Dengarkan Artikel
Oleh : TILLA SOLEKHA
Siswi Kelas XII Jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) SMK Negeri 1 Aceh Barat Daya
KETIKA Rahara sedang terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya. Tiba-tiba
Kring…kringg….
Suara alarm berbunyi menunjukkan pukul 02.30.
Rahara terbangun dari tidurnya dan mematikan alarm tersebut. Lalu, dia menelpon Naya selaku teman dan sahabatnya di sekolah.
Panggilan terhubung…
“Halo, assalamualaikum Naya, kamu sudah bangun belum?” Tanya Rahara mengawali panggilannya.
Hoaammmm…
Waalaikumussalam Ra, baru aja aku bangun habis ditelponin kamu” jawab Naya dengan posisi masih mengantuk.
Rahara pun terkekeh mendengar Naya yang menguap.
“Oh syukurlah, sekarang kamu ambil wudhu dan kaksanakan salat Sunnah tahajud ya.”
“Baiklah, aku akan salat sekarang. Ya sudah telponnya kumatikan dulu. Assalamualaikum” Ucap Naya sekaligus mematikan telponnya.
Rahara yang di seberang sana pun menjawab salam dalam hati dan beristighfar karena kelakuan sahabatnya ini.
Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 03.00, padahal baru saja dia menelpon Naya, tidak terasa waktu sangat cepat berlalu.
Lalu, Rahara pun mengambil wudhu dan melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam.
Setelah melaksanakan salat tahajud, Rahara pun beristighfar dan berdo’a sekaligus menutupnya dengan shalawat nabi.
Allahu akbar… Allahu Akbar
Terdengar lah suara azan subuh yang dikumandangkan oleh muazin di masjid sekitar rumah Rahara.
Rahara menjawab azan tersebut di dalam hati dan berdo’a sesudah azan.
Rahara pun berdiri dan melaksanakan salat qabliyah sebelum subuh dan dilanjutkan dengan salat subuh dua raka’at.
Sesudahnya, Rahara pun mengambil mushaf Al-Qur’an dan membacanya hingga pukul 06.00 WIB.
Rahara langsung mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
“Pagi ratu..pagi raja…tuan putri kalian sudah datang dari negeri kayangan, red carpetnya mana ni” teriak Rahara yang membuat seisi rumah langsung melihatnya.
Bibi hanya tersenyum melihat anak majikannya ini yang selalu menambah keceriaan dalam rumah ini.
“Umi sama abi denger nggak ? Kayak ada yang ngomong deh, tapi nggak ada orangnya, apa mungkin itu hantu di pagi hari?” Usil Zayyan yang ingin membuat adiknya marah.
Rahara yang selalu menjadi sasaran keusilan abangnya pun terpancing.
“Abang apa-apaan sih? Masa putri kerajaan gini disamain sama hantu pagi hari, lagian hantu itu nggak ada. Kalo nggak percaya tanya aja sama abi. Bener nggak bi?”
Abi hanya mengangguk dan tersenyum kepada putrinya
“Hantu itu tidak ada, putri abi memang cantik.
Tetapi akan lebih cantik jika tidak berteriak karena kita selaku perempuan harus bisa menjaga iffah dan izzah ya sayang.”
Rahara pun langsung terkekeh mendengar akhir ucapan abinya itu.
Lalu dia mengangguk dan mengucapkan “baik kapten” dengan tangan yang dibuat seperti hormat pada pemimpin.
Umi pun datang dengan membawa semangkok sayur dan lauk lainnya yang dibantu oleh bibi dan berkata :
“Makanan sudah siap, yuk kita makan. Sebelum makan jangan lupa berdo’a ya”.
Abi pun langsung memimpin membaca do’a dan keluarga harmonis ini langsung menikmati sarapan pagi tanpa adanya gangguan.
Setelah selesai sarapan, mereka pun langsung berangkat untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
Umi yang tetap di rumah, Abi berangkat ke kantornya, serta Rahara dan Zayyan yang bersekolah di SMA yang sama, dengan Zayyan yang sudah kelas XIo dan Rahara yang masih kelas X.
Rahara dan Zayyan diantar oleh abi ke sekolah. Ketika dalam perjalanan Zayyan selalu saja usil dan suka mengganggu Rahara.
Seperti menarik-narik jilbabnya, mengejutkannya dan melepas tali sepatu Rahara.
Rahara selalu emosi akibat kelakuan kakak laki-lakinya ini.
Tetapi sikap Zayyan akan berubah 180° ketika berada di sekolah, bahkan tidak ada siswa yang tahu jika mereka berdua adalah kakak-beradik karena Zayyan selalu turun di perempatan dan menanti temannya.
Sedangkan Rahara diantar sampai menuju pintu gerbang.
Rahara menyalami abinya, kemudian turun dari mobil dan bertemu Naya yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.
“Assalamualaikum Naya, selamat pagi. Kamu udah nungguin dari tadi ya?”
“Enggak kok Ra, aku baru aja nungguin kamu. Ya udah yuk kita masuk nanti terlambat lho, soalnya kelas kita harus naik tangga dulu sampai berkeringat. Capek tau” keluh Naya.
“Haha…. Kamu emang gabisa capek Nay, yaudah yuk.”
Kedua sejoli itu pun langsung berjalan ke kelas 10 MIPA¹. Berhubung guru belum masuk, Rahara mengajak Naya memuroj’ah surah-surah pendek di dalam juz 30.
Naya langsung mau dan menambil qur’an kecilnya yang ada di dalam tas.
Mereka memulainya dari surah An-Naba secara bersamaan.
“Audzubillahi minasy syaithon nir rajiim”
“Bismillahirrahmanirrahim”
“Amma yatasaa aluun”
“Anin naba il ‘adzim.”
📚 Artikel Terkait
Ketika selesai membaca surah an-naba dan an-nazi’at, guru pun masuk dan memulai pelajaran. Rahara dan Naya menyimpan Al-Qur’an ke dalam tas dan mengambil buku mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Pembelajaran berjalan dengan khidmat tanpa ada gangguan.
Bel istirahat berbunyi
“Baiklah anak-anak, berhubung jam sudah menunjukkan waktu istirahat, bapak akhiri pelajaran sampai di sini, dan jangan lupa untuk belajar dan mengulang materi tadi di rumah karena dua hari ke depan bapak akan memberikan ulangan.”
Siswa-siswa pun langsung mengiyakan ucapan guru tersebut karena tak ingin berlama-lama di dalam kelas, sebab perut yang sudah meronta untuk diisi.
Semua siswa langsung berhamburan keluar kelas karena takut kehabisan jajan dikantin.
Sama halnya dengan Rahara dan Naya, mereka mengambil kursi paling pojok dan ingin memesan makanan.
“Kamu mau makan apa Ra? Biar sekalian aku pesenin,” tanya Naya.
Rahara meraba-raba sakunya dan cengengesan kepada Naya.
“Aduuh Nay, aku lupa ambil uang jajan sama abi tadi di mobil, soalnya buru-buru.”
Naya langsung menepuk jidatnya akibat keteledoran Rahara.
“Terus gimana dong Ra, aku juga bawa uang pas-pasan ini. Kita minta pinjem sama siapa ya?”
Di seberang sana, terlihatlah Zayyan yang sedari tadi memperhatikan adiknya.
Dia pun langsung menuju ke sana yang membuat Naya kebingungan.
“Kamu kenapa?”
Tanya Zayyan langsung to the point.
Rahara pun hanya tersenyum malu dan menjawab.
“Hehe…itu kak aku lupa bawa uang jajan, jadi sekarang aku gabisa jajan deh,”
Zayyan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Naya dan Rahara tercengang melihat aksi kakak kelasnya itu.
Jika dia tak ingin membantu, lalu untuk apa dia menanyakan keluhan kami?
