POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

TERPAKSA MENGEMIS UNTUK MEMBANTU EKONOMI KELUARGA

nazhifa Alifia FauziOleh nazhifa Alifia Fauzi
November 15, 2024
Tags: #analisis#pengemis
TERPAKSA MENGEMIS UNTUK MEMBANTU EKONOMI KELUARGA
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nazhifa Alifia Fauzi

Mahasiswi Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh 

Secara umum pengemis tersebut terbagi menjadi dua tipe yaitu pengemis miskin materi dan pengemis miskin mental. Pengemis miskin materi adalah mereka yang tidak mempunyai uang atau harta, sehingga memutuskan untuk melakukan kegiatan mengemis. Berbeda jauh dengan Pengemis miskin mental, dalam hal ini Pengemis miskin mental masih mungkin memiliki harta benda namun mental yang dimiliki membuat atau mendorong mereka mengemis.Maksud dari mental disini adalah mental malas untuk melakukan sesuatu.

Malas adalah sebuah sikap dan sifat apabila lama dipendam dan diikuti akan mempengaruhi mental, karena terbiasa malas atau mendapat kemudahan secara instan membuat seseorang bermental seperti ini.

Kemiskinan merupakan faktor dominan yang menyebabkan banyaknya pengemis. Dalam Perspektif mikro, kompleksitas kemiskinan terkait dengan keadaan individu yang relatif memiliki keterbatasan untuk keluar dari jerat kemiskinan. Di antaranya, seperti lamban dalam bekerja, tidak memiliki keahlian, keterbatasan finansial dan lain sebagainya. Sedangkan dalam tatanan makro, kemiskinan dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada, itu ditandai dengan adanya keterbatasan peluang dan kesempatan untuk bekerja.

Pengemis sering kali muncul dalam konteks perkotaan, terutama di kota-kota besar, di mana mereka berusaha mencari nafkah di tengah persaingan yang ketat. Kebanyakan dari mereka adalah migran dari daerah pedesaan yang mencari peluang lebih baik tetapi terjebak dalam kemiskinan.

Stigma negatif sering melekat pada pengemis, dianggap sebagai gangguan bagi kesepakatan umum dan kepermaian kota. Hal ini menyebabkan mereka lebih rentan terhadap perlakuan diskriminatif dari masyarakat dan aparat.

📚 Artikel Terkait

PENANGANAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI ACEH BELUM OPTIMAL

Menjadi Orang Tua dan Anak Yang Baik: Meneladani Kisah Luqmanul Hakim

Menyiapkan Lulusan BK yang bernaluri bisnis

Tim Pengabdian ISBI Aceh Latih Siswa SMK Menulis Cerpen

Kehadiran pengemis menjadi masalah sosial yang kompleks. Masyarakat sering melihat mereka sebagai penyebab gangguan ketertiban dan kebersihan lingkungan. Namun, penting untuk memahami bahwa banyak pengemis berada dalam situasi yang sangat rentan dan tidak memiliki akses ke layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Undang-undang di Indonesia juga mengakui bahwa keberadaan pengemis sebagai isu kesejahteraan sosial yang perlu ditangani secara komprehensif.

Penulis berkesempatan untuk melakukan observasi dan wawancara dengan salah satu pengemis yang berada Sp. Masjid Oman di Kota Banda Aceh, seorang wanita yang bernama Dinda yang berusia 27 tahun, ia hanya memakai baju gamis, hijab segi empat dan sendal jepit yang mana sudah sangat lusuh jika dilihat, dengan sebuah kotak kardus ditangannya untuk tempat penyimpanan uang. Wanita ini berasal dari Medan dan kini menetap di sebuah kos yang berada di Kampung Keudah, Banda Aceh. Ia menyatakan bahwa mengemis karena tidak ingin memberatkan sang suami, yang di mana profesi suaminya sebagai seorang pengamen yang pendapatannya tidak stabil dan konsisten.

Mereka sering terjadi percekcokan mengenai ekonomi rumah tangga. sang suami sering mengungkit dan mempermasalahkan tentang ekonomi, wanita tersebut mencari nafkah menggunakan becak dari kampung Keudah sampai ke beberapa tempat yang mereka inginkan, dimulai dari jam 4 sore sampai setelah insya.

Seorang wanita yang pengemis, seperti Dinda yang ditemui di kota Banda Aceh, ia mengemis bukan hanya karena kekurangan harta, tetapi juga karena ingin meringankan beban ekonomi keluarga, mengingat pendapatan suaminya yang tidak stabil.

Meskipun ia bekerja keras dengan menggunakan becak untuk mencari nafkah, kondisi ekonominya yang terbatas dan ketegangan dalam rumah tangga memaksanya untuk memilih jalan mengemis. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan ekonomi yang kompleks dapat mendorong seseorang, bahkan dengan kemampuan fisik, untuk terjerumus dalam kehidupan mengemis.

 

 

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #analisis#pengemis
nazhifa Alifia Fauzi

nazhifa Alifia Fauzi

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Dua Perempuan Paruh Baya, Bersalawat Mengais Rezeki

Dua Perempuan Paruh Baya, Bersalawat Mengais Rezeki

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00