak mutlak lagi. Tuhan menjadi relative (nisbi). (Ahmad Suhelmi, Dari Kanan Islam hingga kiri Islam, 2001)
Kepercayaan pada Allah sebagai Tuhannya yang Esa, Muhammad sebagai rasulnya dan persamaannya manusia terhadap Tuhan, belum cukup untuk mempersatukan suku Arab yang saling berseteru sengketa dan peperangan terus menerus. Tuhan ialah Allah dan Muhammad ialah Rasulnya. Tiada suatu Negara dan bangsapun beratus tahun bisa tahan. Tuhan bisa mengesakan kekuasaanya Tuhan. Misalnya jika seketika satu saja kekuasaan dikurangi dipindahkan pada anaknya seperti pada nabi Isa, (anaknya Tuhan), atau Maryam, dan sedetik saja kekuasaan contohnya Atom bisa dipegang di luar Tuhan dengan tidak izinya Tuhan, maka kekuasaan Tuhan itu tiada absolute sempurna lagi.
Jadi menurut Madilog, yang maha kuasa bisa lebih kuasa dari undang-undang alam. Selama alam ada dan selama alam raya ada, selama itulah pula undangnya alam raya berlaku. Menurut undang Alam Raya. Bendanya yang mengandung kodrat dan menurut undang-undang caranya benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan sebagainya. Kodrat dan undangannya yang berpisah sendirinya tentulah dikenal oleh ilmu bukti. (Tan Malaka, Islam Dalam Madilog, 2014)
Jiwa adalah sesuatu yang terpisah, tunggal dengan sendirinya, sesuatu anugrah yang diterima oleh manusia, yang membuatnya menjadi sempurna. Ada diantara tuan percaya bahwa jika seseorang mati, maka jiwa meninggalkan jasmani dan melayang-layang di alam ini. (Tan Malaka, Madilog. Materialisme, Dialektika Logika, 2014).
Pemikiran Tan Malaka tentang Islam di atas merupakan suatu bukti faktual bahwa tokoh revolusioner legendaris inilah bukanlah seorang pejuang komunis yang anti Islam. Pemikirannya tentang Islam, pengaruh Islam dan Nabi Muhammad menunjukkan keberpihakannya yang sangat jelas terhadap agama Islam. Meskipun demikian, mungkin masih terbesit pertanyaan, bukanlah tokoh seperti Soekarno juga seorang yang memiliki empati yang dalam terhadap Islam, Penulis lebih cendrung menilai bahwa keberpihakkan Tan Malaka itu lebih jauh didasarkan pada pengakuan yang tulus.
Sehingga pemikiran Tan Malaka tersebut bukan merupakan sebuah konsep sebagai bentuk peseisme keagamaan, akan tetapi menjadi sebuah bentuk optimisme beragama. Gagasan-gagasan Tan Malaka juga merupakan kritik beragama masyarakat Indonesia pada masa waktu itu. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pertama, pandangan Tan Malaka , Allah menurut logika tentulah tiada bisa “Mahakuasa”. Kedua, Tuhan dalam buku Madliog Tan Malaka adalah Tuhan-nya Muhammad, Isa, Sulaiman, Daud, Musa, dan Ibrahim sesuai prinsip Madilog (materialisme, dialektika, dan logika). Ketiga, Kekuasaan Tuhan satu hal yang diperingatkan Tuhan yang paling penting Tuhan sendiri juga kita ketahui dan muliakan, junjung tinggi setinggi langit.
Keempat, Prinsip cara Tan Malaka mencari Tuhan sama dengan Nabi Ibrahim, yang mengemukakannya pada cara pandangan matearilisme, belum post-matealisme. Kelima, Jiwa bukanlah sesuatu yang terpisah, tunggal, sendirinya sesuatu yang diterima oleh manusia, anugerah yang sempurna, kita mengakui jiwa adalah berpadu dengan alam dan kodratnya, terbawa oleh sari alam dan kodratnya. Alam dan kodratnya yang berkemajuan tentang jiwa takluk pada hukum evolusi (kemajuan).
Dari penjelasan di atas penulis sangat mengagumi sosok tokoh Tan Malaka karena sudah berusaha untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, walaupun pada kenyataannya banyak yang ingin menjatuhkan dan membunuhnya. Melalui karya-karya Tan Malaka kita generasi muda harus mengambil hikmah dan pembelajaran dengan menerapkan pemikiran yang terbuka seperti memiliki pandangan dan tindakan yang revolusioner sangat dibutuhkan di zaman sekarang. Karena banyak sekalai di kalangan genarasi muda sekarang tidak mengetahui dan memahami sosok hebat dalam sejarah peradaban Indonesia.
Penulis bangga tokoh Tan Malaka adalah putra Minangkabau yang sudah berhasil berjuang menorehkan eksistensinya sebagai putra daerah Sumatera Barat yang luar biasa dan semoga generasi muda banyak belajar dari Tokoh Tan Malaka.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