Setelah beberapa menit mereka berpikir mencari solusi. Datanglah Zayyan membawa sebuah nampan berisi 2 piring nasi goreng dan 2 gelas teh manis, lalu memberikannya kepada mereka.
Baru saja mereka ingin mengucapkan terima kasih, tapi Zayyan sudah duluan mengucapkan “nggak usah bilang makasih, saya ikhlas bantuin kalian.
Dalam Islam kita diajarkan untuk membantu orang yang membutuhkan” Zayyan langsung pergi setelah mengucapkan kata itu.
Naya pun ingin menjawab dengan emosi, tetapi orangnya sudah pergi duluan.
Rahara langsung mengusap hijab Naya dan berkata
“Istighfar, udah Nay, sabarin aja. Orang sabar rezekinya banyak.”
Naya pun langsung beristighfar tiga kali
“Aku emosi Ra, soalnya dia songong banget kayak nggak ikhlas bantuin kita” ucap Naya.
“Yaudahlah Nay, mending kita makan aja mumpung masih hangat dan gratis tentunya hahaha..”
Baru saja Rahara ingin menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, langsung disanggah oleh Naya.
“Kamu jangan makan dulu, kan belum baca do’a Rahara putri dari bapak Irwan”
Rahara pun hanya cengengesan” hehe…aku lupa Nay, soalnya lagi lapar.”
Mereka pun langsung membaca do’a dan memulai memakan nasi gorengnya.
Mereka berdua memakan makanan tersebut dengan diam tanpa suara.
Setelah menghabiskan makanan tanpa bersisa, Rahara dan Naya langsung kembali ke kelas dan melanjutkan pembelajaran setelah istirahat.
Pukul 15.25 WIB sudah saatnya para siswa kelas 10 Mipa¹ untuk pulang, sama halnya dengan Rahara dan Naya.
“Nay, kamu udah dijemput belum?” tanya Rahara.
Naya menoleh dan menggeleng kepalanya “Belum Ra, katanya papaku jemput pukul 15.35.”
“Ouh gitu, gimana kalau kita salat Ashar di mushalla dulu aja? Sembari menunggu abi sama papa mu Nay,” usul Rahara kepada Naya.
Naya pun langsung mengiyakan ucapan Rahara dan mereka menuju ke mushalla sekolah.
Sambil berjalan menuju mushalla, Rahara teringat bahwa hari ini ada kajian dari ustad Adi Hidayat, dan dia pun mengajak Naya.
“Wahh..tentu saja aku ikut Ra, ustad Adi Hidayat kan ustad favoritku.”ucap Naya dengan senangnya.
“Baiklah Nay, kalau begitu nanti sore kita berangkat bersama ya. Sekarang kita salat ashar dulu.”
Mereka pun langsung mengambil wudhu dan melaksanakan salat.
Tepat dengan selesainya Rahara salat, abi pun menelpon dan mengatakan bahwa dia sudah sampai di pintu gerbang sekolah. Rahara pun mengajak Naya untuk segera keluar mushalla.
Sesampainya mereka di pintu gerbang, terlihatlah abi Rahara dan papa Naya yang sedang asyik berbincang.
“Assalamualaikum abi…om” sapa Rahara dengan menyalimi tangan abinya.
“Waalaikumussalam” jawab mereka kompak
“Sudah selesai salatnya ? Sekarang kita pulang ya” ucap abi kepada Rahara.
Rahara mengangguk dan berkata
“Naya, om, Rahara pulang duluan ya. Oh iya Nay, jangan lupa nanti sore kita datang ke kajian dari ustad Adi Hidayat ya. Assalamualaikum
“Waalaikumussalam ra. Baiklah nanti aku kabari,” ucap naya dan juga berpamitan untuk pulang.
Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing dan melanjutkan perjalanan pulang.
Pukul 17.00 WIB Naya menjemput Rahara ke rumahnya untuk berangkat bersama ke kajian ustadz Adi Hidayat di Masjid Agung Blangpidie.
