Puisi – Puisi Nita Juniarti

Juli 2024
Oleh: Redaksi

Oleh Nita Juniarti

Mereka bertanya tentang emansipasi

Media, mengumbar nafsu amarah
Jalanan, menyulut kemarahan
teriak-teriak membahana “emansipasi….emansipasi”
Apalagi yang mereka tuntut?
Bukankah mereka sudah boleh memanjat kelapa? Katanya emansipasi
Bukankah mereka sudah boleh berkarir?
Landasannya emansipasi.
Lalu kenapa setiap disuruh memanjat pinang mereka nyengir dengan senyum palsu “Itu pekerjaan laki-laki”
Lantas kenapa  di jalan raya, di media, di spanduk-spanduk bau busuk menyengat di simpang jalan itu diteriakkan emansipasi? Padahal teori emansipasi itu telah lama membumi. Lantas kenapa mereka masih bertanya, Kapan emansipasi berlaku?
Labil jawabannya, aneh tingkahnya, pongah gayanya bersuara, padahal buta mata,

telinga tak mengerti ucapan “annisa” dalam kalam yang maha mulia.

 

Licik

Oleh Nita Juniarti*

Bulan separuh tersenyum licik

Ia sudah menjadi penghianat

Penghianat pada waktu

Matahari menangis sedih hingga langit semerah darah

Ia terlukai oleh penghianatan bulan

 

“Apakah Aku kerasukan setan?”

Tanya bulan tetap licik

Matahari meringgis sakit

Buih senja menjadi saksi

Bulan telah berkhianat

Matahari tersakiti

Alam gelap, duka mata

*Penulis adalah pendiri Komunitas literasi, Sigupai Mambaco, Aceh Barat Daya

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist