Dengarkan Artikel
Bussairi D. Nyak Diwa
Dua minggu sudah aku berada di Banda Aceh, tepatnya di Komplek Perumahan Pegawai Kantor Gubernur, Geucue Komplek. Komplek perumahan ini tidak jauh dari terminal bus antar provinsi jalan Teuku Umar Stui Banda Aceh. Kebetulan abang iparku, yang juga abang sepupuku ini adalah pegawai kantor gubernur Aceh, jadi Beliau dapat jatah rumah cicilan. Rumahnya memang tidak besar, tapi lumayan untuk keluarga muda yang baru punya anak dua. Ada tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang tengah (ruang keluarga), satu ruang dapur, dan ada dua kamar mandi (WC). Jadi lumayanlah untuk menampung jika kebetulan ada datang saudara dari kampung atau tamu tak diduga.
Aku sendiri menempati sebuah kamar kecil di tingkat dua di atasgrasi. Kamar ukuran tiga kali empat meter ini sebelumnya adalah gudang. Dua hari setelah aku sampai di rumah ini, abang ipar menyuruhku membersihkan ruangan ini. Hampir setengah hari aku membersihkan ruangan yang penuh dengan barang-barang bekas. Setelah bersih, eh ternyata abang ipar menyuruhku untuk menempati ruangan ini. Senang juga hatiku karena mendapat kamar khusus sendirian.
Suatu pagi memasuki minggu ketiga aku berada di Banda Aceh, datang seorang tamu ke rumah. Beliau tak lain adalah adik kandung abang ipar. Jadi Beliau juga termasuk abang sepupuku. Adik keduaabang iparku ini sudah berkeluarga dan tinggal di kampung Beurawe. Beliau PNS, bekerja di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi. Aku tak tahu apa jabatan Beliau di kantor yang mengurus masalah pendidikan itu. Bang Guntur, begitu nama sapaan Beliau, sangat ramah. Hari itulah aku pertama kali bertemu dengan Beliau, tetapi seakan-akan Beliau sudah lama sekali mengenalku.
Pagi itu Beliau memintaku untuk menyerahkan surat pindah dan raport sekolahku kepadanya. Berkas yang sudah kusiapkan sejak di kampung itu kuserahkan kepada Beliau sekalian dengan mapnya. Beliau membolak-balik isi map berwarna merah muda itu, lalu mengangguk-angguk.
“Beres,” katanya kemudian.
“Ayo, berkemaslah. Sekarang kita berangkat!” serunya setengah memerintah.
Tanpa bertanya berangkat ke mana, aku segera bergegas ke kamar mengganti baju dan celana. Tadi sehabis mencuci mobil abang ipar, aku telah membersihkan tubuhku di kamar mandi. Kupilih baju dan celana satu-satunya yang masih baru. Baju warna coklat tua bergaris-garis tegak itu adalah baju yang dibeli Ibu untukku lebaran lalu. Aku sangat suka memakai baju itu, bukan hanya karena ibu yang membelinya, tetapi juga karena aku merasa sangat pas dan nyaman ketika memakainya.
Dengan mengendarai Honda Cup Astuti keluaran tahun 1978, aku diboncengi Bang Guntur menelusuri jalan kota yang ramai. Baru kali ini aku melintasi jalan besar sambil menyaksikan kota yang ramai. Tapi tak lama, kira-kira lima belas menit kemudian, kami memasuki sebuah pekarangan yang dikelilingi oleh gedung bertingkat. Di sebelah kiri gedung bertingkat itu terdapat sebuah bangunan berlantai satu. Di depannya, agak ke kiri terdapat sebuah papan nama. Aku membaca papan nama itu dengan cermat sekali, “Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Banda Aceh – Jalan Ujong Batee, Seutui Banda Aceh”.
📚 Artikel Terkait
Sekarang baru aku mengerti ke mana sebenarnya aku dibawa oleh Abang Guntur pagi ini. Ternyata aku akan dimasukkan ke sebuah sekolah menengah. Tak salah, sekolah dimaksud adalah SMA Muhammadiyah ini. Tanpa mengalami hambatan apapun kami langsung masuk ke ruang Wakil Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah yang bertubuh mungil dan hitam manis ini seperti sudah kenal akrab dengan Bang Guntur. Sambil membolak balik map yang diserahkan Bang Guntur, Beliau tersenyum kepadaku.
“Selamat menjadi warga SMA Muhammadiyah, Bussairi,” sapa Wakil Kepala Sekolah yang bernama Ismail Mahmud itu.
“Ananda akan menempati Kelas I IPA-3. Belajarnya sore hari, dari pukul 14.00 sampai dengan 18.00 WIB,” jelas Pak Is ramah sekali.
“Mulai besok Ananda sudah dapat belajar di kelas.”
Ternyata semua persyaratan untuk menjadi siswa di sekolah ini telah dipenuhi oleh Bang Guntur. Aku tak tahu kapan Beliau mengurusnya. Tapi melihat begitu lancarnya urusan aku jadi maklum bahwa Bang Guntur bukanlah orang sembarangan di kantornya.
(Bersambung)
BIODATA PENULIS
Drs. Bussairi D. Nyak Diwa atau dikenal dengan nama penaBussairi Ende, lahir di Bakongan pada 10 Juli 1965. Menyelesaikan sekolah tingkat SD dan SMP di kampung halaman Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Kemudian tahun 1983 hijrah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA hingga menyelesaikan S-1 di PBSI FKIP Unsyiah, 1991.
Menulis puisi dan Cerpen sejak duduk di bangku SMA dan terus berkembang saat berstatus mahasiswa di Kampus Unsyiah. Bersama kawan-kawan mahasiswa pernah mendirikan Surat Kabar Mahasiswa Unsyiah Monumen pada tahun 1989 dan Majalah Kalam FKIP Unsyiah tahun 1990, lalu menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Mahasiswa dan alumni FKIP Unsyiah itu. Pernah memimpin Teater Gemasastrin dan menjadi Ketua Umum Gemasastrin (Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia) FKIP Unsyiah Periode 1988 – 1992. Hingga saat ini baru menghasilkan dua Kumpulan Puisi Tunggal, empat Kumpulan Puisi Bersama, dan satu Kumpulan Cerpen Tunggal.
Pernah memenangi beberapa Lomba Menulis, diantaranya Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Depdiknas tahun 2009, Juara III Lomba Menulis Buku Pengayaan Pusbuk Depdiknas, tahun 2010, mendapat penghargaan dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Depdiknas, tahun 2011, dan lain-lain.
Selama menjadi guru pernah meraih beberapa penghargaan dan prestasi, diantaranya Penghargaan Sebagai Guru Pelopor IPTEK dari LIPI tahun 2007, Penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Nasional dari Bupati Aceh Selatan tahun 2011, Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Aceh Selatan tahun 2010, Juara Harapan II Guru Mata Pelajaran Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh tahun 2016. Saat ini menjadi Koordinator Daerah IV Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Provinsi Aceh dan menjadi Kepala Sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Aceh Selatan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