Setelah Rahara bersiap-siap dia pun turun ke bawah dan menemui Naya yang menantinya.
“Masyaa Allah, cantik sekali sahabatku yang satu ini, dunia bakalan pangling lihat kamu ra,” Umucap Naya yang begitu takjub melihat penampilan Rahara menggunakan abaya hitam dan pashmina hitam yang dipadukan dengan tote bag nya.
“Ah, kamu mah bisa aja Nay ngomongnya. Padahal kamu lebih cantik dari pada aku” jawab Rahara yang mulai malu.
“Anak umi cantik semua, baik itu Rahara maupun Naya kan sama-sama anak umi” tiba-tiba umi datang dan menyanggah perkataan mereka.
Rahara dan Naya pun hanya bisa terkekeh dengan perkataan umi. “Ya sudah sekarang kalian berangkat terus gih, ntar macet dijalan nya lho.”
Mereka berdua pun bersalim dan berpamitan kepada umi untuk berangkat.
Setibanya di Masjid Agung Blangpidie, sudah sangat ramai orang yang ingin melihat ustadz Adi Hidayat secara langsung. Termasuk Naya dan Rahara yang merupakan salah satu fans berat ustadz Adi Hidayat.
“Sabarlah sebentar, lelah nggak papa kok yang maksiat aja capek, nanti kalo udah meninggal dunia nggak salat lagi, nggak shadaqoh lagi.
Sekarang aja cuma sebentar bakti kepada orang tua, sabar Allah titipkan kepada orang tua.
Alhamdulillah sudah sanggup merawat, doakan seperti mereka merawat kita ketika masih kecil. Itu sabar sebentar aja sampai kita kembali kepada Allah kita selesai dengan tugas itu,”
Rahara dan Naya menyimak dengan seksama penjelasan dari ustad Adi Hidayat tersebut.
Mereka juga mencatat point-point penting untuk dijadikan motivasi dalam hidup.
Mereka sadar bahwa hidup itu Cuma sebentar, maka lakukanlah hal yang bermanfaat dan tidak menyakiti orang banyak.
“Mulai saat ini aku ngak mau sakiti hati orang lain Nay, dan juga aku bakalan makin sayang sama umi dan abi.”
Naya terharu mendengar ucapan Rahara lalu memeluk nya.
“Aku sadar pendosa Ra, penampilanku ini hanya untuk menutupi aib. Allah baik banget ya nutupin aib kita, jika orang tau semua aib kita pasti tidak ada yang ingin mendekat dengan kita.” Naya pun ikut hanyut dalam perkataan nya.
Mereka berdua menjadi sorotan di sana “semoga kalian menjadi sahabat dunia dan akhirat ya dik” ucap seorang ibu-ibu yang duduk di samping Naya.
Naya dan Rahara pun sontak melepaskan pelukannya karena sangat malu diperhatikan oleh orang sekitar mereka.
Setelahnya mereka pun langsung keluar dari kajian tersebut menuju depan masjid.
Naya dan Rahara bertatapan lalu tertawa bersama mengingat betapa malunya mereka tadi.
“Nay, kok kita jadi malu ya diliatin sama orang gitu. Perasaan tadi aku nggak nangis deh, kok tiba-tiba jadi nangis habis peluk kamu.” Naya pun tertawa kembali.
“Iyalah Ra, aku ingat dosa. Kalo semisalnya nanti kamu nggak lihat aku di surga, tolong jemput aku di neraka ya Ra. Pokoknya kita harus sahabat sampai ke jannah, bukan di dunia aja.”
Rahara mengambil kedua telapak tangan Naya “bukan cuma kamu aja Nay, Rahara juga mau gitu. Makanya kita harus perbanyak ibadah dan jangan lupain seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan.”
Mereka pun tersenyum bersama dan berlari-lari kecil di masjid saling bercanda.(*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




